Namanya Cika dia seorang gadis mungil, imut, berfoni dan berwajah putih, berusia 17 tahun. Selama masa pandemi, dirinya di dera oleh suasana kebosanan. Dunia seolah berubah bagi Cika sepertinya dunia tidak menawarkan rasa manis lagi.
Pada suatu hari Cika menatap Jam dinding, detik-detik sore akan segera tiba, Cika mengalihkan pandangan kepada layar hp yang terus menggodanya untuk main Instagram, hingga dia berhenti pada sebuah gambar layar kotak yang berisi balutan keju, coklat, susu, dan buah-buah an berwarna warni. Apa sih namanya makanan ini, dia terus bertanya pada dirinya sendiri yang sudah terlanjur tergoda untuk membeli, akhirnya dia memutuskan untuk memesan 1 kotak dengan toping keju besar.
Aku mencoba menghubungi owner nya, lewat chat di Instagram.
“Aku tidak sabar menunggu”,
cetusnya di dalam hati, tapi dirinya harus menunggu 5 hari pembuatan. Karena Cika mendapatkan pesanan nomor ke 5673.
Beberapa hari kemudian.
Terdengar suara merdu yang mengetuk pintu Rumah Cika. Cika dengan cepat membuka pintu tersebut.
Matanya menatap tajam laki-laki yang menggunakan Hodie Hitam, Celana Jeans berwarna hitam, memakai Sneakers cream, tinggi badannya sekitar 170 cm, tubuhnya sangat tegap, dada bidang, alisnya tebal, matanya cerah berwarna kecoklatan, model rambutnya undercut dan hidungnya mancung.
“Atas nama Cika”..
Dia memanggil nama Cika sembari melepas masker yang di kenakannya, senyumnya begitu manis seperti mau membuat siapa saja akan terkena diabetes, ketika melihat senyum melingkar dibibirnya, sangat manis dibanding glukosa.
“Iya aaatas nama Cika, saa aa ya sendiri”,
Cika menjawab dengan nada cepat tapi tersendat-sendat, jantungnya tidak bisa berbohong, tatapan matanya membuat terpana, detak jantung tidak berdetak dengan batas ke normalan.
“Ini pesanan Cika, saya ingin mengantarkan salad buah ini”.
“Namanya Salad, rasanya pasti maa niskan” tanya Cika.
“hehe iya karena, Kami belum pernah memproduuksi Salad dengan rasa Masam dan Pahit”
Yang ngantar Salad udah manis, padahal belum mencoba gimana rasanya, ah aku ke hilangan topik pembicaraan, laki-laki ini membuat konsentrasi ku buyar, gak punya referensi ngobrol panjang lagi. Bicara Cika di dalam hati.
Mulut Cika hanya bisa mengucapkan 1 kalimat indah, Terima Kasih.
Laki-laki tersebut, pulang tak tertinggal sesuatu terakhir yang membuat berkesan, dia melempar senyum kembali.
Cika, Tiba-tiba langsung ke Kamar.
“Rasanya ingin sekali aku foto, ku pajang senyum manis darinya, biar setiap aku minum teh manis tidak perlu menggunakan gula, tentu hemat bukan, hanya dengan mengingat senyumanya, yang ku lihat di dinding”.
Dunia seakan di hujani oleh puluhan pelangi. Aku beranjak naik ke loteng menatap biru langit, sambil mengunyah salad. Mood ku benar-benar berubah, Salad ini benar-benar mengalihkan ke jenuhanku. Aku melihat ada sebuah tulisan di Kotak Salad ini yang mencantumkan nama Toko, mereka memproduksi ada sekitar 50 macam variasi dari Salad Buah yang dijual.
Ternyata toko tersebut tidak jauh dari ke Ramaian Kota.
Aku penasaran ingin membeli Salad Buah kembali, sembari mengharapkan bertemu dengan laki-laki yang mengantarkan Salad di depan Rumahku tadi. Minggu pekan, aku memutuskan untuk pergi ke Toko Salad Buah tersebut.
Aku mengajak Ceri, teman satu Sekolahku untuk pergi ke Toko. Sesampainya di sana, aku menarik panjang nafas, melangkah maju depan pintu Toko. Setelah ku cek kembali nama toko, persis seperti yang tertera di Kotak.
Tiba-tiba, aku mendengar ada suara langkah kaki yang menghampiriku dari belakang.
“ada yang bisa saya bantu”. .
Suara ini tidak asing lagi dari memori otak ku, sepertinya aku pernah mendengar suara ini.
Bersambung>>
0 komentar:
Posting Komentar