Sudah lama tidak berbagi tulisan di blog ini, Wardah dengan nama pena Yokina Shenmi, ingin berbagi tulisan dari sudut pandang kacamata Filsafat, Psikologi & agama Islam.
Sumber: Gambar hasil AI.
Kemiskinan tidak muncul dari berkurangnya harta, melainkan dari bertambahnya keserakahan dan hasrat manusia, menurut plato.
Pada tulisan singkat ini penulis mengulas seputar, warisan kemiskinan, bagaimana pola dan cara mencegahnya agar tidak menyebar ke generasi berikutnya.
Tidak ada satu orangpun dari satu generasi ingin diwariskan kemiskinan secara mental maupun materi, selain menjadi beban emosional menjadi tamparan kegagalan lingkungan keluarga.
Mata rantai kemiskinan (vicious cycle of poverty) sebuah jebakan struktural dan psikologis yang membuat seseorang sulit keluar dari garis kemiskinan, meskipun mereka terus bekerja keras setiap hari.
Berikut pola jebakan kemiskinan tanpa disadari setiap hari oleh jutaan orang:
1. Lingkaran Setan Gali Lobang Tutup Lubang (Paycheck to Paycheck)
Fenomena bekerja hari ini, menghabiskan gajinya hari esok, merupakan ketidakmampuan menahan sesuatu untuk menyisihkan tabungan dan dana darurat. Contoh: Ketika HP rusak, tanpa memiliki dana simpanan akhirnya memilih mengambil cicilan dengan riba, yang bunganya bisa mencekik sewaktu-waktu jika tidak bisa bayar, belum sempat memikirkan makan besok, uangnya sudah habis duluan, dengan pola yang sama, akhirnya tidak pernah tercukupi.
Dalam agama Islam juga dijelaskan bahwasanya riba salah satu faktor kemiskinan.
Hilangnya Berkah akibat Kemaksiatan: Praktik ekonomi haram seperti riba digambarkan akan menghancurkan ketahanan finansial
(QS. Al-Baqarah: 276).
2. Makan asal Kenyang soal Nutrisi dikesampingkan
Sumber foto: AI
Makanan yang diserap selalu kalah oleh kuantitas nutrisi, di atas piring bagi keluarga miskin, nutrisi sangat sederhana apa yang mereka suap, yang penting kenyang dan bertenaga.
Makan karbohidrat murah seperti nasi porsi raksasa, mie instan, dan gorengan. Saat tumbuh seorang anak, akan kesulitan bersaing di dunia kerja karena nutrisi yang kurang membuat daya tangkap juga tidak sepadan. Mereka dipaksa kembali ke sektor dunia kerja dengan upah rendah, sehingga memperpanjang mata rantai kemiskinan ke generasi selanjutnya.
3. Mental Miskin dan Pelit.
Ada orang miskin yang mentalnya juga miskin, pelit kepada 2 hal ini, lebih memprioritaskan yang lain.
Berbeda jauh dari pandangan orang China dalam mengelola uang, mereka membangun peradaban memprioritaskan 2 hal.
- Makanan yang sehat
- Pendidikan yang berkualitas.
Dalam budaya Tionghoa (Chinese financial philosophy), makanan sehat dan pendidikan berkualitas bukan dianggap sebagai "pengeluaran boros", melainkan sebagai investasi paling mujarab. Dua hal inilah menjadi faktor mesin utama, pemutus mata rantai kemiskinan antargenerasi mereka.
KESIMPULAN
Mata rantai kemiskinan ialah jebakan struktural dan psikologis yang diwariskan karena pola hidup yang salah, bukan seputar kekurangan harta. Rantai kemiskinan terjadi karena kebiasaan gali lubang tutup lubang (utang riba), pengabaian nutrisi demi kenyang semata, serta rendahnya pemahaman prioritas investasi pada kesehatan dan pendidikan.
Untuk memutuskannya, diperlukan perubahan pola pikir untuk memprioritaskan nutrisi berkualitas dan pendidikan sebagai investasi utama, bukan beban pengeluaran.
Inilah gambaran semangat keluarga untuk keluar dari mata rantai kemiskinan.