Sedikit Cerita dari 2 Nenek-ku yang Hebat. Aku memiliki 2 Nenek yang 1 disiplin dan memiliki ambisi, yang ke 2 sangat penyayang dia menyayangi keluarganya lebih dari menyayangi dirinya sendiri.
Memiliki pendidikan yang tinggi adalah sebuah kemewahan pada zaman dulu, kemewahan itulah yang Nenek-ku berikan kepada kedua putranya, sedangkan bagi Nenek-ku yang kedua bisa makan-makan yang layak dan enak adalah sebuah kemewahan untuk ke 8 orang anaknya.
Mamaku pernah bercerita memiliki adik yang banyak membuat mereka saling bergantian jualan keliling untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup, hampir rata-rata hanya memiliki Ijazah setingkat SMP. Mamaku pernah bercanda kepada ayah, jika dulu aku punya kesempatan sekolah lebih tinggi, sepertinya mama lebih pintar dari pada ayah, ujar mama sembari bercanda, walaupun sebenarnya kata-kata itu hanyalah ungkapan sedikit kekecewaan karena tidak memiliki kesempatan pendidikan yang sama pada zaman dulu.
Nenek-ku yang kedua sangat penyayang selain itu orang yang paling gemar bersyukur yang aku temui seumur hidup, waktu kecil dia sering memberiku uang walaupun hanya untuk membeli garam dan gula diwarung, itupun aku bisa lupa membelikan garamnya, hanya membawa pulang gula yang membuat nenek ku cukup rugi memiliki cucu sepertiku.
Nenek-ku yang pertama dia mungkin tidak memberi upah uang untuk aku ke warung, tapi dialah yang mendukung kedua putranya melanjutkan sarjana S1, untuk mengambil gelar S.Pd dan membelikan motor, saat itu aku masih sekolah MI atau setingkat SD, Nenek-ku yang pertama adalah orang yang melatihku untuk mengembalikan uang 500 perak saat dulu aku meminjam.
Bagi nenek ku yang pertama kita harus mandiri dan disiplin, ketika meminjam sekecil apapun kita harus mengembalikannya. Aku masih ingat ketika almarhum kakek-ku lebih dulu wafat, nenek-ku yang pertama tetap produktif menjual hasil kebunnya seperti jeruk nipis untuk dijualnya tiap pasar rabu. Dia tidak malu apalagi gengsi dan masih produktif menghasilkan uang diusia senja.
Nenek-ku yang pertama sangat pandai mengelola uang, dia seperti Morgan Hausel penulis buku tentang psikologi keuangan, yang memprioritaskan kebahagiaan jangka panjang. Jadi tidak heran bisa membangun 2 rumah, satu rumahnya ditempati kami, yang satu dibangun sewaktu ayah dan mamaku baru menikah, beliau juga mampu menabung untuk berangkat Haji ke tanah suci, memiliki banyak tanah hingga mampu menjual hasil kebun. Jika usianya masih panjang, nenek-ku yang pertama akan berangkat kembali ke tanah suci menunaikan Haji yang kedua kalinya.
Bagi nenek ku yang pertama, dia menunda kesenangan terhadap uang cukup lama untuk memberikan kebahagiaan jangka panjang bagi anak-anak dan cucunya, bagi nenek-ku yang kedua ia selalu memberikan kasih sayang dalam bentuk apapun tanpa sisa kepada anak dan cucunya.
Aku sangat beruntung memiliki dua nenek yang hebat dan menjadi teladan, tanpa nenek yang pertama aku tidak mungkin bisa mengikuti bagaimana caranya menahan puluhan juta hanya untuk memiliki ambisi punya usaha jamgka panjang dari rumah, tanpa hutang, pinjaman, tanpa nenek-ku yang kedua aku mungkin tidak tau bagaimana caranya bersyukur dari apapun yang kita punya, bagaimana cara nenek-ku menyayangi kami tanpa membeda-bedakan.