Sabtu, 30 Mei 2026

Menatap Dunia Lewat Mata Nenek


Sedikit Cerita dari 2 Nenek-ku yang Hebat. Aku memiliki 2 Nenek yang 1 disiplin dan memiliki ambisi, yang ke 2 sangat penyayang dia menyayangi keluarganya lebih dari menyayangi dirinya sendiri.

      Memiliki pendidikan yang tinggi adalah sebuah kemewahan pada zaman dulu, kemewahan itulah yang Nenek-ku berikan kepada kedua putranya, sedangkan bagi Nenek-ku yang kedua bisa makan-makan yang layak dan enak adalah sebuah kemewahan untuk ke 8 orang anaknya.

      Mamaku pernah bercerita memiliki adik yang banyak membuat mereka saling bergantian jualan keliling untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup, hampir rata-rata hanya memiliki Ijazah setingkat SMP. Mamaku pernah bercanda kepada ayah, jika dulu aku punya kesempatan sekolah lebih tinggi, sepertinya mama lebih pintar dari pada ayah, ujar mama sembari bercanda, walaupun sebenarnya kata-kata itu hanyalah ungkapan sedikit kekecewaan karena tidak memiliki kesempatan pendidikan yang sama pada zaman dulu.

     Nenek-ku yang kedua sangat penyayang selain itu orang yang paling gemar bersyukur yang aku temui seumur hidup, waktu kecil dia sering memberiku uang walaupun hanya untuk membeli garam dan gula diwarung, itupun aku bisa lupa membelikan garamnya, hanya membawa pulang gula yang membuat nenek ku cukup rugi memiliki cucu sepertiku.

      Nenek-ku yang pertama dia mungkin tidak memberi upah uang untuk aku ke warung, tapi dialah yang mendukung kedua putranya melanjutkan sarjana S1, untuk mengambil gelar S.Pd dan membelikan motor, saat itu aku masih sekolah MI atau setingkat SD, Nenek-ku yang pertama adalah orang yang melatihku untuk mengembalikan uang 500 perak saat dulu aku meminjam. 
     Bagi nenek ku yang pertama kita harus mandiri dan disiplin, ketika meminjam sekecil apapun kita harus mengembalikannya. Aku masih ingat ketika almarhum kakek-ku lebih dulu wafat, nenek-ku yang pertama tetap produktif menjual hasil kebunnya seperti jeruk nipis untuk dijualnya tiap pasar rabu. Dia tidak malu apalagi gengsi dan masih produktif menghasilkan uang diusia senja.

   Nenek-ku yang pertama sangat pandai mengelola uang, dia seperti Morgan Hausel penulis buku tentang psikologi keuangan, yang memprioritaskan kebahagiaan jangka panjang. Jadi tidak heran bisa membangun 2 rumah, satu rumahnya ditempati kami, yang satu dibangun sewaktu ayah dan mamaku baru menikah, beliau juga mampu menabung untuk berangkat Haji ke tanah suci, memiliki banyak tanah hingga mampu menjual hasil kebun. Jika usianya masih panjang, nenek-ku yang pertama akan berangkat kembali ke tanah suci menunaikan Haji yang kedua kalinya.

     Bagi nenek ku yang pertama, dia menunda kesenangan terhadap uang cukup lama untuk memberikan kebahagiaan jangka panjang bagi anak-anak dan cucunya, bagi nenek-ku yang kedua ia selalu memberikan kasih sayang dalam bentuk apapun tanpa sisa kepada anak dan cucunya.

Aku sangat beruntung memiliki dua nenek yang hebat dan menjadi teladan, tanpa nenek yang pertama aku tidak mungkin bisa mengikuti bagaimana caranya menahan puluhan juta hanya untuk memiliki ambisi punya usaha jamgka panjang dari rumah, tanpa hutang, pinjaman, tanpa nenek-ku yang kedua aku mungkin tidak tau bagaimana caranya bersyukur dari apapun yang kita punya, bagaimana cara nenek-ku menyayangi kami tanpa membeda-bedakan.
Continue reading Menatap Dunia Lewat Mata Nenek

Jumat, 15 Mei 2026

Bagaimana Mata Rantai Kemiskinan itu Terjadi?


Sudah lama tidak berbagi tulisan di blog ini, Wardah dengan nama pena Yokina Shenmi, ingin berbagi tulisan dari sudut pandang kacamata Filsafat, Psikologi & agama Islam.
 
Sumber: Gambar hasil AI.

Kemiskinan tidak muncul dari berkurangnya harta, melainkan dari bertambahnya keserakahan dan hasrat manusia, menurut plato.

Pada tulisan singkat ini penulis mengulas seputar, warisan kemiskinan, bagaimana pola dan cara mencegahnya agar tidak menyebar ke generasi berikutnya.

Tidak ada satu orangpun dari satu generasi ingin diwariskan kemiskinan secara mental maupun materi, selain menjadi beban emosional menjadi tamparan kegagalan lingkungan keluarga.

Mata rantai kemiskinan (vicious cycle of poverty) sebuah jebakan struktural dan psikologis yang membuat seseorang sulit keluar dari garis kemiskinan, meskipun mereka terus bekerja keras setiap hari.

Sumber : Pinterest 

Berikut pola jebakan kemiskinan tanpa disadari setiap hari oleh jutaan orang: 

1. Lingkaran Setan Gali Lobang Tutup Lubang (Paycheck to Paycheck)

Fenomena bekerja hari ini, menghabiskan gajinya hari esok, merupakan ketidakmampuan menahan sesuatu untuk menyisihkan tabungan dan dana darurat. Contoh: Ketika HP rusak, tanpa memiliki dana simpanan akhirnya memilih mengambil cicilan dengan riba, yang bunganya bisa mencekik sewaktu-waktu jika tidak bisa bayar, belum sempat memikirkan makan besok, uangnya sudah habis duluan,  dengan pola yang sama, akhirnya tidak pernah tercukupi.

Dalam agama Islam juga dijelaskan bahwasanya riba salah satu faktor kemiskinan.

Hilangnya Berkah akibat Kemaksiatan: Praktik ekonomi haram seperti riba digambarkan akan menghancurkan ketahanan finansial 
(QS. Al-Baqarah: 276). 

2. Makan asal Kenyang soal Nutrisi dikesampingkan 

Sumber foto: AI

Makanan yang diserap selalu kalah oleh kuantitas nutrisi, di atas piring bagi keluarga miskin, nutrisi sangat sederhana apa yang mereka suap, yang penting kenyang dan bertenaga. 

Makan karbohidrat murah seperti nasi porsi raksasa, mie instan, dan gorengan. Saat tumbuh seorang anak, akan kesulitan bersaing di dunia kerja karena nutrisi yang kurang membuat daya tangkap juga tidak sepadan. Mereka dipaksa kembali ke sektor dunia kerja dengan upah rendah, sehingga memperpanjang mata rantai kemiskinan ke generasi selanjutnya.

3. Mental Miskin dan Pelit.

Ada orang miskin yang mentalnya juga miskin, pelit kepada 2 hal ini, lebih memprioritaskan yang lain.

Berbeda jauh dari pandangan orang China dalam mengelola uang, mereka membangun peradaban memprioritaskan 2 hal.

- Makanan yang sehat
- Pendidikan yang berkualitas.

Dalam budaya Tionghoa (Chinese financial philosophy), makanan sehat dan pendidikan berkualitas bukan dianggap sebagai "pengeluaran boros", melainkan sebagai investasi paling mujarab. Dua hal inilah menjadi faktor mesin utama, pemutus mata rantai kemiskinan antargenerasi mereka.


KESIMPULAN

Mata rantai kemiskinan ialah jebakan struktural dan psikologis yang diwariskan karena pola hidup yang salah, bukan seputar kekurangan harta. Rantai kemiskinan  terjadi karena kebiasaan gali lubang tutup lubang (utang riba), pengabaian nutrisi demi kenyang semata, serta rendahnya pemahaman prioritas investasi pada kesehatan dan pendidikan. 

Untuk memutuskannya, diperlukan perubahan pola pikir untuk memprioritaskan nutrisi berkualitas dan pendidikan sebagai investasi utama, bukan beban pengeluaran. 

Inilah gambaran semangat keluarga untuk keluar dari mata rantai kemiskinan.

Continue reading Bagaimana Mata Rantai Kemiskinan itu Terjadi?