Kamis, 05 November 2020

Perjalanan dari Seorang Santriwati di Pesantren hingga Kuliah Memperoleh Beasiswa.

Ayah dan Ibu adalah Malaikatku
Jika saja ku durhaka mendewakan kehendak
Wardah pasti tak dapat bernafas bahagia untuk bergerak.
Ketulusan dan cinta kasih teramat membawa rahmat
Semoga daku dan kedua orang tuaku bahagia dunia dan akhirat

Pesantrean sebuah sekolah yang tidak ada bayangannya di hadapanku, hingga bisa menjadi dari bagian dari deretan para ratusan santriwati disana. Kini identitasku sebatas siswi MTS atau setara dengan SMP, bertransisi menjadi seorang santriwati. Masih saja aku ingat gelang karet yang melingkar pada dua pergelangan tanganku, kegemaran memakai aksesoris yang tidak berharga menumpuk ditangan, sempat menjadi sorotan tajam oleh kalangan santriwati di teras Kelas. Entahlah apa yang di pikirkan mereka, rupanya pernak-pernik yang ku gunakan tidak sejalan dengan kenormalan wanita pada umumnya. Hari pertama untuk mendaftar berat sekali hati ini apalagi langkah kaki, tiba disana untuk mengisi formulir, memesan baju seragam serta melihat anggaran dana yang akan di keluarkan. 
Tidak ada rasa kebahagian yang tergambar pada raut wajahku, ingin sekali Wardah kecewa atas impian orang tua agar Wardah melanjutkan ke Pesantrean. Ingin rasanya berprilaku yang tidak-tidak di hadapan orang tua, tetapi rasanya aku begitu durhaka. Terbiasa manja dirumah adalah pekerjaan yang hanya menyusahkan orang tua, kebiasaan ini tidak akan ku terapkan lagi di Pesantrean. Suasana dirumah tanpa kata ngantri beeubah ketika ku berada disana, harus ngantri suatu kewajiban mau makan, mandi, bahkan sekedar untuk menyuci. 
Malam itu awal perkenalanku bersama seorang gadis imut, wajahnya begitu bulat seperti bola pimpong, matanya tajam berwarna hitam menyorotku agar bersebelahan bersamanya, kami bertukar perkenalan diri. Telah ia berikan identitas dirinya, tak terasa larut malam menerpa rasa ngantukpun mulai menyapa. Oborolan-obrolan manis dan indah tidak lagi terdengar, dinginnya malam mulai bersemayam. Sebelum azan subuh kami mulai terbangun, hamparan manusia seperti ikan teri dikamar Asrama, porak-poranda bergegas mandi dan kemushola. Aku mungkin sudah menceritakan sebelumnya bagaimana perjalanan awalku di.

 https://millenial-inspirasi-id.blogspot.com/2020/01/mawar-yang-mekar-dari-bullyan.html 



Diary
20-24 Desember 2016 Pesantrean Putri At-Thohiriyah

Kilatan langit memotret indahnya malam, terbang melayang dedaunan kesana-kemari hingga jatuh kedasar tanah. Hujan mulai mereda aku ingin pulang, serasa bosan tiap hari menyelimuti kejenuhan, namun aku harus berusaha sabar sebentar lagi akan datang musim libur panjang. Aku belum mengepakan sayapku, ku masih berada disini belum kemana-mana. Ku ingin memulainya dari sekarang dapat menjangkau pelosok-pelosok menjadi seseorang yang berarti, semua cerita hidup-ku, tuk malam ini. Kapan-kapan aku ingin terbang bebas seperti burung membawa pundi-pundi kebahagian. 
    Hanya sebatas kertas sobat yang Wardah miliki, lembaran kertas putih berbalut sampul garis-garis. Menjadi buku pelengkap keberadaanku. Setiap raganya kesana-kemari menginjak bumi, semakin hari kehidupan di penjara suci (pesantrean) tidak terlewatkan dengan tumpukan tulisan-tulisan kecil. Kecewa sedih, suka, maupun duka semua bercampur aduk, mesti tak seperti gado-gado. Menyempatkan waktu untuk menulis, bila tidak siang, maka malam.
Indahnya nuansa Pesantrean baru terasakan setelah tahun ke-2 tepatnya saat berada di bangku kelas 2 Aliyah, Wardah lebih akrab dengan temannya bernama Maya teman pandangan pertama berkenalan di Asrama. Ada kejadian yang tidak akan pernah di lupakan seumur hidup, aku pernah sempat meloloskan diri dari keramaian pagar Pesantrean, berjalan sekitar 15 Km, jaraknya bagaikan lomba lari maraton. Untuk berusaha kabur dan kembali kerumah. Andaikan saja waktu itu telah ada Gojek Online lebih bagus menggunakan jasanya agar tidak menguras banyak tenaga. Banyak tidak percaya mengenai kejadian ini, namanya juga waktu hati terbawa emosi apapun bisa terjadi. Masalah kecil waktu itu hanya sebatas tidak mendapat dukungan dari teman, ia mengannggap aku sosok tidak bisa diandalkan. Menyayat hati saat ada pada titik rasa diskriminasi. Permasalahan tersebut bukan permasalahan serius waktu itu, hanya aku terlalu mengambil hati, seakan pikiran buntu sejadi-jadi. Perjalanan membawa bungkusan emosi dan kekesalan itu sampai ke Istina sederhana yaitu rumah orang tua, anak wanita memang cengeng baru datang telah mengguyurkan banjir air mata kepada ibunya. Ibu bidadari surgaku hampir tidak karuan melihat putrinya datang tiba-tiba, dengan raut muka penuh kesedihan. Ibu mendekam memeluk erat tubuhku seperti ingin menyampaikan sebuah sesuatu dengan isyarat hati, apa sekiranya beban yang kamu pikul nak, sehingga membuatmu lari dari Pesantrean. Tidak ada rangkaian kata menggambarkan isi hati, untuk wardah ucapkan kepermukaan, lidah ini hanya mampu memerintahkan untuk membenci segala sesuatu di Pesantrean, kemungkinan saat itu setan atau semacamnya membisikanku, agar aku secepatnya pindah sekolah.  
Wajah Ibu telah menampakan keluluhanya, walau aku tau beliau orang yang keras kepala, prihal untuk kebaikan pendidikan anaknya. Ibuku merupakan seorang gadis yang dulu hanya berlulusan Sltp. Kerap kali beliau bercerita ingin berusaha melanjutkan pendidikan tetapi tidak ada biaya terhalang pada permasalahan finansial dan banyaknya adik yang harus dibiayai oleh orang tua. Sepertinya Wardah pada waktu itu semacam makluk di permukaan ini tidak mensyukuri nikmat pendidikan yang telah di berikan Allah Swt. Ayah tetap tegas agar Wardah tetap kembali ke Pesantrean. Setelah berjalanannya waktu, Wardah bisa menghadapi permasalahan-permasalahan kecil, Wardah tidak lagi mengambil hati mengenai perkataan kotor yang kadang suka dilemparkan kepadaku, hingga akhirnya kelulusan, Ustadzah memintaku untuk membawakan Pidato terakhir sebagai Santriwati yang Meninggalkan mewakili Santriwati yang akan lulus pada tahun 2017. Berakhirnya Pidato terakhir yang ku bawakan di Pesantren, mampu mengambil hati penonton, ada beberapa orang yang ku lihat menyisakan tangis, karena hari ini akan menjadi hari terakhir kebersamaan kami terukir. Pengalaman beharga ini, sebagai catatan sejarahku berada di Pesantren walaupun awalnya berbagai pengalaman buruk menimpaku dan mencemarkan nama di awal perjalanan, namun akhirnya diri ini mampu berada di akhir kelulusan menutup dengan prestasi. Perjalanan belum berakhir, aku memutuskan untuk Kuliah di sebuah Universitas di Kalimantan Selatan. Hatiku jatuh hati dengan UIN Antasari Banjarmasin.

Pertama kali berniat Kuliah untuk mengambil Jurusan dengan basic agama, menoreh perhatian kurang baik dari keluarga kemungkinan karena Prospek kerja yang kurang nyata dan tidak banyak peminatnya. Niatku sendiri hanyalah ingin belajar melukiskan cita-citaku di jurusan ini. Ku rasa rezeki setelah aku lulus kuliah telah Allah Swt jamin, selagi aku bertawakal kepada-nya. Langkah dan niat ini membawaku ke kampus Islam, terkenal di Kalimantan Selatan yaitu UIN Antasari Banjarmasin. Hari itu Wardah ingat sekali untuk pertamakalinya membuka surat pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT), saat lembaran tulisan angka itu mewakili pembayan kuliah persemster, hari itu Allah berkehendak lain uang yang Ayah pinjam dari nenek pas-pasan apabila ku memaksakan kehendak berkemungkinan biaya kos dan kehidupanku di kampus tidak akan cukup di sebabkan habis untuk membayar UKT, langkahku mulai mundur dan Ayah mengajak-ku untuk kuliah di sebuah kampus Swasta yang lebih murah. Anganku mulai pudar untuk dapat berkuliah di sana, keinginan kuat-ku tidak mematahkan semangat kuliah. Sesampai ditempat kampus swasta aku dan Ayah mampir terlebih dulu di Mesjid Jam’i Banjarmasin untuk Sholat, sesudah sholat ku berdo’a kepada Allah untuk memberikan jalan terbaik, andaikan aku berkuliah di tempat ini mungkin telah Allah garis besarkan hal demikian terbaik untuk-ku. Ku berusaha menenangkan egoku dengan berprasangka baik kepada Allah Maha Kuasa. 
Sungguh ada hal yang langsung menakjubkan seketika hati ini cerah kembali, teman Ayah menelp untuk membantu biaya kuliah ku, benar-benar hal ini sangat menakjubkan tidak ku sangka, rencana Allah sangatlah indah dan jauh lebih indah. Ku goreskan langkahku selanjutnya untuk mengikuti Beasiswa Bidikmisi, aku bersungguh-sungguh optimis jika itu rezekiku kiat dan ulet ku lakukan walau aku tau untuk sebuah nilai rapot yang ku miliki tidak sebagus nilai mereka, aku ketika itu mulai insecure, karena para peserta yang mendaftar diri, rata-rata selalu mendapatkan ranking 3 besar di sekolahnya. Salah satu syarat kelengkapannya adalah sertifikat dan piagam lomba yang menjadi pertimbangan besar. Dari ratusan peserta mengikuti beasiswa mataku melotot terkejut benarkan diri ini bersaing dengan mereka, beberapa persyaratan yang lain menoreh perhatian lebih sehingga harus dipersiapkan sebaik mungkin. Tanpa keluhan ku jalani do’a dan sholat Dhuha ku lakukan. Tak luput do’a mustajab orang tua menyertaiku. Keinginan besar ini untuk membahagiaka dan meringankan beban mereka. 
Setelah seleksi ketiga alhamdulillah dari 3 orang yang mendaftar di jurusan, kami lulus semua dari ratusan mahasiswa baru yang mendaftar. 
Dari sebuah cerita pendek dari perjalanan ini, mengajarkan hidup memang terkadang tak selalu harus sesuai dengan keinginanmu, selalu ada masalah, namun masalahlah yang membawa pengalaman dan pengalaman yang membawa kebijaksanaan.
Kamu dapat berprestasi semenjak pengalaman buruk menghamipiri
Bukan tak mungkin, lakukan keajaibanmu sekarang...

Terimakasih ya Allah, Abah, Mama dan Keluarga Wardah.


0 komentar:

Posting Komentar