Kekuatan gotong royong merupakan budaya Neneng moyang yang selalu kami aplikasikan bukan hanya pada waktu kuliah tapi juga ditengah masyarakat. Desaku salah satu yang tidak terdampak Banjir kala itu awal Januari, tempatnya berada di Kabupaten Barito Kuala, setelah berakhir cuaca buruk itu bisa dilewati, namun pada awal Desember ditahun yang sama keadaan serupa mulai nampak lagi terjadi akibat curah hujan semakin tinggi
Malam pada tanggal 5 Desember 2021 pukul 00:00 ayah menghubungi rumah kami terkena banjir.
Fenomena ini dimana air laut mengalami puncak pasang yang sangat tinggi, sehingga air sungai tidak bisa mengalir sampai ke laut justru harus menampung debit air laut yang menambah pasang air sungai hingga menyentuh daratan. Fenomena alam ini dinamakan La Nina dan bisa bertambah parah saat terjadinya curah hujan yang tinggi.
Sorenya setelah aku datang dari kampus, aku langsung menuju untuk pulang ke kampung halaman sembari membantui bersih-bersih rumah dan semua yang aku bisa.
Sebagai petani kedua orang tuaku menjemur padi dari hasil panen yang terkena air akibat banjir, sudah ku lihat dua hari ini dari pagi mereka sama-sama menjemur padi, membuat tempat agar aman dari banjir dan mengangkat kembali padi yang telah dijemur, bukankah itu melelahkan? tentu jangan ditanyakan.
Pagi sekitar jam 09:00 WITA ayah kembali ke sekolah untuk mengajar dan mama mencuci pakaian yang terkena banjir. Siang harinya kembali memperhatikan padi yang dijemur kebetulan cuaca panas hingga sore hari, semua bisa dijemur pada hari itu juga, sebelum akhirnya di angkat lagi untuk disusun ulang agar terhindar dari Banjir.
Setiap malam tidak dapat di predeksi secara akurat berapa kenaikan debit air dari laut menuju daratan, namun pencegahan tetap dilakukan agar tak terjadi hal yang tak di inginkan, bukankah ini bentuk ikhtiar yang tuhan perintahkan.
Sesuatu yang tak dapat kita rubah seperti cuaca & iklim, yang bisa kita kendalikan buat tenang pikiran kita pikir yang positif terus :D
0 komentar:
Posting Komentar