Setelah beranjak dewasa sepintas ku melihat rumus dunia semakin terbuka. Sewaktu ku kecil aku seakan menjadi anak perempuan yang paling bahagia di dunia, bagaimana tidak sebagaimana seorang anak pada umunya aku sangat aktif bahkan hiperaktif dalam bermain dan belajar. Aku mempunyai 3 sahabat mereka bertetangga dekat denganku, namanya Rabiah. Arba’i, dan Nor Halimah. Urusan bermain akulah jagonya mengonsep, terkadang aku bermain hingga lupa waktu. Dari ketiga sahabatku, akulah paling tua diantara mereka namun tubuh kecilku ini hampir menandakan sepantaran dengan usia mereka. Rabi’ah adalah sosok anak perempuan periang, ramah, pemurah dan penolong. Karena sifat baiknya tersebutlah banyak orang yang menyukai bergaul dengannya, termasuk juga aku. Ada-ada saja hal yang kami lakukan, biasanya akulah dalangnya seperti membuat video komat kamit dengan lagu Keong Racun atau menari ala-ala Cherybell. Kalau Imah adalah sosok anak yang suka meraju tak bisa dibuat bercanda, biasanya yang usil aku dan Arba’i yang suka membuatnya menangis, setelah dia remaja bagiku dia malah terlihat dewasa dari sifatnya ketimbang aku. Terakhir Arba’i bisa ditebak bukan orangnya usil, terkesan polos padahal anak ini suka jahil dan dia senang melawak, walau lawakannya garing gak lucu, namun ia memiliki suara emas yang menakjubkan yang sering mensyairkan lagu Arab.
Berjalannya waktu, aku memutuskan ke Pesantrean sedangkan Rabi’ah dan Imah satu sekolah yang jaraknya sekitar 6 Km dari rumah. Kalau Arba’i memutuskan untuk merantau ke Pesantrean yang jauh dari kampung halaman, mungkin ia ingin mencari suasana baru dari lingkungan belajar agama yang lebih kondusif.
Aku sekarang Kuliah sedangkan sahabatku yang lain masih Sekolah Menengah Atas, siapa yang tahu kehidupan seiring perpindahan waktu. Rabi’ah yang masih berusia 16 tahun dikabarkan meninggal dunia hanya karena sakit yang dideritanya selama tak lebih dari satu minggu, Ibunya terpukul parah karena tidak mampu menahan kesedihan yang terjadi secara dadakan. Aku memutuskan pulang dan mengunjungi ke makamnya. Tangisanku seketika menetes ke Tanah, aku bersama adik-ku.
“Sauki taukan bahwa almarhumh teman kaka ini, usianya masih muda, namun Allah ambil nyawa manusia tak mengenal batasan usia, mau muda ataupun tua.
Adik ku yang baru berusia 8 tahun menganggukan kepalanya, entahlah apakah dia paham dengan perkataan yang barusan ku ucapkan.
Kini aku kuliah sudah menginjak tahun ke 3 pada semester ke-6.
2 bulan lalu, aku melihat nenek dan mamanya temanku Imah bernama Ibu Ina mereka sedang asyik memulai obrolan. Nenek ku baru saja selesai operasi katarak, senyumnya yang lebar menandakan bahwa nenek lagi bahagia mensyukuri karunia yang tuhan berikan karena keberhasilan operasi tersebut. Tidak jauh beda Ibu Ina walaupun dalam keadaan sakit, masih bisa bercanda ria sambil menikmati obrolan, sesekali aku membuat guyonan untuk menyapa.
Waktu tetaplah waktu akan terus berjalan tanpa bisa menunggu siapa yang lebih dulu dijemputnya. Hanya dalam kuruan waktu 2 bulan saja aku menjumpai mereka, tuhan memanggil nenek ku juga Ibu Ina. Nenek ku tiba-tiba mengalami stroke setelah beberapa hari dibawa ke Rumah Sakit kemudian dirawat di Rumah, sedangkan Ibu Ina mengalami sakit yang semakin parah.
1 Bulan kemudian...
14 April 2020.
Hari ini pembelajaran beharga dari diriku, bahwa resiko pekerjaan orang tuaku melebihi kesusahanku. Mungkin aku sering sakit kepala akibat banyak pikiran, gak sampai membuat anggota badanku terluka.
Sama seperti anak Petani lainnya, aku tak ingin pulang menjadi Sarjana yang hanya membawa wacana atau kuliah sekedar main-main. Disini mereka rela mengorbankankan nyawanya hanya untuk biaya anak-anaknya.
Pagi itu sekitar jam 6 pagi, aku berjalan santai bersama adik, karena aku mulai lelah dengan aktivitas bermasalasan di Rumah akhirnya aku memutuskan untuk berjalan santay/joging. Mama melihat kearah kami dan menyapa dengan senyum sambil meledek adik-ku yang makan sambil berjalanan. Sampai akhirnya aku memutuskan ingin membersihkan halaman samping Rumah, tanahnya bagus ingin sekali aku hiasi taman, pikirku dalam hati. Aku masuk ke dalam Rumah, dan meminjam pisau tajam, kalau orang Banjar bilangnya Parang .
Ku gunakan untuk membersihkan rumput di halaman samping Rumah. Mama menoleh padaku dan berkata: “Awas jangan sampai menggunakan parangnya ke Tumbuk Batu nanti mantul, bisa luka kena tebasan parang.”. I ya Ma, ini udah Hati-hati. cetusku di dalam hati.
Tak terasa pagi itu menjelang pukul 7 pagi, orang tuaku menyempatkan waktu ke Sawah karena rencananya jam 10 akan melayat ke Rumah Paman di Tamban Km 15. Jadi ke Sawahnya bakalan bentar aja.
Gak kerasa waktu udah mau menunjukan pukul 10:00 pagi, Mama mau menuju Rumah sembari berjalan kaki, disaat pertengahan jalan Mama malah berhenti untuk membantu Abah memotong rumput, Mama memang seperti itu tak tega melihat tugas yang belum selesai. Gak tau lah yang namanya kejadian dan musibah dari Allah, benda tajam itu membuat luka jari Mama, Ayah berteriak dan menyebutkan namaku: ‘”Wardah ambilkan kain”. Aku mendengar dan tergesa-gesa karena tdak biasanya, mendengar Abah bicara sekeras itu. Entah mengapa waktu itu malahan yang telingaku dengarkan. “Wardah adingmu tenggelam”. Padahal setahuku adik-ku bisa berenang.
Akhirnya pendengaranku jelas, setelah aku memutuskan untuk keluar Rumah, aku bawa selembar kain baju dan adik ku tergopoh-gopoh membawa kain itu menuju m
Mama dan disana ada Abah berada disamping, kain itu cukup untuk menghentikan darah yang berucucuran terus menerus di jari mama.
Mama bilang dari kejauhan sekitar 15-20 meter dari tempatku berada, aku mendengar bahwa jari jempol kiri mama terpotong oleh Parang itu, Abah dan Mama memintaku untuk lekas menuju Puskesmas agar aku dapat memanggil Para tenaga medis untuk menjahit luka dijari Mama. Setelah aku sampai depan Puskesmas di desaku, pintunya tertutup dan disana tak terdengar ada suara seseoarngpun, ku ketuk pintunya namun masih tidak ada yang merespon. Dari pada ku mengetuk pintu namun tidak ada jawabannya, aku memutuskan agar tak mebuang waktu dengan pecuma, aku bergegas bertanya dengan orang terdekat disana.
“Bu, apakah pegawai Puskesmasnya ada.”
“Mulai kemaren belum terlihat dah, memang ada apa Wardah”.
”Ini bu mama kena Musibah, jarinya luka waktu ke Sawah kena Parang, ya kalau begitu, kami mau ke Puskesmas di Kecamatan, mudahan disana buka ya bu.
“Inggih Wardah mudahan buka, hati-hati ” dengan wajah beliau penuh iba padaku.
Aku mulai cemas, bertanya di dalam hati. Apakah saat pandemi virus ini banyak yang libur termasuk Pegawai Puskesmas. Tapi pikirku tetap Positiv dan tetap Huznuzan.
Setelah sampai disana, syukur Puskesmasnya buka. Ku pandang adik-ku matanya berair melihat keadaan Mama secara dadakan seperti itu, aku tetap menahan bendungan dimataku walau beberapa kali ingin rasanya ku hempaskan. Bagiku tak ada kata-kata yang indah terucap selain zikir dan sholawat.
Abah lebih dahulu disana, kami yang baru saja sampai hanya diberikan izin oleh petugas puskesmas untuk menunggu diluar saja. Karena kondisi pandemi ini, aku dan adikku mengikuti aturan. Aku melihat ke arah Abah, mata beliau menandakan beribu-ribu kali lebih cemas dari diriku, sembari menyentuh jempol tangannya, mungkin Abah masih terbayang melihat kejadian tersebut.
Tak ada yang dapat mengontrol hati seseorang terkecuali pikirannya. Hanya kata-kata itu yang dapat menyinari pikiran di kepalaku. Abah pergi ke arah kami:
“Nak jari jempol mama gak bisa dihubungkan lagi, karena hanya kemungkinan 50% jadi harus dipotong keseluruhannya baru bisa dijahit, jikapun dipaksankan takutnya nanti infeksi dan menjalar ke dalam”.
Inggih Bah, kalau itu yang baiknya.
(Lamunanku menggiring pada waktu beberapa saat, padahal mama memperingatiku sebelumnya malah mama yang kena, rasanya mama terlalu hebat bagiku, bukan bekerja di Sawah saja yang dikerjakan terkadang mama masih sempat-sempatnya menjahit). Setelah semuanya selesai kamipun pulang dengan menggunakan dua kendaraan. Aku dengan adik-ku pulang lebih awal untuk membereskan rumah. Tak berapa lama nenek ku (Ibu mamaku) datang dengan paman, setelah sebelumnya ku hubungi lewat bibi. Nenek langsung masuk ke Rumah menjenguk mama, mata beliau berbinar-binar. Nenek ku memang hebat hingga usia senja beliau selalu perhatian ke seluruh anak-anaknya, termasuk mamaku.
Kata nenek: “Tadi dapat kabar dari anak nenek yang satunya, dengan keadaan menangis menyampaikan musibah yang ditimpa mama”.
Dari awal hingga saat ini mama tak ada mengutarkan kalimat putus asa ataupun keluhan yang tak menerima kenyataan.
Sesudah kesusahan pasti ada kemudahan. Itulah janji tuhan yang selalu aku ingat.
Aku tak bisa menebak bagaimana rasanya kehilangan satu jari untuk seumur hidup, jari yang begitu berpengaruh terbilang karena Mama adalah wanita yang sangat aktif, pandai memasak, menjahit dan lain-lain.
Tapi bagaimapun kehidupan ini akann selalu memberikan cobaan untuk menguji seorang hamba, mana yang mampu melewati ujian ini dengan sabar. :-).
Kita tidak akan tau kapan sebuah musibah akan menimpa kita, hanya saja kelapangan dada, keikhlasan dan kesabaranlah yang harus kita persiapkan agar kita mampu mengambil setiap pelajaran dari cerita kehidupan yang kita lalui.
0 komentar:
Posting Komentar