Mawar yang Mekar dari Bully’an

Ketika impian kita besar, dan mereka menganggap itu mustahil. Salah satu upaya yang harus kita lakukan adalah “BERHASIL”
Pernah gak kalian waktu sekolah dibully, dihina, di jelek-jelekin sama teman, bahkan terkadang sama sahabat sendiri, atau mungkin sampai sekarang masih seperti itu.
Waktu liburan ini mungkin kita bisa berbagi cerita, sekaligus mengisi amunisi semangat di tahun 2020 agar lebih giat mengejar impian... setuju.. ;). Senang bisa membuat tulisan di blog lagi, karena terhambat sama aktivitas yang lain.
Yang belum kenal, izinkan aku memperkenalkan diri ya.
Namaku Wardah kalau diartikan dalam bahasa Indonesia adalah mawar, gadis kelahiran 2000, sekarang kuliah di Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam, alhamdulillah dari bantuan Bidikmisi bisa melanjutkan kuliah hingga sekarang.
Semenjak aku beranjak remaja, ada beberapa teman-teman yang tidak menyukai aku, dari penampilan, perilaku bahkan rangking kelasku pun dipermasalahkan, katanya “Wajar saja anak guru juara, toh ayahnya bisa aja...... aja bla..bla..bla”. Rasanya semangatku untuk belajar disekolah itu tiba-tiba luntur, padahal percapaian yang didapatkan murni dari hasilku, bukan dari bantuan siapapun. Kalau ayahku bisa securang itu, gak mungkin adik-ku sekarang ranking 4 dari level terbawah hehe... iya adik ku memang pemalas tak pernah dapat juara, tapi dia pandai dalam beberapa hal
.
Kembali ke cerita....!
Tong Kosong Nyaring Bunyi-nya, itulah kata-kata yang membuat aku teringat dengan sosok perempuan pintar namun suka menghujat orang, bisa dikatakan teman yang suka menusuk dari belakang. Dia pernah menjadi teman akrabku, tapi kepercayaanku sudah musnah setelah beberapa kali aku mencoba menolongnya namun tak pernah dihargai, malah dia senang sekali melempar ghibah kepada temannya yang lain, hanya untuk menambah bahan obrolan untuk tertawa dan akupun pernah menjadi topik utamanya. Dia mengatakan bahwa aku tak pantas untuk mendapatkan semacam penghargaan, perempuan yang ini.. ini... ini, dia berkata kotor dihadapanku, bahkan pendengaranku diperjelas oleh suaranya yang lantang mengatakan tepat disebelah telingaku.
Aku bertemunya kembali saat masa SMA, disana aku merasa dideskriminasi, beberapa orang mau terbuka berteman yang sesuai isi dompet, keuangan dan penampilan. Sedangkan aku adalah perempuan yang sederhana, tidak suka boros terutama membeli sesuatu yang kurang berguna, berbeda dengan beberapa temanku yang ingin menyetarakan selera mereka dalam berteman, tak mempunyai sesuatu rasanya menelan rasa gengsi teramat sakit.
Aku merasa sangat sedikit mempunyai teman, terutama saat aku mempunyai catatan kesalahan pertama, kesalahan kecil yang dibesar-besarkan. Pada saat itu aku memanggil sosok wanita yang bekerja di sekolahku, dengan sebutan nenek, raut wajahnya keriput dan mukanya tidak suka tersenyum, ditambah lagi giginya ada beberapa ompong mempunyai kemiripan persis dengan sosok wanita yang sudah lansia. Pada saat itulah terjadi perang mulut besar, dia tidak terima atas ucapanku, aku segera meminta maaf atas ketidaktahuanku, karena saat itu adalah hari pertamaku sekolah. Dia tak mampu memaafkanku, padahal pada saat itu aku memanggilnya di dengar oleh ayah, ibu, adik dan nenek ku, tak satupun ada siswa yang mendengarnya, alhasil setiap jam makan dia selalu memproklamasikan ucapanku yang memanggilnya nenek, ada beberapa siswa yang empati terhadapnya namun ada juga beberapa yang merasa bodoh amat.
Beberapa siswa yang empati tersebut, menganggapku siswi baru yang sangat lancang. Apa boleh buat, ini semua kesalahpahaman dan akupun sudah meminta maaf. Karena setiap hari wanita tersebut menyebutkesalahanku, berulang kali kepada siswa lainnya, rasanya gendang telingaku hampir copot dibuatnya, selera makanku hilang setiap kali jam makan dan bertemu dengannya. Aku berusaha menyadarkan diriku sendiri untuk bersabar, karena aku “siswi baru”. Hampir semua kaka kelas yang bertemu denganku melihatku sinis, aku menjadi terkenal di sekolah dengan humor permasalahan dengan wanita yang ku sebut nenek tersebut.
Beberapa kali aku melanggar peraturan seperti kurang disiplin, telat dan semacamnya. Untuk siswi yang lain melanggar peraturan tersebut terlihat biasa saja, beda denganku yang telah terkenal dengan kecerobohanku tersebut, aku menjadi bahan tertawaan, hinaan, ghibah apapun itu yang tidak baik untuk di dengar. Yang lebih parah, aku pernah di hina oleh Kaka kelas, ia merasa Jijik ketika mendengar namaku, dan berlaga ingin muntah. Ya Allah sikap yang diperlihatkannya semacam tidak menganggapku manusia namun bangkai atau binatang yang menjijikan lainnya.
Ada suatu hal yang membuatku tetap bertahan semasa SMA disana, yakni orang tua, aku yakin sekali, do’a orang tua semacam mukjizat menurutku yang bisa mengubah apa saja. Aku tetap belajar, entah ada yang tidak menyukaiku, tidak ingin berteman denganku, aku abaikan saja, aku tetap fokus dengan tujuanku menuntut ilmu. Beberapa kali aku mengikuti perlombaan dari tingkat sekolah, kabupaten dan lain-lain. Aku pernah berpidato dihadapan puluhan para siswa, saat pengambilan video untuk mengirim lomba ke sebuah Universitas di Banjarmasin, walaupun pada kali itu aku belum menang. Setiap kali ada waktu duka dan suka ku abadikan melalui catatan harianku, impianku waktu itu, setelah masa SMA berakhir aku akan menuliskan berbagi cerita hidup-ku disebuah blog dan hari ini telah tercapai.....;)
Setelah beberapa lomba ku ikuti, lomba yang dapat mengharumkan namaku, yang sebelumnya namaku tercemar dan terkenal sebagai sosok siswa nakal, sering telat, dan yang tidak akan terlupakan seorang siswa yang memanggil nenek pada wanita dapur. Hal tersebutlah yang membuatku semakin rajin belajar, semakin suka menulis dan membaca buku. Maka dari pada itu sahabat, apapun itu masalahnya haruslah kita hadapi, jangan pernah lelah untuk berjuang membuktikan bahwa diri kita layak untuk menjadi lebih baik.
Perjuangan selanjutnya yakni kegigihanku untuk mendapatkan beasiswa, itu bukanlah sesuatu yang mudah.. mungkin lain kali aku akan cerita. Jangan lupa beri masukan dan komentarnya. :-)
“Rasa suka mampu menumbuhkan keberanian bahkan untuk hal yang dianggap mustahil”.
“Tidak ada sesuatu yang dapat menjamin masa depan seseorang, yang dapat menjaminnya adalah keyakinan dari dirinya sendiri”.
“Jangan pernah menghina seseorang ataupun meremehkan kemampuannya, bunga mawar yang indah sekalipun perlu waktu untuk tumbuh dan mekar”.

Sukaa sekali bacanya, semangat terus buat berkarya kaka 💖
BalasHapusMakasih banyak ding😍😍😍 p juga semangat terutama menyambut semester baru🤗
HapusStrong womem bby
BalasHapusWanita harus kuat🤗💡 s7.
HapusGreat. Pembalasan dendam (+) yang terbaik adalah dengan menjadi LEBIH BAIK😉.
BalasHapusWkwk kek nya kita sama 😂 bermula dari bullyn. Ucapin makasih buat yg suka menghina karena atas lukanya kita bisa maju.
HapusBeruntung sekali ketika seseorang dihina lalu membalaskan dendamnya yaitu dengan menjadi "lebih baik", orang yang masih selalu optimis atas dirinya dan percaya akan dirinya lah orang yang beruntung..
BalasHapusSemangat kaa, pengalaman kaka menjadi motivasi tersendiri bagi diri ini !!
Alhamdulillah kalau bisa di ambil pelajaran dari ceritanya 🤗😊. Bahkan walaupun hanya tersisa diri kita sendiri. Kita bisa, kita layak untuk berubah dan menjadu lebih baik🤗
HapusBanyak org bilang bahwa masa SMA sederajat adalah masa paling bahagia dan senang seumur hidup. Ini sepertinya tak berlaku sepertinya bagi pian, namun karena masa ini juga menentukan perubahan menjadi yg terbaik untuk masa depan. Namun, walau memiliki masa saat itu tidak menyenangkan bahkan penuh dgn duka. Akan tetpi kmu tetap bisa menjalankan dgn baik pendidikan bahkan membalasnya dgn prestasi yg menmbanggakn. Ini sangat luar biasa. Terlebih kmu sudah menjadi salah satu mahasiswa terbaik, penerima beasiswa, tinggi ipk, aktif organisasi, ikut lomba dn tour saat peserta. Semoga impian kmu ingin keliling indonesia dgn prestasi dan gratis terwujud hehe..
BalasHapusKeren" bangets tulisan nya kak..
BalasHapus