KELUARGA SEDERHANA
Menularkan Energi Positif pada Adik.
Sudah sepatutnya aku bersyukur yang tiada henti disaat usiaku kini beranjak 20 tahun, hitungan usiaku dapat dihitung dari melihat 2 angka terakhir tahun Masehi. Aku mempunyai seorang adik, kini adik-ku berusia 9 tahun, menjadi seorang adik sekaligus obat vitamin dalam keluarga, dia imut lucu dan menggemaskan. Lemak yang berada dipipi tembemnya belum bisa tirus, masih seperti kala Bayi. Dia rajin sholat maghrib, saat sore tiba tanpa menunggu wudhu di air keran, aku dan adik-ku menuju sungai mengambil air wudhu langsung dari sumbernya. Aku menoleh kepadanya, kataku gunakan ini untuk muka !. (Sabun cuci muka) hehe. Aku mencoba iseng padanya, tapi ku yakin sabun itu tidak berdampak parah pada wajahnya, akhir-akhir ini wajahnya menghitam karena sering main kelereng ditengah terik matahari. Beginilah bahayanya jika mempunyai kaka wanita sepertiku. Adik-ku seperti bermain di Gurun Pasir saja, gumamku. Melihat wajahnya yang suka berteman dengan matahari secara langsung setiap hari.
Kemaren aku menyediakan punggung untuk naik kerumah bersamanya, beratnya masing ringan untuk digendong, tapi pada hari ini aku telah memberikan padanya sebuah gayung mandi diisi dengan air untuk cuci kaki digunakan setelah berjalan sampai di Hambin belakang Rumah. Aku tak mengajari adik ku untuk manja dengan membuat kebiasaan yang membuat dirinya malas. Adik-ku mengambil sajadah, mataku mengisyaratkan padanya untuk menunggu ayah, agar sholat berjama’ah. Kali ini aku perintahkan dia untuk Qamat, sebelumnya ku puji suaranya begitu merdu, pujianku sepertinya hiperbola yang bermaksud agar dia melakukan apa yang ku suruh. Faktanya permintaanku dikabulkan. Setelah Qamat dia melirik kebelakang sajadahku. Aku mengacungkan jempol padanya dengan senyum cantik 5 cm, sebagai isyarat bahwa dia telah sukses mengumandangkan Qamat dengan suaranya yang luar biasa merdu sekali. Setelah sholat berjama’ah dan bersalaman dengan ayah, adik-ku mengajak-ku mengaji dengannya, ku beri syarat padanya, boleh mengaji denganku dengan syarat harus 2 dua lembar, biasanya dia mengaji cukup satu lembar itupun kalau dia rajin kata Ibu. Adik-ku yang biasanya pemberontak dan malas tiba-tiba menurut tanpa ku iming-imingi sesuatu apapun, dia selalu mengajak-ku untuk bermain. Setelah mengaji, aku melemparkan pertanyaan padanya. “Apa ada PR hari ini”. Dia mengambil segera buku memperlihatkan PR Matematikanya, ini adalah mata pelajaran yang disukainya, jadi aku tidak heran dari empat soal dia telah mengerjakan dua soal sebelumnya. Adik ku belum mengerti menghitung pembagian, aku mengerti rumus pelajaran kelas empat sekolah dasar ini dan mengajarinya, sebentar lagi selesai, dia memberi ide untuk menjawab soal nomor 3 dengan mengambil buku coretan dan setelah itu tiba-tiba dia dapat menghitung pembagian cepat sekali, seperti seorang siswa yang mengikuti lomba olimpiade Matematika, ternyata aku tidak salah sangka dia tertawa cekikikan melihatku, aku membalasnya dengan mata melotot seperti Banteng yang melihat kain merah. Dia memperlihatkan hasil hitungan yang di dapatnya dari kalkulator HP Ayah. Astaga.! Bocaaah, Sorak ku. Ayahku tetawa melihat kami berkelahi kecil. Soal terakhir nomor 4, aku tidak membiarkan dia kemana-mana tetap dalam kandang ancamanku, waktu itu aku benar-benar lupa bagaimana cara menghitung pembagian dengan jumlah besar, hahahaha.
Aku menuju kepada Ayah dengan jarak 2 meter dari keberadaan kami, aku bermaksud minta “Rukyah” maksudku minta sadarkan kembali, agar dengan sekejap membongkar memori pembelajaran yang dulu ku pelajari waktu sekolah, aku berhasil mengingat pembagian ini, bisa dimaklumi setelah aku kuliah dengan jurusan yang notabennya berpikir ilmiah dan rasionalis tanpa melibatkan angka sedikitpun, aku menjadi amnesia bagaimana cara menghitung pembagian dengan jumlah besar yang benar. Setelah aku mengingat caranya, segera ku praktekan pada adik-ku, “Begini belajarnya,, cara bagi-nya,, jangan gunakan Kalkulator, berhasil dengan cara curang itu tidak membuatmu sukses”. Otaknya bekerja dengan bagus syarafnya merespon cepat bagaimana cara menaklukan soal hitungan mata pelajaran matematika ini...hmmm’MUDAHKAN’. Tanyaku, padahal aku baru saja kesulitan mengingat pelajaran matematikanya.
“Ajarkan pada anak kecil pentingnya kejujuran sejak dini, sebagai pembentukan karakter dengan sifat-sifat terpuji".

0 komentar:
Posting Komentar