Oleh: Wardah
Berbicara mengenai literasi ialah sebuah kegiatan yang tidak jauh dari hal yang namanya membaca. Lebih jelasnya literasi adalah suatu kemampuan seseorang untuk menggunakan keterampilan dan potensi dalam mengelola dan mengolah informasi. Hubungan literasi tidak akan jauh dari aktivitas membaca dan menulis. Apabila di lihat secara etimologis, literasi berasal dari bahasa latin “literatus” yang bermakna orang yang sedang belajar. Maka dalam proses belajar, membaca buku dan keterampilan menulis adalah sesuatu hal yang penting, terlebih pada diri seorang pelajar maupun mahasiswa, dalam kesempatan kali ini, penulis mencoba membawa pembaca untuk memahami mengapa pentingnya meningkatkan literasi untuk negara Indonesia, serta mengetahui bagaimana cara negara Finlandia mampu pengaktualisasikan semangat literasi yang cukup tinggi. Pada zaman dulu para tokoh besar Islam menjadikan kegiatan membaca menjadi sesuatu yang tak bisa ditinggalkan dari aktivitas keseharian.
Para tokoh besar pada zaman dulu yang gemar dengan aktivitas membaca dan menulis, mereka memperoleh pengapresiasian besar dalam sejarah. Seperti Hasan al-Banna yang sangat suka membaca buku hampir kesehariannya diramaikan oleh bahan bacaan, walupun ditengah kesibukannya sebagai pemimpin Ikhwanul Muslimin, Hasan Al-Banna tetap giat untuk menyempatkan waktu membaca buku, yang tidak kurang dari 60 halaman sehari. Perhatian yang besar juga diperoleh dari para Sejarawan seperti yang di ungkapkan Barbara Tuchman seorang Sejarawah dan penulis kebangsaan Amerika, “Buku adalah pengusung peradaban. Tanpa buku, sejarah diam, sastra bungkam, sains lumpuh, pemikiranpun macet. Buku adalah mesin perubahan, jendela dunia, mencusuar yang di pancangkan samundera waktu ”.
Bagaimana dengan Indonesia, negara dengan mayoritas muslim, apakah semangat literasi dalam pendidikan juga mampu berjalan dengan seiring arus globalisasi, yang sekarang dikenal dengan Industry 4.0. Jika boleh berkaca sebentar, setelah masa kemerdekaan Negara Indonesia mempunyai tujuan besar untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, janji yang kini harusnya akan senantiasa di realisasikan yang diawali dengan cara menanamkan nilai-nilai pergerakan literasi kepada masyarakat Indonesia, mengapa hal ini perlu dilaksankan, karena tingkat literasi kita begitu rendah. Sebagaimana termuat dalam lembaga survey United Nations Education Scientifik and Culturan Organization (UNESCO) yang mengatakan bahwa, minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen, artinya dari 1000 orang Indonesia, hanya satu orang yang rajin untuk membaca buku. Keadaan ini adalah sebuah PR bagi kita bersama, bagaimana menarik generasi sekarang untuk memahami pentingnya aktivitas membaca buku. Jika kenyataannya pada saat ini guyonan atau meme yang dibaca dari sosial media dapat dilahap selama beberapa jam, namun sangat di sayangkan saat ditawarkan sebuah buku untuk memperkarya wawasan secara mendalam, tidak mendapat banyak respon dari para generasi muda.
Padahal jika mereka mengetahui secara mendalam nilai baca seseorang juga mempengaruhi cara berpikirnya, jika yang dibaca hanyalah beberapa ilmu dari postingan sosial media, cenderung kedangkan informasi yang menjadi ilmu generasi sekarang. Bahayanya literasi yang seperti ini mampu membuat generasi menjadi mudah untuk di provokasi.
Gerakan demi gerakan dari pemerintah hingga para akademisi mulai turun tangan menanggapi persoalan ini, untuk memperkaya kualitas sumberdaya manusia, pergerakan literasi menjadi bagian utama yang sangat perlu diperhatikan. Sehingga ada beberapa komponen yang dapat mendukung pergerakan ini. Dikutip dari buku Panduan Gerakan Literasi Nasional. Ada lima komponen strategi yang dapat mendukung terlaksananya Gerakan Literasi Nasional, yang mungkin dapat kita jalankan secara optimal, yang pertama penguatan kapasitas fasilitator literasi yang merupakan sebuah pondasi utama untuk gerakan literasi pada ranah keluarga, sekolah dan penguatan ruang literasi dari pengelolaan ruang perpustakaan publik atau taman baca. Yang kedua peningkatan jumlah dan ragam sumber belajar bermutu. Yang ketiga perluasan akses untuk sumber belajar, seperti taman baca, kemudahan prasarana yang diberikan akan berdampak positif pada peminat baca. Yang ketiga Peningkatan pelibatan publik, dari lembaga masyarakat hingga tokoh masyarakat. Yang keempat penguatan tata kelola untuk memudahkan fungsi lembaga-lembaga yang berperan agar saling terkoneksi satu sama lain. Dari beberapa strategi ini, Negara Finlandia telah mencoba mengaplikasikannya ke dalam kehidupan masyarakat, kesadaran literasi ini sudah mulai ditanamkan sejak mereka kecil.
Sikilas seputar Negara Finlandia, Negara Finlandia adalah sebuah Negara yang Nordik terletak di Eropa Utara, selain itu Finlandia juga merupakan bagian dari kawasan geografi Fennoscandia, yang juga termasuk didalamnya Skandinavia dan Rusia. Ada suatu hal yang menarik dan berkesan dari Negara Finlandia, mengenai sistem edukasi yang diterapkan dari negara tersebut yang sekarang telah menjadi sorotan para pendidik dunia.
Menurut data Programme for International Student Assessment (PISA) Finlandia menduduki peringkat ke-4 mengenai literasi baca, sedangkan untuk Negara Indonesia tingkat literasi baca masih kurang memuaskan, dalam sebuah hasil penelitian dibawah naungan PISA mensurvei dari 70 negara dunia, Indonesia menempati posisi ke 62, yang hampir menduduki rangking terakhir. Yang menjadi perhatian besar bukan hanya tingkat literasi yang mereka peroleh namun juga berhubungan dengan pembinaan pendidikan, sehingga tak heran jika Finlandia mampu menjadi Negara dengan pendidikan terbaik kelas dunia.
Kunci pendidikan sebagaimana diketahui berada pada kualitas seorang guru, yang memberikan ilmu pengetahuan sebagai pemberi asupan untuk muridnya, sebagaimana sebuah tumbuhan bunga memerlukan proses fotesentesis untuk berkembang (guru-murid).
Di Negara Finlandia menjadi seorang guru merupakan sebuah profesi yang sangat dihormati, untuk menjadi seorang guru SD disana mereka harus memperoleh gelar master dari jenjang pendidikan S2. Selain itu pengaplikasian dalam proses pembelajaran di Finlandia cukup unik, mereka menyiapkan waktu untuk tidur siang pada murid mereka, antara jam 12:00 siang hingga 14:00, apabila ditengok dari pengaplikasian tidur siang ini, kebiasaan tidur siang tersebut merupakan sebuah sunnah yang telah dianjurkan oleh Rasulullah, agar umat Islam Qailulah atau tidur siang sebagaimana beliau bersabda: “Tidur sianglah karena sesungguhnya setan itu tidak pernah tidur siang”.
Selain itu menurut penelitian dari Harvard menemukan bahwa seseorang yang terbiasa tidur siang sekitar 20-30 menit dalam sehari mampu meningkatkan kinerja otak dengan baik, dapat membuat tingkat konsentrasi lebih tinggi serta memperkuat daya ingat. Selain itu, pengenalan dunia literasi di Negara Finlandia sudah sejak dini yakni mulai bayi, pemerintahan Finlandia menetapkan setiap keluarga yang baru melahirkan seorang bayi mendapatkan sebuah hadiah paket berupa buku bacaan untuk ibu, ayah dan bayi itu sendiri. Selanjutnya untuk perpustakaan, Finlandia menganggap bahwa perpustakaan adalah sebuah tempat rekreasi yang wajib dikunjungi oleh setiap warga negara-nya, sehingga Finlandia membuat Perpustakaan indah yang dapat menyatu dengan pusat perbelanjaan di Mall. Dalam pendidkan formal pun seperti di bangku sekolah, seorang anak yang baru memasuki dunia pendidikannya, mereka disapa dengan memulai kebiasaan membaca buku, dalam satu minggu minimal satu buku. Kebiasaan yang ditawarkan sejak sekolah ini menjadi sebuah kebudayaan yang melekat pada Negara Finlandia, dari pendidikan keluarga, kegiatan berinteraksi pada saat ingin menidurkan anak mereka, memiliki kebiasaan untuk mendongeng , yang akan dibacakan oleh orang tua mereka kepada anaknya, melalui gerakan ini, gemar membaca dengan mengembangkan rasa ingin tau anak kepada ilmu pengetahuan, sudah di pupuk sejak dini dalam keluarga. Itulah kebiasan-kebiasan yang ditanamkan oleh Negara Finlandia kepada masyarakatnya.
Apabila suatu Negara memiliki kemampuan literasi yang bagus maka kualitas sumber daya manusianya akan berdaya saing tinggi. Perlu kiranya gerakan literasi ini dimulai dari menumbuhkan kesadaran dalam diri pribadi dan menerapkannya pada lingkungan keluarga. Peran pemerintah dengan segenap kepeduliannya harus melibatkan lebih banyak lagi ruang-ruang pergerakan literasi, sehingga pembangunan yang kita laksanakan pun tidak hanya tertumpu pada pembangunan Insfrastruktur, namun juga tertuju pada pembangunan karakter yang cerdas, pembudayaan literasi yang luas, dan kompetensi masyarakat yang unggul. Semua itu dapat tumbuh dan berkembang melalui pendidikan yang menyenangkan, berkesinambungan, dan lingkungan sosial yang baik dari seluruh lapisan masyarakat.

0 komentar:
Posting Komentar