Jumat, 10 Januari 2020

TAK SEORANGPUN DAPAT MENJAMN CINTA SEMASA SEKOLAH BERSINAR DI MASA DEPAN





Seindah apapun langit yang pernah di tatap bersama, bisa berubah hanya karena ada badai. Itulah gambaran kisah percintaan Lyna Resti, serang gadis yang selalu ceria, berwajah manis, ia sangat pandai bergaul dengan siapapun, ia mempunyai keunikan pada bagiam bola matanya berwarna biru langit, tentu warna tersebut bukan dari kontak lensa yang sering di gunakan wanita ibu kota. Tinggi badannya sekitar 160 cm, ukuran normal untuk remaja Asia. Dengan kecerdasan dimilikinya kepercayaan dirinya untuk segera melanjutkan Study-nya ke sebuah Universitas ternama di kota. 6 bulan sebelum kejadian tersebut. Ia bertemu dengan seorang lelaki berwajah tampan, hidungnya mancung, matanya indah sekali bagai sinar bintang di langit malam, beralis tebal melambangkan seorang lelaki yang amat percaya diri, bahkan mempunyai postur tubuh berisi dan tegap, membuat wanita menilainya begitu gagah. Tapi anehnya lelaki itu di juluki si Biang Kerok Jenius.
Semakin hari sifat dinginnya berubah, ia begitu jaim dulunya di hadapanku. Sesekali aku menertawakannya saat ia bermain basket sendiri di lapangan. Mukanya begitu kesal rupanya ia lagi ada masalah. Aku memanggilnya, untuk pertama kali “Mi-Reyhard”. Ia menoleh kepadaku, namanya memang sangat unik, anak lelaki berdarah Jepang tersebut. Situasiku saat itu yang sedang duduk manis bersama buku. “Kamu Kaka kelas yang kutu buku itukan, ada apa kka, kok memanggilku”. Tenang, gak usah bicara terlalu formal, entah mengapa dia tau aku beserta kebiasaanku. “Kamu Si Jenius itukan, yang memenangkan Olimpiade Matematika Se-Asia.” Ia tersenyum, berlari membawa bola duduk di samping-ku, dengan jarak sekitar 2 meter. “Mengapa kamu mentransfer kekesalan dengan bermain basket”. Tanyaku. “Tak apa kak, saya lagi kesel. Lagi pula fasilitas sekolah tidak saya hancurkan he”. Ia tersenyum nyingir. Ia bercerita banyak hal, yang tidak pernah aku ketahui. Bagaimana ia memenagkan Olimpiade Matematika di Jepang waktu ia duduk di Kelas 3 SMP, tentang hoby-nya, memahami rumus, dan menghafalnya pada waktu tengah malam, bahkan ia juga sedikit bercerita tentang keluarganya yang lagi ada masalah.
Saat itu aku bersama Elena teman super cuek, yang hoby-nya nonton Filem Korea dan bermain gadjed, ia lagi fokus dengan Hp-nya. Ia duduk di sampingku sambil memakai Earpone warna putih kombinasai Pink.
Waktu berlalu begitu saja, aku tidak pernah naksir dengan teman cwok sekelasku bahkan biarpun terkenal sangat pintar dan tampan, sering kali diantara mereka mengajak-ku makan bareng, aku selalu menolaknya dengan alasan bermacam-macam. Sifat Friendly kesemua orang mungkin membuatku banyak mempunyai sahabat, tapi tidak untuk pasangan.
Aku bertanya dengan hatiku sendiri ada apa dengan dia. Entah mengapa aku selalu memperhatikan Si Biang Kerok itu, kemaren aku melihatnya di panggil lagi keruangan BK. Entahlah apa yang dia perbuat mungkin salah satu penyebabnya ada permasalahan dalam keluarganya, dimana ia sering membuat ulah di sekolah. Mengherankan seperti dia sangat berprestasi.
Aku selalu bilang kepadanya untuk tidak bicara formal apalagi hingga memanggilku dengan sebutan “Kaka”. Ia mengerti, tetapi kerap kali ceroboh dan tetap memanggilku Kaka berulang, aku lebih tua darinya 2 tahun. Saat itu untuk pertama kalinya ia ke Perpustakaan, ia sangat jarang sekali kesana padahal ia terkenal pembelajar seperti yang dikatakan teman-temannya. Mungkin karena terbilang anak orang yang kaya raya lebih sering membeli buku. Ternyata benar ia keperpustakaan untuk belajar, bukan untuk meminjam buku. Aku berjalan di hadapannya menaruh beberapa buku, ia mulai meledek ku. “Kak Lyn, yang cantik tau tidak mengapa Karl Marx menyukai sistem kelas”. Sepertinya ia mengatahui buku apa yang barusan aku baca. “Agar ada perbedaan, seperti aku dan kamu, aku lebih tua darimu karena pengalaman bukan karena angka usia, bahkan takan ada namanya sebaya walau seusia, mungkin ini yang di inginkan Karl Marx sistem kelas“. Aku menjawabnya dengan cepat, karena saat itu jantungku sangat berdebar kencang, aku duduk di Kursi mendengarkan balasan penjelasannya. “Bagaimana jika sistem kelas itu, kita hapuskan”. Ia betanya padaku? “Maksudnya”, aku menancap kebingungan. Bukankah itu yang selama ini ku katakan padamya. Dengan cara menghilangkan kata “Kaka” karena aku sebagai seniornya, ia gengsi mendekatiku sistem kelas tidak akan kita rasakan. “Baiklah Kak, adik kelasmu yang tampan ini akan mengatakan sesuatu”. Ya tuhan ia memuji dirinya sendiri, walaupun benar apa yang dikatakannya, tapi aku kurang menyukai, karena terdengar bau kesombongan ditelingaku. Aku mengangguk mengiyakan. Ia tiba-tiba mengangkat telp dari Ayahnya. “Ini ada tulisan amatiran dari aku kka , untuk pertama kali”. Ia meninggalkan Perpustakaan, setelah meminta izin pamit padaku serta menyisahkan pertanyaan belum terjawab.
Aku tak ada waktu untuk membacanya sepulang sekolah aku membuka isi surat itu. Sen-sei yang baru berada di Kelas 1 SMA dan aku yang sudah memasuki Ujian di Kelas 3, sebentar lagi ingin menginjak bangku perkuliahan. Isi surat itu mulai ku baca secara perlahan dengan menarik nafas dalam-dalam, hanya selembar kertas masa aku gugup tanyaku pada diriku sendiri.
 “Lyna Resti, Rey sangat suka memanggil Kaka, ini pertama kalinya aku menulis surat, terbilang sangat sulit menulis dengan tinta biru, itupun penanya ku pinjam dari Nino teman sebangku, waktu ia sedang tertidur pulas di Kelas. Aku bahagia bisa  bersahabat denganmu. Aku harus kembali ke Jepang hmm, karena ibu dan ayahku berpisah. Aku harus pindah bersekolah disana, minggu lalu Rey melihat Kaka  membaca buku itu, dan aku segera mencari dan membelinya ke Toko. Biar aku mempunyai bacaan yang sama seperti kaka untuk ku baca di sana, Ayah telah mengatur Jadwal Keberangkatanku, besok pagi aku telah menuju bandara. Do’akan yang terbaik untuk perjalannaku esok dan ini hanya sementara, aku akan bertemu kaka lagi. Mengambil sistem kelas cepat disana dengan berusaha belajar segiat mungkin agar aku bisa menyamaimu heehe. Dan menghapus kata diskriminas karena kelas kita aku teramat gengsi karena berani mencintai senior kelasku. Ada satu hal tersimpan selama ini, aku harap kamu tidak keberatan mendengarnya. Aku.... aku  sungguh menyukaimu. Tetap semangat  untuk melanjutkan Studinya. Hehe salam dari makhluk ke lahiran Jepang yang sangat tampan.

Ada perasaan sedih bercampur senang, saat membaca. Ternyata perasaanku tidak bertepuk sebelah tangan. Hingga kejadian itu aku belajar, berusaha sebisaku hingga memperoleh nilai terbaik waktu kelulusan. Bukan hanya itu aku juga mendapatkan beasiswa penuh memasuki Universitas ternama di Kota. Semakin hari tanpa sebuah kabar, ia pasti berusaha giat untuk menyaingiku. Itu yang ia janjikan, perasaan itu semakin hari terpendam, ketika rindu ku hanya membaca surat darinya dan menulis puisi:
Rey aku benar-benar rindu
Kau memang biang kerok
Kini kau masih membuat hatiku tak menentu
Padahal telah lama berjalannya waktu.
Saat itu aku pernah melihat derasnya hujan
Terlerai saat melihat matamu
Mata yang dapat menghentikan rintik-ku
Belum lagi ku membalas sajakmu kau pergi dariku
Kau mematahkan sukmaku dalam qalbu
Rinduku semakin candu

Beberapa organisasi mempercayaiku untuk mengambil peran penting disana. Bahkan aku di undang menjadi Motivator termuda, mengajak para Siswa & Mahasiswa untuk meningkatkan literasi baca di Indonesia. Hingga semester 5 kemaren aku diikut sertakan mendaftar menjadi Duta Baca Se-Asia. Dengan persyaratan yang cukup rumit, aku di dukung penuh oleh orang tua serta para sahabatku, ku bersyukur Bahasa Inggrisku cukup bagus. Karena kesempatan uang beasiswa, ku pergunakan setengahnya untuk mengikuti Less bahasa. Waktu itu saat aku di undang ke Jepang  Semester 7.
Pagi itu perasaanku sejernih embun, melihat indahnya bunga sakura bermekaran berwarna merah muda. Menggoda mataku yang tak ingin padam memandangnya. Aku baru teringat bahwa Rey telah lama berada di Jepang. Aku cukup tau diri negara ini cukup luas dan tak bisa ku telusuri tanpa informasi jelas, aku takan mungkin mengetahui keberadaanya.
Perasaan itu tidak beransur lama kalau di hitung perdetik pada jam dinding, aku tak tau apakah ia masih mengingatku. Jika ia berada di hadapanku, sungguh aku tidak menagih janji padanya, aku cukup bersyukur jika bertemunya. Aku berjalan menyelusuri danau, ada danau kecil di belakang Vila ini. Aku melangkah dalam keadaan hening, hatiku bicara.
......
Jalan ini terasa asing bagiku, tapi langkahku bagai magnet menujunya
Hanya gambaran ilusi penuh teka-teki yang tertuang dalam hatiku
Tak pernah dapat dipecahkan
Hatiku tak mendengar dimana dirinya
Seketika menyelusuri jalan bayanganmu menghalangi jalanku
Apa ini makna terobsesi
Yang terlalu baik dan percaya pada cinta lama
Atau ini semacam cinta buta
Dan aku terlalu baik padamu  yang tak memaksamu pergi dengan syarat
Pintu hati ini tak pernah tekunci, kau bisa datang kembali

Mereka tau aku wanita yang sangat rasional tapi dalam keadaan seperti ini, otakku di dominasi oleh segudang perasaan dan pertanyaan. Seakan aku selalu cepat menyimpulkannya sendiri, kini Elena teman akrabku semenjak di SMA, tidak mengikuti jejak langkahku, ia mengambil S1 Jurusan Komputer dan terakhir aku melihatnya menggunakan kacamata minus, sepertinya matanya terkena radiasi karena hobynya yang terus bermain gadjed. Apalagi jurusannya sangat mendukung.

Memang sebuah perasaan seperti magnetik yang cepat melekat mencari arah tanpa di dasari, ia yang lebih dulu mencari, tiba-tiba waktu itu tepat di depan pintu ada seorang lelaki melintas lewat. Aku membaca jelas di depan bajunya bertuliskan nama “Rey”. Ia menuju Aula acara besok hari, siapa dia, wajahnya tidak cukup jelas karena sepintas melihatnya, belum dapat tergambar jelas memastikan siapa dia.
Akhirnya ke esokan hari, acaranya segera dimulai, aku melupakan kejadian kemarem. Aku membuka sambutan dengan rasa percaya diri, dapat di Undang di Acara Literasi Jepang. Dimana acara yang penuh kemanfaatan ini membuat siapapun terpengaruh dengan kegiatan masyarakat Jepang yang sangat rajin membaca dan kedisiplinan yang sumgguh laur biasa.
Setelah acara selesai, aku mencari buku catatan kecilku. yang ku ingat tertinggal di samping meja tamu undangan, buku itu menghilang aku tak mendapatkannya. Aku bergegas pergi dan melupakan buku catatn kecil, kembali ke Apartemen utuk segera beristirahat. Sore hari menyambutku, aku keluar berjalan ke Taman bersama Maisarah. Ia adalah temanku dari Malaysia. Tiba-tiba dari bilik kaca Mobil menyapa menyebut namaku. Apakah  dia “Rey”, benar sekali, senyum yang tergambar dari raut wajahku beberapa tahun tidak dapat bertemu dengannya.

Setelah ku tau Rey Kuliah di sebuah Universitas ternama di Jepang. Universitas of Tokyo, ia mengambil Fakulty of Agriculture pada Jurusan Biological Chemisty and Biotechnology Kimia dan Biotegnology) aku bingung mengapa ia tidak memilih jurusan dengan bidang keahlainnya yakni Matematika, entahlah bagiku itu bukan urusanku asalkan ia menikmati perjalanan belajarnya. Di jurusan tersebut ia tdak mengikuti jenjang sarjana yang menguasai kemampuan dasar atau di sebut periode Junior Division. Karena kegemarannya belajar ia terlalu sibuk memperbaiki kerteringgalnya dari teman-temannya. Ia di arahkan kepada Jenjang Studi Sarjana yang mana Mahasiswa lebih mengarahkan ke spesialisasi yang di inginkan masing-masing.


Rey
Acap kali aku berfikir tentang apa yang ku rasakan saat ini
Raut wajahmu kerap kali terukir
Hias senyumu menusuk kalbuku
Aku merasa teramat bodoh sekali memiliki perasaan ini
Melihat gambar diri yang jauh dari kata serasi
Ku coba untuk menghilangkan perasaan ini, akan tetapi tak sedikitpun dapat bergeming.


Rey tak jauh dari kemaren sosok seseorang yang aktif dan ramah, tampaknya dia resah meliat keberadaanku yang tiba-tiba ada di Jepang
Ke-esokan harinya aku baru tau Rey telah menikah dengan Lisa 1 bulan yang lalu, mereka teramat muda melaksanakan pernikahan menurut mayoritas Jepang, yang menikah diusia 25 tahun keatas. Aku belum bisa langsung pulang ke Indonesia. Mungkin berat mendengar kabar mengenai Rey telah menikah, aku mengambil hikmah dari semuanya, cinta mungkin dapat memotivasi seseorang, hingga sekarang aku bisa sejauh ini.
 Aku dan Maisarah harus menyiapkan laporan kegiatan, kami memanfaatkan waktu ini untuk melakukan sedikit penelitian, mengenai kesuksesan orang Jepang. Sapa terakhirku dari Rey dia berserta Istrinya mengantarku ke Bandara, terluka memang saat ku melihatnya, tapi tidak terlalu sakit, setidanya aku mengetahui tentang dirinya sekarang, dari pada aku kehilangan jejak dan tidak tahu sama sekali. Tidak seorangpun dapat menjamin cinta dimasa sekolah akan bersinar di masa depan setelah sekian lama tidak bertemu.

Kita hanyalah dua orang yang pernah terikat pada zona pertemanan yang nyaman, tumbuhku berlumuran harapan palsu, untuk hari ini aku telah menerima kenyataannya.
















Riwayat Penulis :
Nama          : Wardah
TTL             : Sungai Lumbah, 1 Mei 2000.
Pendidikan : MI Nurussabah, MTS Nurussabah, MA At-Thohiriyah sedang melanjutkan Studi di Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin. Di Jurusan Aqidan dan Filsafat Islam angkatan 2017.
Hoby            : Membaca dan Menulis
Sosial Media
Email       : uw0105200@gmail.com
Wa            : +6285245103964
Instagram : @Wardahcreallynafis















 

0 komentar:

Posting Komentar