Jumat, 06 November 2020

My Love Is as Sweet as Your Salad

 
Namanya Cika dia seorang gadis mungil, imut, berfoni dan berwajah putih, berusia 17 tahun. Selama masa pandemi, dirinya di dera oleh suasana kebosanan. Dunia seolah berubah bagi Cika sepertinya dunia tidak menawarkan rasa manis lagi.
Pada suatu hari Cika menatap Jam dinding, detik-detik sore akan segera tiba, Cika mengalihkan pandangan kepada layar hp yang terus menggodanya untuk main Instagram, hingga dia berhenti pada sebuah gambar layar kotak yang berisi balutan keju, coklat, susu, dan buah-buah an berwarna warni. Apa sih namanya makanan ini, dia terus bertanya pada dirinya sendiri yang sudah terlanjur tergoda untuk membeli, akhirnya dia memutuskan untuk memesan 1 kotak dengan toping keju besar.
Aku mencoba menghubungi owner nya, lewat chat di Instagram.  

Aku tidak sabar menunggu”

cetusnya di dalam hati, tapi dirinya harus menunggu 5 hari pembuatan. Karena Cika mendapatkan pesanan nomor ke 5673. 
Beberapa hari kemudian. 

Terdengar suara merdu yang mengetuk pintu Rumah Cika. Cika dengan cepat membuka pintu tersebut. 

Matanya menatap tajam laki-laki yang menggunakan Hodie Hitam, Celana Jeans berwarna hitam, memakai Sneakers cream, tinggi badannya sekitar 170 cm, tubuhnya sangat tegap, dada bidang, alisnya tebal, matanya cerah berwarna kecoklatan, model rambutnya undercut dan hidungnya mancung.  

Atas nama Cika”..

Dia memanggil nama Cika sembari melepas masker yang di kenakannya, senyumnya begitu manis seperti mau membuat siapa saja akan terkena diabetes, ketika melihat senyum melingkar dibibirnya, sangat manis dibanding glukosa.


Iya aaatas nama Cika, saa aa ya sendiri”, 

Cika menjawab dengan nada cepat tapi tersendat-sendat, jantungnya tidak bisa berbohong, tatapan matanya membuat terpana, detak jantung tidak berdetak dengan batas ke normalan.

Ini pesanan Cika, saya ingin mengantarkan salad buah ini”.

Namanya Salad, rasanya pasti maa niskan” tanya Cika.

hehe iya karena, Kami belum pernah memproduuksi Salad dengan rasa Masam dan Pahit”

Yang ngantar Salad udah manis, padahal belum mencoba gimana rasanya, ah aku ke hilangan topik pembicaraan, laki-laki ini membuat konsentrasi ku buyar, gak punya referensi ngobrol panjang lagi. Bicara Cika di dalam hati.

Mulut Cika hanya bisa mengucapkan 1 kalimat indah, Terima Kasih
Laki-laki tersebut, pulang tak tertinggal sesuatu terakhir yang membuat berkesan, dia melempar senyum kembali.

Cika, Tiba-tiba langsung ke Kamar.

Rasanya ingin sekali aku foto, ku pajang senyum manis darinya, biar setiap aku minum teh manis tidak perlu menggunakan gula, tentu hemat bukan, hanya dengan mengingat senyumanya, yang ku lihat di dinding”.

Dunia seakan di hujani oleh puluhan pelangi. Aku beranjak naik ke loteng menatap biru langit, sambil mengunyah salad. Mood ku benar-benar berubah, Salad ini benar-benar mengalihkan ke jenuhanku. Aku melihat ada sebuah tulisan di Kotak Salad ini yang mencantumkan nama Toko, mereka memproduksi ada sekitar 50 macam variasi dari Salad Buah yang dijual.   
Ternyata toko tersebut tidak jauh dari ke Ramaian Kota.

Aku penasaran ingin membeli Salad Buah kembali, sembari mengharapkan bertemu dengan laki-laki yang mengantarkan Salad di depan Rumahku tadi. Minggu pekan, aku memutuskan untuk pergi ke Toko Salad Buah tersebut. 

Aku mengajak Ceri, teman satu Sekolahku untuk pergi ke Toko. Sesampainya di sana, aku menarik panjang nafas, melangkah maju depan pintu Toko. Setelah ku cek kembali nama toko, persis seperti yang tertera di Kotak.

 Tiba-tiba, aku mendengar ada suara langkah kaki yang menghampiriku dari belakang. 

ada yang bisa saya bantu”. .

Suara ini tidak asing lagi dari memori otak ku, sepertinya aku pernah mendengar suara ini.

Bersambung>>
Continue reading My Love Is as Sweet as Your Salad

Kamis, 05 November 2020

Perjalanan dari Seorang Santriwati di Pesantren hingga Kuliah Memperoleh Beasiswa.

Ayah dan Ibu adalah Malaikatku
Jika saja ku durhaka mendewakan kehendak
Wardah pasti tak dapat bernafas bahagia untuk bergerak.
Ketulusan dan cinta kasih teramat membawa rahmat
Semoga daku dan kedua orang tuaku bahagia dunia dan akhirat

Pesantrean sebuah sekolah yang tidak ada bayangannya di hadapanku, hingga bisa menjadi dari bagian dari deretan para ratusan santriwati disana. Kini identitasku sebatas siswi MTS atau setara dengan SMP, bertransisi menjadi seorang santriwati. Masih saja aku ingat gelang karet yang melingkar pada dua pergelangan tanganku, kegemaran memakai aksesoris yang tidak berharga menumpuk ditangan, sempat menjadi sorotan tajam oleh kalangan santriwati di teras Kelas. Entahlah apa yang di pikirkan mereka, rupanya pernak-pernik yang ku gunakan tidak sejalan dengan kenormalan wanita pada umumnya. Hari pertama untuk mendaftar berat sekali hati ini apalagi langkah kaki, tiba disana untuk mengisi formulir, memesan baju seragam serta melihat anggaran dana yang akan di keluarkan. 
Tidak ada rasa kebahagian yang tergambar pada raut wajahku, ingin sekali Wardah kecewa atas impian orang tua agar Wardah melanjutkan ke Pesantrean. Ingin rasanya berprilaku yang tidak-tidak di hadapan orang tua, tetapi rasanya aku begitu durhaka. Terbiasa manja dirumah adalah pekerjaan yang hanya menyusahkan orang tua, kebiasaan ini tidak akan ku terapkan lagi di Pesantrean. Suasana dirumah tanpa kata ngantri beeubah ketika ku berada disana, harus ngantri suatu kewajiban mau makan, mandi, bahkan sekedar untuk menyuci. 
Malam itu awal perkenalanku bersama seorang gadis imut, wajahnya begitu bulat seperti bola pimpong, matanya tajam berwarna hitam menyorotku agar bersebelahan bersamanya, kami bertukar perkenalan diri. Telah ia berikan identitas dirinya, tak terasa larut malam menerpa rasa ngantukpun mulai menyapa. Oborolan-obrolan manis dan indah tidak lagi terdengar, dinginnya malam mulai bersemayam. Sebelum azan subuh kami mulai terbangun, hamparan manusia seperti ikan teri dikamar Asrama, porak-poranda bergegas mandi dan kemushola. Aku mungkin sudah menceritakan sebelumnya bagaimana perjalanan awalku di.

 https://millenial-inspirasi-id.blogspot.com/2020/01/mawar-yang-mekar-dari-bullyan.html 



Diary
20-24 Desember 2016 Pesantrean Putri At-Thohiriyah

Kilatan langit memotret indahnya malam, terbang melayang dedaunan kesana-kemari hingga jatuh kedasar tanah. Hujan mulai mereda aku ingin pulang, serasa bosan tiap hari menyelimuti kejenuhan, namun aku harus berusaha sabar sebentar lagi akan datang musim libur panjang. Aku belum mengepakan sayapku, ku masih berada disini belum kemana-mana. Ku ingin memulainya dari sekarang dapat menjangkau pelosok-pelosok menjadi seseorang yang berarti, semua cerita hidup-ku, tuk malam ini. Kapan-kapan aku ingin terbang bebas seperti burung membawa pundi-pundi kebahagian. 
    Hanya sebatas kertas sobat yang Wardah miliki, lembaran kertas putih berbalut sampul garis-garis. Menjadi buku pelengkap keberadaanku. Setiap raganya kesana-kemari menginjak bumi, semakin hari kehidupan di penjara suci (pesantrean) tidak terlewatkan dengan tumpukan tulisan-tulisan kecil. Kecewa sedih, suka, maupun duka semua bercampur aduk, mesti tak seperti gado-gado. Menyempatkan waktu untuk menulis, bila tidak siang, maka malam.
Indahnya nuansa Pesantrean baru terasakan setelah tahun ke-2 tepatnya saat berada di bangku kelas 2 Aliyah, Wardah lebih akrab dengan temannya bernama Maya teman pandangan pertama berkenalan di Asrama. Ada kejadian yang tidak akan pernah di lupakan seumur hidup, aku pernah sempat meloloskan diri dari keramaian pagar Pesantrean, berjalan sekitar 15 Km, jaraknya bagaikan lomba lari maraton. Untuk berusaha kabur dan kembali kerumah. Andaikan saja waktu itu telah ada Gojek Online lebih bagus menggunakan jasanya agar tidak menguras banyak tenaga. Banyak tidak percaya mengenai kejadian ini, namanya juga waktu hati terbawa emosi apapun bisa terjadi. Masalah kecil waktu itu hanya sebatas tidak mendapat dukungan dari teman, ia mengannggap aku sosok tidak bisa diandalkan. Menyayat hati saat ada pada titik rasa diskriminasi. Permasalahan tersebut bukan permasalahan serius waktu itu, hanya aku terlalu mengambil hati, seakan pikiran buntu sejadi-jadi. Perjalanan membawa bungkusan emosi dan kekesalan itu sampai ke Istina sederhana yaitu rumah orang tua, anak wanita memang cengeng baru datang telah mengguyurkan banjir air mata kepada ibunya. Ibu bidadari surgaku hampir tidak karuan melihat putrinya datang tiba-tiba, dengan raut muka penuh kesedihan. Ibu mendekam memeluk erat tubuhku seperti ingin menyampaikan sebuah sesuatu dengan isyarat hati, apa sekiranya beban yang kamu pikul nak, sehingga membuatmu lari dari Pesantrean. Tidak ada rangkaian kata menggambarkan isi hati, untuk wardah ucapkan kepermukaan, lidah ini hanya mampu memerintahkan untuk membenci segala sesuatu di Pesantrean, kemungkinan saat itu setan atau semacamnya membisikanku, agar aku secepatnya pindah sekolah.  
Wajah Ibu telah menampakan keluluhanya, walau aku tau beliau orang yang keras kepala, prihal untuk kebaikan pendidikan anaknya. Ibuku merupakan seorang gadis yang dulu hanya berlulusan Sltp. Kerap kali beliau bercerita ingin berusaha melanjutkan pendidikan tetapi tidak ada biaya terhalang pada permasalahan finansial dan banyaknya adik yang harus dibiayai oleh orang tua. Sepertinya Wardah pada waktu itu semacam makluk di permukaan ini tidak mensyukuri nikmat pendidikan yang telah di berikan Allah Swt. Ayah tetap tegas agar Wardah tetap kembali ke Pesantrean. Setelah berjalanannya waktu, Wardah bisa menghadapi permasalahan-permasalahan kecil, Wardah tidak lagi mengambil hati mengenai perkataan kotor yang kadang suka dilemparkan kepadaku, hingga akhirnya kelulusan, Ustadzah memintaku untuk membawakan Pidato terakhir sebagai Santriwati yang Meninggalkan mewakili Santriwati yang akan lulus pada tahun 2017. Berakhirnya Pidato terakhir yang ku bawakan di Pesantren, mampu mengambil hati penonton, ada beberapa orang yang ku lihat menyisakan tangis, karena hari ini akan menjadi hari terakhir kebersamaan kami terukir. Pengalaman beharga ini, sebagai catatan sejarahku berada di Pesantren walaupun awalnya berbagai pengalaman buruk menimpaku dan mencemarkan nama di awal perjalanan, namun akhirnya diri ini mampu berada di akhir kelulusan menutup dengan prestasi. Perjalanan belum berakhir, aku memutuskan untuk Kuliah di sebuah Universitas di Kalimantan Selatan. Hatiku jatuh hati dengan UIN Antasari Banjarmasin.

Pertama kali berniat Kuliah untuk mengambil Jurusan dengan basic agama, menoreh perhatian kurang baik dari keluarga kemungkinan karena Prospek kerja yang kurang nyata dan tidak banyak peminatnya. Niatku sendiri hanyalah ingin belajar melukiskan cita-citaku di jurusan ini. Ku rasa rezeki setelah aku lulus kuliah telah Allah Swt jamin, selagi aku bertawakal kepada-nya. Langkah dan niat ini membawaku ke kampus Islam, terkenal di Kalimantan Selatan yaitu UIN Antasari Banjarmasin. Hari itu Wardah ingat sekali untuk pertamakalinya membuka surat pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT), saat lembaran tulisan angka itu mewakili pembayan kuliah persemster, hari itu Allah berkehendak lain uang yang Ayah pinjam dari nenek pas-pasan apabila ku memaksakan kehendak berkemungkinan biaya kos dan kehidupanku di kampus tidak akan cukup di sebabkan habis untuk membayar UKT, langkahku mulai mundur dan Ayah mengajak-ku untuk kuliah di sebuah kampus Swasta yang lebih murah. Anganku mulai pudar untuk dapat berkuliah di sana, keinginan kuat-ku tidak mematahkan semangat kuliah. Sesampai ditempat kampus swasta aku dan Ayah mampir terlebih dulu di Mesjid Jam’i Banjarmasin untuk Sholat, sesudah sholat ku berdo’a kepada Allah untuk memberikan jalan terbaik, andaikan aku berkuliah di tempat ini mungkin telah Allah garis besarkan hal demikian terbaik untuk-ku. Ku berusaha menenangkan egoku dengan berprasangka baik kepada Allah Maha Kuasa. 
Sungguh ada hal yang langsung menakjubkan seketika hati ini cerah kembali, teman Ayah menelp untuk membantu biaya kuliah ku, benar-benar hal ini sangat menakjubkan tidak ku sangka, rencana Allah sangatlah indah dan jauh lebih indah. Ku goreskan langkahku selanjutnya untuk mengikuti Beasiswa Bidikmisi, aku bersungguh-sungguh optimis jika itu rezekiku kiat dan ulet ku lakukan walau aku tau untuk sebuah nilai rapot yang ku miliki tidak sebagus nilai mereka, aku ketika itu mulai insecure, karena para peserta yang mendaftar diri, rata-rata selalu mendapatkan ranking 3 besar di sekolahnya. Salah satu syarat kelengkapannya adalah sertifikat dan piagam lomba yang menjadi pertimbangan besar. Dari ratusan peserta mengikuti beasiswa mataku melotot terkejut benarkan diri ini bersaing dengan mereka, beberapa persyaratan yang lain menoreh perhatian lebih sehingga harus dipersiapkan sebaik mungkin. Tanpa keluhan ku jalani do’a dan sholat Dhuha ku lakukan. Tak luput do’a mustajab orang tua menyertaiku. Keinginan besar ini untuk membahagiaka dan meringankan beban mereka. 
Setelah seleksi ketiga alhamdulillah dari 3 orang yang mendaftar di jurusan, kami lulus semua dari ratusan mahasiswa baru yang mendaftar. 
Dari sebuah cerita pendek dari perjalanan ini, mengajarkan hidup memang terkadang tak selalu harus sesuai dengan keinginanmu, selalu ada masalah, namun masalahlah yang membawa pengalaman dan pengalaman yang membawa kebijaksanaan.
Kamu dapat berprestasi semenjak pengalaman buruk menghamipiri
Bukan tak mungkin, lakukan keajaibanmu sekarang...

Terimakasih ya Allah, Abah, Mama dan Keluarga Wardah.


Continue reading Perjalanan dari Seorang Santriwati di Pesantren hingga Kuliah Memperoleh Beasiswa.

MENGEJAR ”Menjadi Generasi Maju dimulai dari Generasi Pembelajar.


Gerak Millenial Berevolusi
Negeriku diselimuti nama pemuda-pemudi Sebagai tonggak berdirinya suatu bangsa 
Namun saat dunia dalam genggaman maya.
Pemudaku apatis ideologinya terkikis
Pola hidup beransur tak rasionalis
Literasi teralihkan dengan narasi basi
Prestasi terkalahkan dengan kontroversi
Edukasi terganti dengan sinetron televisi
Yang baik bak samar disebut pencitraan
Yang buruk bak menawan wadah hiburan
Semuanya terkontaminasi
Generasi Millenial menyambut lautan informasi
Melaju kencang, tak ku serahkan pemudaku jadi pecundang
Jadi korban media penipuan
Mengkonsumsi berita tanpa analisis kritis
Seperti asupan racun, sapi perahan.
Pemuda, berjuang, melawan zaman
Dulu berperang guna senjata tajam
Teknologi berwarna buram dan hitam
Sekarang berperang tanpa tumpah darah bercucuran
Tak guna lagi senjata bambu runcing dan senapan
Pintu terbuka kebebasan
Teknologi senjata ampuh mematikan
Silih berganti, mengintimidasi
Berjuang, hidup berseleksi
Generasi berevolusi gunakan koneksi
Tuk kedepan membangun inspirasi.

 

Terimakasih sahabat “mengejar” yang membaca tulisan ini nanti akan Wardah bagi beberapa jilid agar memudahkan para sahabat untuk membacanya. Tulisan ini dipersembahakan untuk seluruh anak muda Indonesia :-D

“Megejar” = Menjadi Generasi Maju dimulai dengan Generasi Pembelajar.

 

A. Generasi Maju

Mengutip dari sebuah pesan yang ditulis oleh Najwa Shihab, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai ilmu pengetahuan dan menjadikan bacaan sebagai bagian dari kehidupan”. Jika kita melihat rutintas bangsa besar bukan hanya terlihat dari seberapa mewah fasilitas negaranya namun nampak bisa kita lihat betapa pedulinya bangsa tersebut terhadap pengetahuan, selalu belajar demi mengasah keterampilan untuk membangun negerinya.

B. Aktivitas Belajar

Belajar adalah sebuah aktivitas yang menyenangkan buat sebagian orang, bagaimana tidak dengan terhapusnya ketidaktahuan diganti dengan ilmu pengetahuan baru akan memperbanyak wawasan kita. Sekiranya perkataan ini sangat benar untuk mewakilkan, siapa yang tidak sanggup menahan lelahnya belajar maka kita akan selalu mengasuh kebodohan dan tunduk dengan ketidaktahuan tersebut.

Pernahkan kamu belajar beberapa hari sebelumnya ulangan tiba?

Hasilnya yang kamu peroleh sesuai usaha kamu, benar tidak, jika kamu sungguh-sungguh akan mendapatkan hasil yang memuaskan, jika hanya belajar sepintas saja, maka juga memperoleh ilmu sekilas saja. Maka dari pada itu belajarlah sungguh-sungug niatkan belajar bukan hanya ingin mendapatkan nilai tinggi, namun juga untuk mencari ridho Allah, melawan kebodohan dan menjadi hamba yang cerdas agar menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lain.

Tidak mau belajar tapi ingin pintar? Semoga bukan kamu ya, tapi jika itu kamu, mari melangkah untuk mengubah perilaku tersebut. Teman saya pernah mempunyai pengalaman menarik. Betapa gelinya saat saya mendengar curhatan salah satu mahasiswa ini, saat ulangan tiba, teman-temannya bergerombol melakukan tukar menukar kunci jawaban saling diskusi lempar jawaban kesana kemari. Naasnya saat itu mungkin jawaban semuanya mampu terjawab, setidanya lembar jawaban terisi tidak kosong dan tidak bewarna putih tanpa tinta. Saat tiba pembagian hasil ujian, mereka serentak tidak lulus mata kuliah tersebut. Memilukan bukan, nyontek berja’maah dan tidak lulus berjama’ah.

 

C. Urgensi Menuntut Ilmu

Mu’adz bin Jabal pernah mengungkapkan pendapatnya mengenai ilmu.

“Pelajariah ilmu, karena mempelajari ilmu adalah (bukti adanya) rasa takut kepada Allah Swt, menuntut ilmu adalah suatu amaliah bernilai ibadah, mendiskusikan ilmu adalah tasbih, mencari ilmu adalah jihad (melawan kebodohan) mengajarkan ilmu adalah sedekah, dan berbagai ilmu dengan keluarga adalah upaya mendekatkan diri kepada Allah Swt”. Hal ini di karenakan adalah rambu-rambu mengenai halal dan haram, mencusuar dan jalan bagi penghuni surga, teman di kala sepi, sahabat di tempat yang asing, lawan bicara di kala suka dan duka, senjata menghadapi musuh dan perhiasan di mata kawan.

Imam Ahmad berkata: “Manusia lebih membutuhkan ilmu dibanding makan dan minum, karena makanan dan minumanan dibutuhkan manusia satu atau dua kali dalam sehari, akan tetapi, ilmu selalu di butuhkan manusia setiap saat” (Thabat Al-Hanabilah,1:146).

Begitulah sahabat, ilmu bukan hanya kita perlukan seketika waktu ujian sekolah atau kuliah saja, melainkan setiap hari. Saya teringat perkataan dari salah satu dosen saya Ustadz Ahmad, sekarang beliau melanjutkan Studi S3 di Jakarta, semoga Ustadz selalu diberikan kesehatan dan keberkahan. Beliau pernah berkata:”Waktu saya kuliah dulu, saya sering membeli buku dari uang beasiswa, sehingga sekarang saya mempunyai Perpustakaan pribadi dirumah, bagi saya ilmu bisa mendatangkan uang, jika uang yang dimanfaakan dengan sia-sia akan habis dengan cuma-cuma”. Apa yang beliau katakana benar, jika seseorang yang mempunyai impian tinggi, akan susah di capai jika tidak dengan ilmu. Siapa yang tinggi cita-citanya maka tinggilah martabatnya, dengan cara membeli buku untuk memperkaya wawasan merupakan salah satu tanda bersyukur, bukankah sudah Allah janjikan barang siapa bersyukur atas nikmat yang Allah berikan, maka ia akan mendapatkan tambahan nikmat.

     Menurut Imam Syafi’I ilmu di dapat dengan 6 hal yaitu:

1. Kecerdasan 4. Biaya

2. Semangat 5. Petunjuk Guru

3. Kesabaran 6. Jangka waktu yang panjang

Disini kita belajar, bahwa mendapatkan ilmu itu perlu proses, tidak instan. Seseorang yang menuntut ilmu haruslah mempunyai pengalaman dan perjalanan panjang. Orang yang pintar tidak akan ditularkan begitu saja tanpa belajar bahkan sekalipun dari keluarga yang ternama. Ilmu tidak dapat diwarisi hanya karena ayah mereka seorang Profesor, Ulama dan lain-lian.

Al-Farwi penah bercerita, Kami pernah duduk di Majelis Imam Malik. Pada saat itu putranya keluar masuk majelis dan tidak mau duduk menetap untuk belajar. Imam Malik menghadap kami seraya mengatakan: ”Masih adakah yang meringankan bebanku, yakni masalah ilmu ini tidak dapat di wariskan.” [1] . Benar gak temen-temen pengetahuan itu harus dicari meskipun orang tua atau keluarga kita orang terpandang, kita harus tetap belajar, karena pengetahuan tidak bisa mewarisi seperti harta.

 

D. Mengenali Motivasi Belajar

Motivasi adalah suatu gejala psikologis dalam bentuk dorongan yang tumbuh dalam diri seseorang secara sadar atu tidak sadar untuk mengerjakan suatu tindakan dengan sasaran tertentu.

Dari berbagai penelitian menyatakan bahwa motivasi mempengaruhi prestasi belajar seseorang. Tinggi rendahnya motivasi juga dapat dijadikan indikator baik buruknya prestasi belajar seseorang. Jika kita menginginkan percapaian yang bagus maka kita harus mempunyai motivasi kuat dalam belajar, karena terdapat tiga fungsi motivasi dalam kehidupan kita:

 

a. Motivasi sebagai Penggerak Perbuatan

Sebuah motivasi dengan keinginan kuat akan melahirkan kekuatan belajar yang tak terbendung, dari sini kita akan merasa bahwa proses belajar bukanlah suatu beban, dapat menjelma menjadi aktivitas dengan segenap jiwa dan raga. Akal pikiran akan berproses dengan sikap raga yang cenderung tunduk dengan kehendak perbuatan belajar.

 

b. Motivasi sebagai Pendorong Perbuatan

Untuk mendorong seseorang menyukai belajar adalah dengan menumbuhkan sikap ingin tau, sikap menyadari bahwa dirinya dalam keadaan bodoh yang memerlukan pengetahuan, karena sejatinya pengetahuan adalah cahaya yang akan berhasil membawa manusia tersingkir dari gelapnya kebodohan serta belajar adalah jalan yang akan memperkaya pengetahuan untuk menghindarkan diri dari miskinya wawasan. Dengan menumbuhkan keyakinan akan pentingnya belajar akan memupuk rasa ingin tau yang tinggi maka sikap itulah yang mendasari dan mendorong ke arah sejumlah perbuatan dalam belajar, sehingga motivasi sangat mempengaruhi pengambilan sikap yang seharusnya kita ambil.

 

c. Motivasi sebagai Pengarah Perbuatan

Seorang pembelajar akan mempunyai motivasi disiplin, kapan seharusnya dia harus berhenti bermain gadget, kapan seharusnya dia belajar dengan menyeleksi mana pekerjaan rutinitas dan mana sesuatu yang diprioritaskan. Segala sesuatu yang dirasa mengganggu aktivitas belajar dan dapat membuyarkan konsentrasi diusahakan untuk disingkirkan jauh-jauh, agar tidak mengganggu proses belajar.

 

Nah itulah sahabat “mengejar” mengapa pentingnya motivasi sebagai peranan penting yang dapat membuat kontrol belajar lebih efektif.

 

Apabila kita mempunyai keinginan yang kuat, maka kita perlu dorongan motivasi untuk mewujudkan keinginan tersebut. Jika hanya dengan afirmasi atau niat, tanpa motivasi tentu belum cukup mewujudkannya. Semisal “Saya termotivasi tinggi untuk menjadi pembelajar sehebat Nazhwa Shihab”, adalah sebuah contoh kalimat yang digunakan untuk menggerakan kinerja pada diri kita dengan baik, hal demikian menuntun anda untuk kembali bangkit disaat situasi sulit.

Ketika sahabat “mengejar” mempunyai keinginan yang besar, yang harus kita lakukan adalah kerja keras dan kerja cerdas agar tidak membuang-buang energi dan waktu. Jika kita kurang mempunyai inisiatif dan kemauan untuk mewujudkannya, hal ini dikarenakan kurangnya energi pendorong dari dalam diri kita sendiri, energi tersebut dapat kita peroleh dari motivasi yang nantinya akan meningkatkan inisiatif dalam membantu mengarahkan energi untuk mencapai apa yang kita inginkan.[2] 

Lakukanlah langkah demi langkah dalam belajar untuk menambah wawasan, memahami sesuatu yang sebelumnya belum dimengerti agar menambah kapasitas pengetahuan kita, hal penting lainnya kita mengetahui secara jelas alasan-alasan mengapa kita semangat dalam belajar, pencapaian apa yang kita ingin wujudkan, kita harus percaya pada kekuatan-kekuatan yang berada pada pikiran, harus kita tuangkan secara jelas dengan menulisnya mulai dari sekarang.

Motivasi sangat erat hubungannya dengan emosi, yang mana keduanya memerlukan proses agar dapat tercapainya suatu keinginan dari diri kita, sehingga ada beberapa sikap belajar yang harus kita tanamkan yaitu.

Bersikap gigih, terus berlatih, yakin pasti bisa karena belajar, bagian penting lainnya adalah membungkam niat mengkritik diri sendiri. Setuju?

 Istilah emosi yang diperoleh melalui motivasi berkaitan dengan energi ataupun hasrat dalam mengerjakan sesuatu, seperti anda lebih bersemangat dan riang, energi yang terkumpul akan menunjang konsentrasi dalam belajar. Semakin anda gigih dalam belajar anda akan menjadi seorang yang mencintai ilmu pengetahuan maka energi yang anda keluarkan akan besar, anda akan menjadi semakin tertantang untuk belajar terus menerus, namun ketika anda lesu tak bersemangat, keseluruhan proses belajar terasa membosankan dan sepertinya sangat berat bahkan bisa membuat konsentrasi menurun.

Mengutip perkataan dari Dr. Mihaly Csikszentmihalyi dari Universitas Chicago dalam buku Jordan E Ayan, berjudul Bengkel Kreativitas, yang menyatakan bahwa dirinya telah mengidentifikasi tinggi rendahnya suatu energi dari motivasi yang termuat sebagai usur penting dalam keberhasilan kekayaan intelektual. Melalaui risetnya dia memberitahukan hasilnya bahwa orang-orang menjadi sukses dalam belajar dan mengerjakan tugas ketika dia melampaui suatu keadaan yang dinamkan flow atau mengalir. Ketika berada pada keadaan ini tingkat energi menjadi tinggi dan ketajaman mental seperti konsentrasi akan menggelora. Pada situasi ini anda seakan menyatu dan meraskan lezatnya belajar sehingga anda benar-benar mengerjakan tugas, menuai hasil yang lebih produktif dan penuh wawasan.[3]

 

E. Tips Belajar

Semua pencapian manusia dimulai dari pikirannya jika anda ingin belajar tapi anda sudah menjustifikasi bahwa diri anda tidak mampu, pecundang, orang yang akan mengalami kegagalan. Tentu pikiran negatif yang anda tanamkan akan membuahkan hasil yang tidak bagus. Jika anda mengubah diri anda menuju kearah yang lebih baik, anda harus memikirkan caranya. Manfaatkan kekuatan pikiran anda. Anda harus mampu menguasainya dan tidak mudah dipengaruhi oleh orang lain, kita mempunyai pikiran yang rasional, ini adalah aset dari tuhan yang luar biasa, bahkan teknologi yang canggihpun adalah hasil dari rasio. Rasio akan mampu membantu anda dalam menganalisis, memecahkan masalah, mengetahui sebab-akibat dan tata cara mengerjakan sesuatu. Kita harus menyadari memang benar adanya bahwa tidak ada orang yang belajar selalu mendaparkan kesempurnaan dengan mulus karena hal yang instan hanya di dapatkan pada seseorang yang suka plagiat atau copy-paste. Jika tedapat hambatan dalam proses belajar jangan berputus asa kita tetap fokus perhatian pada hal yang positif dengan begitu hasil yang kita dapatkan kita mampu menghargai diri kita sendiri, hal itulah yang menjadi poin yang sangat penting.

Tips belajar dengan memahami jalan kinerja otak.

1. Jam 4 hingga jam 5 Pagi adalah waktu terbaik untuk menghafal

2. Jam 7 hingga jam 9 Pagi saat terbaik untuk meningkatkan semangat

3. Jam 9 hingga jam 11 Siang, waktu terbaik untuk melakukan kreativitas

4. Jam 11 hingga jam 2 Siang, saat terbaik untuk melakukan tugas yang sulit

5. Jam 14:00 hingga jam 15:00 saat terbaik untuk melakukan istirahat

6. Jam 15:00 hingga jam 18:00 saat terbaik untuk melakukan kolaborasi

7. Jam 20:00 hingga jam 4 pagi waktu terbaik untuk Istirahat Malam

                          

IDENTITAS PENULIS

Penulis ini bernama Wardah, mirip sekali dengan nama kosmetik. Gadis Muda kelahiran Tabunganen. Kini di usianya menginjak 20 tahun telah memasuki Semester 6, ia semakin sering mengukir tulisan dari bidang fiksi dan Ilmiah. Selain itu ia juga aktif diberbagai organisasi yang dipandangnya sebagai cara mengaktualisasikan buah piikiran tulisannyanya. Ia selalu bertekat untuk semuda mungkin mencapai kesuksesan. Dia sangat termotivasi pada sosok perempuan hebat, Nazwa Shihab yang menjadi referensi pemikirannya,

Menurutnya melepaskan segala beban dengan menulis, saat itu juga terasa lega, duka akan hilang dan keberanian itu terlahir kembali. “Pulihkan luka dengan menulis bukan meringis”.

 

Beberapa Akun Sosmed yang dia miliki

Instagram : Wardahcreallynafis

Email : uw01052000@gmail.com

No Whatapp : +6281649065245

 


[1]Arif Rahman Lubis, The Real Muslimah; SebabTindakan Hari Ini Menentukan Masa Depan kita, Quantum Media: Cianjur Jakarta Selatan, 2016. Hal71.

[2] Anom Whani Wicaksana, Belajar Kepemimpinan dari Plato, (Jawa: Klik Media, 2018) Hal 65.

[3] Jordan E. Ayan, Bengkel Kreativitas, (Bandung: Media Utama, 2002) Halaman 47-48.


Continue reading MENGEJAR ”Menjadi Generasi Maju dimulai dari Generasi Pembelajar.

Rumus Dunia; Cerita Nyata Menjadi Manusia yang Berlapang Dada.



Setelah beranjak dewasa sepintas ku melihat rumus dunia semakin terbuka. Sewaktu ku kecil aku seakan menjadi anak perempuan yang paling bahagia di dunia, bagaimana tidak sebagaimana seorang anak pada umunya aku sangat aktif bahkan hiperaktif dalam bermain dan belajar. Aku mempunyai 3 sahabat mereka bertetangga dekat denganku, namanya Rabiah. Arba’i, dan Nor Halimah. Urusan bermain akulah jagonya mengonsep, terkadang aku bermain hingga lupa waktu. Dari ketiga sahabatku, akulah paling tua diantara mereka namun tubuh kecilku ini hampir menandakan sepantaran dengan usia mereka. Rabi’ah adalah sosok anak perempuan periang, ramah, pemurah dan penolong. Karena sifat baiknya tersebutlah banyak orang yang menyukai bergaul dengannya, termasuk juga aku. Ada-ada saja hal yang kami lakukan, biasanya akulah dalangnya seperti membuat video komat kamit dengan lagu Keong Racun atau menari ala-ala Cherybell. Kalau Imah adalah sosok anak yang suka meraju tak bisa dibuat bercanda, biasanya yang usil aku dan Arba’i yang suka membuatnya menangis, setelah dia remaja bagiku dia malah terlihat dewasa dari sifatnya ketimbang aku. Terakhir Arba’i bisa ditebak bukan orangnya usil, terkesan polos padahal anak ini suka jahil dan dia senang melawak, walau lawakannya garing gak lucu, namun ia memiliki suara emas yang menakjubkan yang sering mensyairkan lagu Arab. 
Berjalannya waktu, aku memutuskan ke Pesantrean sedangkan Rabi’ah dan Imah satu sekolah yang jaraknya sekitar 6 Km dari rumah. Kalau Arba’i memutuskan untuk merantau ke Pesantrean yang jauh dari kampung halaman, mungkin ia ingin mencari suasana baru dari lingkungan belajar agama yang lebih kondusif. 
Aku sekarang Kuliah sedangkan sahabatku yang lain masih Sekolah Menengah Atas, siapa yang tahu kehidupan seiring perpindahan waktu. Rabi’ah yang masih berusia 16 tahun dikabarkan meninggal dunia hanya karena sakit yang dideritanya selama tak lebih dari satu minggu, Ibunya terpukul parah karena tidak mampu menahan kesedihan yang terjadi secara dadakan. Aku memutuskan pulang dan mengunjungi ke makamnya. Tangisanku seketika menetes ke Tanah, aku bersama adik-ku. 
“Sauki taukan bahwa almarhumh teman kaka ini, usianya masih muda, namun Allah ambil nyawa manusia tak mengenal batasan usia, mau muda ataupun tua.
Adik ku yang baru berusia 8 tahun menganggukan kepalanya, entahlah apakah dia paham dengan perkataan yang barusan ku ucapkan. 
Kini aku kuliah sudah menginjak tahun ke 3 pada semester ke-6. 
2 bulan lalu, aku melihat nenek dan mamanya temanku Imah bernama Ibu Ina mereka sedang asyik memulai obrolan. Nenek ku baru saja selesai operasi katarak, senyumnya yang lebar menandakan bahwa nenek lagi bahagia mensyukuri karunia yang tuhan berikan karena keberhasilan operasi tersebut. Tidak jauh beda Ibu Ina walaupun dalam keadaan sakit, masih bisa bercanda ria sambil menikmati obrolan, sesekali aku membuat guyonan untuk menyapa.
Waktu tetaplah waktu akan terus berjalan tanpa bisa menunggu siapa yang lebih dulu dijemputnya. Hanya dalam kuruan waktu 2 bulan saja aku menjumpai mereka, tuhan memanggil nenek ku juga Ibu Ina. Nenek ku tiba-tiba mengalami stroke setelah beberapa hari dibawa ke Rumah Sakit kemudian dirawat di Rumah, sedangkan Ibu Ina mengalami sakit yang semakin parah. 
1 Bulan kemudian...
14 April 2020.
Hari ini pembelajaran beharga dari diriku, bahwa resiko pekerjaan orang tuaku melebihi kesusahanku. Mungkin aku sering sakit kepala akibat banyak pikiran, gak sampai membuat anggota badanku terluka. 
Sama seperti anak Petani lainnya, aku tak ingin pulang menjadi Sarjana yang hanya membawa wacana atau kuliah sekedar main-main. Disini mereka rela mengorbankankan nyawanya hanya untuk biaya anak-anaknya.
Pagi itu sekitar jam 6 pagi, aku berjalan santai bersama adik, karena aku mulai lelah dengan aktivitas bermasalasan di Rumah akhirnya aku memutuskan untuk berjalan santay/joging. Mama melihat kearah kami dan menyapa dengan senyum sambil meledek adik-ku yang makan sambil berjalanan. Sampai akhirnya aku memutuskan ingin membersihkan halaman samping Rumah, tanahnya bagus ingin sekali aku hiasi taman, pikirku dalam hati. Aku masuk ke dalam Rumah, dan meminjam pisau tajam, kalau orang Banjar bilangnya Parang .

Ku gunakan untuk membersihkan rumput di halaman samping Rumah. Mama menoleh padaku dan berkata: “Awas jangan sampai menggunakan parangnya ke Tumbuk Batu nanti mantul, bisa luka kena tebasan parang.”. I ya Ma, ini udah Hati-hati. cetusku di dalam hati.
Tak terasa pagi itu menjelang pukul 7 pagi, orang tuaku menyempatkan waktu ke Sawah karena rencananya jam 10 akan melayat ke Rumah Paman di Tamban Km 15. Jadi ke Sawahnya bakalan bentar aja.



Gak kerasa waktu udah mau menunjukan pukul 10:00 pagi, Mama mau menuju Rumah sembari berjalan kaki, disaat pertengahan jalan Mama malah berhenti untuk membantu Abah memotong rumput, Mama memang seperti itu tak tega melihat tugas yang belum selesai. Gak tau lah yang namanya kejadian dan musibah dari Allah, benda tajam itu membuat luka jari Mama, Ayah berteriak dan menyebutkan namaku: ‘”Wardah ambilkan kain”. Aku mendengar dan tergesa-gesa karena tdak biasanya, mendengar Abah bicara sekeras itu. Entah mengapa waktu itu malahan yang telingaku dengarkan. “Wardah adingmu tenggelam”. Padahal setahuku adik-ku bisa berenang.
Akhirnya pendengaranku jelas, setelah aku memutuskan untuk keluar Rumah, aku bawa selembar kain baju dan adik ku tergopoh-gopoh membawa kain itu menuju m
Mama dan disana ada Abah berada disamping, kain itu cukup untuk menghentikan darah yang berucucuran terus menerus di jari mama.
Mama bilang dari kejauhan sekitar 15-20 meter dari tempatku berada, aku mendengar bahwa jari jempol kiri mama terpotong oleh Parang itu, Abah dan Mama memintaku untuk lekas menuju Puskesmas agar aku dapat memanggil Para tenaga medis untuk menjahit luka dijari Mama. Setelah aku sampai depan Puskesmas di desaku, pintunya tertutup dan disana tak terdengar ada suara seseoarngpun, ku ketuk pintunya namun masih tidak ada yang merespon. Dari pada ku mengetuk pintu namun tidak ada jawabannya, aku memutuskan agar tak mebuang waktu dengan pecuma, aku bergegas bertanya dengan orang terdekat disana.
“Bu, apakah pegawai Puskesmasnya ada.”
“Mulai kemaren belum terlihat dah, memang ada apa Wardah”.
”Ini bu mama kena Musibah, jarinya luka waktu ke Sawah kena Parang, ya kalau begitu, kami mau ke Puskesmas di Kecamatan, mudahan disana buka ya bu. 
“Inggih Wardah mudahan buka, hati-hati ” dengan wajah beliau penuh iba padaku.
Aku mulai cemas, bertanya di dalam hati. Apakah saat pandemi virus ini banyak yang libur termasuk Pegawai Puskesmas. Tapi pikirku tetap Positiv dan tetap Huznuzan.
Setelah sampai disana, syukur Puskesmasnya buka. Ku pandang adik-ku matanya berair melihat keadaan Mama secara dadakan seperti itu, aku tetap menahan bendungan dimataku walau beberapa kali ingin rasanya ku hempaskan. Bagiku tak ada kata-kata yang indah terucap selain zikir dan sholawat.
Abah lebih dahulu disana, kami yang baru saja sampai hanya diberikan izin oleh petugas puskesmas untuk menunggu diluar saja. Karena kondisi pandemi ini, aku dan adikku mengikuti aturan. Aku melihat ke arah Abah, mata beliau menandakan beribu-ribu kali lebih cemas dari diriku, sembari menyentuh jempol tangannya, mungkin Abah masih terbayang melihat kejadian tersebut.
 Tak ada yang dapat mengontrol hati seseorang terkecuali pikirannya. Hanya kata-kata itu yang dapat menyinari pikiran di kepalaku. Abah pergi ke arah kami:
“Nak jari jempol mama gak bisa dihubungkan lagi, karena hanya kemungkinan 50% jadi harus dipotong keseluruhannya baru bisa dijahit, jikapun dipaksankan takutnya nanti infeksi dan menjalar ke dalam”.
Inggih Bah, kalau itu yang baiknya.
(Lamunanku menggiring pada waktu beberapa saat, padahal mama memperingatiku sebelumnya malah mama yang kena, rasanya mama terlalu hebat bagiku, bukan bekerja di Sawah saja yang dikerjakan terkadang mama masih sempat-sempatnya menjahit). Setelah semuanya selesai kamipun pulang dengan menggunakan dua kendaraan. Aku dengan adik-ku pulang lebih awal untuk membereskan rumah. Tak berapa lama nenek ku (Ibu mamaku) datang dengan paman, setelah sebelumnya ku hubungi lewat bibi. Nenek langsung masuk ke Rumah menjenguk mama, mata beliau berbinar-binar. Nenek ku memang hebat hingga usia senja beliau selalu perhatian ke seluruh anak-anaknya, termasuk mamaku. 
Kata nenek: “Tadi dapat kabar dari anak nenek yang satunya, dengan keadaan menangis menyampaikan musibah yang ditimpa mama”.
Dari awal hingga saat ini mama tak ada mengutarkan kalimat putus asa ataupun keluhan yang tak menerima kenyataan.
Sesudah kesusahan pasti ada kemudahan. Itulah janji tuhan yang selalu aku ingat.
Aku tak bisa menebak bagaimana rasanya kehilangan satu jari untuk seumur hidup, jari yang begitu berpengaruh terbilang karena Mama adalah wanita yang sangat aktif, pandai memasak, menjahit dan lain-lain. 
Tapi bagaimapun kehidupan ini akann selalu memberikan cobaan untuk menguji seorang hamba, mana yang mampu melewati ujian ini dengan sabar. :-).
Kita tidak akan tau kapan sebuah musibah akan menimpa kita, hanya saja kelapangan dada, keikhlasan dan kesabaranlah yang harus kita persiapkan agar kita mampu mengambil setiap pelajaran dari cerita kehidupan yang kita lalui.  




Continue reading Rumus Dunia; Cerita Nyata Menjadi Manusia yang Berlapang Dada.