Sabtu, 25 Januari 2020

KELUARGA SEDERHANA


Menularkan Energi Positif pada Adik.

      Sudah sepatutnya aku bersyukur yang tiada henti disaat usiaku kini beranjak 20 tahun, hitungan usiaku dapat dihitung dari melihat 2 angka terakhir tahun Masehi. Aku mempunyai seorang adik, kini  adik-ku berusia 9 tahun, menjadi seorang adik sekaligus obat vitamin dalam keluarga, dia imut lucu dan menggemaskan. Lemak yang berada dipipi tembemnya  belum bisa tirus, masih seperti kala Bayi. Dia rajin sholat maghrib, saat sore tiba tanpa menunggu wudhu di air keran, aku dan adik-ku menuju sungai mengambil air wudhu langsung dari sumbernya. Aku menoleh kepadanya, kataku gunakan ini untuk muka !. (Sabun cuci muka) hehe. Aku mencoba iseng padanya, tapi ku yakin sabun itu tidak berdampak parah pada wajahnya, akhir-akhir ini wajahnya menghitam karena sering main kelereng ditengah terik matahari. Beginilah bahayanya jika mempunyai kaka wanita sepertiku. Adik-ku seperti bermain di Gurun Pasir saja, gumamku. Melihat wajahnya yang suka berteman dengan matahari secara langsung setiap hari.

     Kemaren aku menyediakan punggung untuk naik kerumah bersamanya, beratnya masing ringan untuk digendong, tapi pada hari ini aku telah memberikan padanya sebuah gayung mandi diisi dengan air untuk cuci kaki digunakan setelah berjalan sampai di Hambin belakang Rumah. Aku tak mengajari adik ku untuk manja dengan membuat kebiasaan yang membuat dirinya malas. Adik-ku mengambil sajadah, mataku mengisyaratkan padanya untuk menunggu ayah, agar sholat berjama’ah. Kali ini aku perintahkan dia untuk Qamat, sebelumnya ku puji suaranya begitu merdu, pujianku sepertinya hiperbola yang bermaksud agar dia melakukan apa yang ku suruh. Faktanya permintaanku dikabulkan. Setelah Qamat dia melirik kebelakang sajadahku. Aku mengacungkan jempol padanya dengan senyum cantik 5 cm, sebagai isyarat bahwa dia telah sukses mengumandangkan Qamat dengan suaranya yang luar biasa merdu sekali. Setelah sholat berjama’ah dan bersalaman dengan ayah, adik-ku mengajak-ku mengaji dengannya, ku beri syarat padanya, boleh mengaji denganku dengan syarat harus 2 dua lembar, biasanya dia mengaji cukup satu lembar itupun kalau dia rajin kata Ibu. Adik-ku yang biasanya pemberontak dan malas tiba-tiba menurut tanpa ku iming-imingi sesuatu apapun, dia selalu mengajak-ku untuk bermain. Setelah mengaji, aku melemparkan pertanyaan padanya. “Apa ada PR hari ini”. Dia mengambil segera buku memperlihatkan PR Matematikanya, ini adalah mata pelajaran yang disukainya, jadi aku tidak heran dari empat soal dia telah mengerjakan dua soal sebelumnya. Adik ku belum mengerti menghitung pembagian, aku mengerti rumus pelajaran kelas empat sekolah dasar ini dan mengajarinya, sebentar lagi selesai, dia memberi ide untuk menjawab soal nomor 3 dengan mengambil buku coretan dan setelah itu tiba-tiba dia dapat menghitung pembagian cepat sekali, seperti seorang siswa yang mengikuti lomba olimpiade Matematika, ternyata aku tidak salah sangka dia tertawa cekikikan melihatku, aku membalasnya dengan mata melotot seperti Banteng yang melihat kain merah. Dia memperlihatkan hasil hitungan yang di dapatnya dari kalkulator HP Ayah. Astaga.! Bocaaah, Sorak ku. Ayahku tetawa melihat kami berkelahi kecil. Soal terakhir nomor 4, aku tidak membiarkan dia kemana-mana tetap dalam kandang ancamanku, waktu itu aku benar-benar lupa bagaimana cara menghitung pembagian dengan jumlah besar, hahahaha.

      Aku menuju kepada Ayah dengan jarak 2 meter dari keberadaan kami,  aku bermaksud minta “Rukyah” maksudku minta sadarkan kembali, agar dengan sekejap  membongkar memori pembelajaran yang dulu ku pelajari waktu sekolah, aku berhasil mengingat pembagian ini, bisa dimaklumi setelah aku kuliah dengan jurusan yang notabennya berpikir ilmiah dan rasionalis tanpa melibatkan angka sedikitpun, aku menjadi amnesia bagaimana cara menghitung pembagian dengan jumlah besar yang benar.  Setelah aku mengingat caranya, segera ku praktekan pada adik-ku, “Begini belajarnya,, cara bagi-nya,, jangan gunakan Kalkulator, berhasil dengan cara curang itu tidak membuatmu sukses”. Otaknya bekerja dengan bagus syarafnya merespon cepat bagaimana cara menaklukan soal hitungan mata pelajaran matematika ini...hmmm’MUDAHKAN’. Tanyaku, padahal aku baru saja kesulitan mengingat pelajaran matematikanya.

“Ajarkan pada anak kecil pentingnya kejujuran sejak dini, sebagai pembentukan karakter dengan sifat-sifat terpuji".







Continue reading KELUARGA SEDERHANA

Jumat, 10 Januari 2020

TAK SEORANGPUN DAPAT MENJAMN CINTA SEMASA SEKOLAH BERSINAR DI MASA DEPAN





Seindah apapun langit yang pernah di tatap bersama, bisa berubah hanya karena ada badai. Itulah gambaran kisah percintaan Lyna Resti, serang gadis yang selalu ceria, berwajah manis, ia sangat pandai bergaul dengan siapapun, ia mempunyai keunikan pada bagiam bola matanya berwarna biru langit, tentu warna tersebut bukan dari kontak lensa yang sering di gunakan wanita ibu kota. Tinggi badannya sekitar 160 cm, ukuran normal untuk remaja Asia. Dengan kecerdasan dimilikinya kepercayaan dirinya untuk segera melanjutkan Study-nya ke sebuah Universitas ternama di kota. 6 bulan sebelum kejadian tersebut. Ia bertemu dengan seorang lelaki berwajah tampan, hidungnya mancung, matanya indah sekali bagai sinar bintang di langit malam, beralis tebal melambangkan seorang lelaki yang amat percaya diri, bahkan mempunyai postur tubuh berisi dan tegap, membuat wanita menilainya begitu gagah. Tapi anehnya lelaki itu di juluki si Biang Kerok Jenius.
Semakin hari sifat dinginnya berubah, ia begitu jaim dulunya di hadapanku. Sesekali aku menertawakannya saat ia bermain basket sendiri di lapangan. Mukanya begitu kesal rupanya ia lagi ada masalah. Aku memanggilnya, untuk pertama kali “Mi-Reyhard”. Ia menoleh kepadaku, namanya memang sangat unik, anak lelaki berdarah Jepang tersebut. Situasiku saat itu yang sedang duduk manis bersama buku. “Kamu Kaka kelas yang kutu buku itukan, ada apa kka, kok memanggilku”. Tenang, gak usah bicara terlalu formal, entah mengapa dia tau aku beserta kebiasaanku. “Kamu Si Jenius itukan, yang memenangkan Olimpiade Matematika Se-Asia.” Ia tersenyum, berlari membawa bola duduk di samping-ku, dengan jarak sekitar 2 meter. “Mengapa kamu mentransfer kekesalan dengan bermain basket”. Tanyaku. “Tak apa kak, saya lagi kesel. Lagi pula fasilitas sekolah tidak saya hancurkan he”. Ia tersenyum nyingir. Ia bercerita banyak hal, yang tidak pernah aku ketahui. Bagaimana ia memenagkan Olimpiade Matematika di Jepang waktu ia duduk di Kelas 3 SMP, tentang hoby-nya, memahami rumus, dan menghafalnya pada waktu tengah malam, bahkan ia juga sedikit bercerita tentang keluarganya yang lagi ada masalah.
Saat itu aku bersama Elena teman super cuek, yang hoby-nya nonton Filem Korea dan bermain gadjed, ia lagi fokus dengan Hp-nya. Ia duduk di sampingku sambil memakai Earpone warna putih kombinasai Pink.
Waktu berlalu begitu saja, aku tidak pernah naksir dengan teman cwok sekelasku bahkan biarpun terkenal sangat pintar dan tampan, sering kali diantara mereka mengajak-ku makan bareng, aku selalu menolaknya dengan alasan bermacam-macam. Sifat Friendly kesemua orang mungkin membuatku banyak mempunyai sahabat, tapi tidak untuk pasangan.
Aku bertanya dengan hatiku sendiri ada apa dengan dia. Entah mengapa aku selalu memperhatikan Si Biang Kerok itu, kemaren aku melihatnya di panggil lagi keruangan BK. Entahlah apa yang dia perbuat mungkin salah satu penyebabnya ada permasalahan dalam keluarganya, dimana ia sering membuat ulah di sekolah. Mengherankan seperti dia sangat berprestasi.
Aku selalu bilang kepadanya untuk tidak bicara formal apalagi hingga memanggilku dengan sebutan “Kaka”. Ia mengerti, tetapi kerap kali ceroboh dan tetap memanggilku Kaka berulang, aku lebih tua darinya 2 tahun. Saat itu untuk pertama kalinya ia ke Perpustakaan, ia sangat jarang sekali kesana padahal ia terkenal pembelajar seperti yang dikatakan teman-temannya. Mungkin karena terbilang anak orang yang kaya raya lebih sering membeli buku. Ternyata benar ia keperpustakaan untuk belajar, bukan untuk meminjam buku. Aku berjalan di hadapannya menaruh beberapa buku, ia mulai meledek ku. “Kak Lyn, yang cantik tau tidak mengapa Karl Marx menyukai sistem kelas”. Sepertinya ia mengatahui buku apa yang barusan aku baca. “Agar ada perbedaan, seperti aku dan kamu, aku lebih tua darimu karena pengalaman bukan karena angka usia, bahkan takan ada namanya sebaya walau seusia, mungkin ini yang di inginkan Karl Marx sistem kelas“. Aku menjawabnya dengan cepat, karena saat itu jantungku sangat berdebar kencang, aku duduk di Kursi mendengarkan balasan penjelasannya. “Bagaimana jika sistem kelas itu, kita hapuskan”. Ia betanya padaku? “Maksudnya”, aku menancap kebingungan. Bukankah itu yang selama ini ku katakan padamya. Dengan cara menghilangkan kata “Kaka” karena aku sebagai seniornya, ia gengsi mendekatiku sistem kelas tidak akan kita rasakan. “Baiklah Kak, adik kelasmu yang tampan ini akan mengatakan sesuatu”. Ya tuhan ia memuji dirinya sendiri, walaupun benar apa yang dikatakannya, tapi aku kurang menyukai, karena terdengar bau kesombongan ditelingaku. Aku mengangguk mengiyakan. Ia tiba-tiba mengangkat telp dari Ayahnya. “Ini ada tulisan amatiran dari aku kka , untuk pertama kali”. Ia meninggalkan Perpustakaan, setelah meminta izin pamit padaku serta menyisahkan pertanyaan belum terjawab.
Aku tak ada waktu untuk membacanya sepulang sekolah aku membuka isi surat itu. Sen-sei yang baru berada di Kelas 1 SMA dan aku yang sudah memasuki Ujian di Kelas 3, sebentar lagi ingin menginjak bangku perkuliahan. Isi surat itu mulai ku baca secara perlahan dengan menarik nafas dalam-dalam, hanya selembar kertas masa aku gugup tanyaku pada diriku sendiri.
 “Lyna Resti, Rey sangat suka memanggil Kaka, ini pertama kalinya aku menulis surat, terbilang sangat sulit menulis dengan tinta biru, itupun penanya ku pinjam dari Nino teman sebangku, waktu ia sedang tertidur pulas di Kelas. Aku bahagia bisa  bersahabat denganmu. Aku harus kembali ke Jepang hmm, karena ibu dan ayahku berpisah. Aku harus pindah bersekolah disana, minggu lalu Rey melihat Kaka  membaca buku itu, dan aku segera mencari dan membelinya ke Toko. Biar aku mempunyai bacaan yang sama seperti kaka untuk ku baca di sana, Ayah telah mengatur Jadwal Keberangkatanku, besok pagi aku telah menuju bandara. Do’akan yang terbaik untuk perjalannaku esok dan ini hanya sementara, aku akan bertemu kaka lagi. Mengambil sistem kelas cepat disana dengan berusaha belajar segiat mungkin agar aku bisa menyamaimu heehe. Dan menghapus kata diskriminas karena kelas kita aku teramat gengsi karena berani mencintai senior kelasku. Ada satu hal tersimpan selama ini, aku harap kamu tidak keberatan mendengarnya. Aku.... aku  sungguh menyukaimu. Tetap semangat  untuk melanjutkan Studinya. Hehe salam dari makhluk ke lahiran Jepang yang sangat tampan.

Ada perasaan sedih bercampur senang, saat membaca. Ternyata perasaanku tidak bertepuk sebelah tangan. Hingga kejadian itu aku belajar, berusaha sebisaku hingga memperoleh nilai terbaik waktu kelulusan. Bukan hanya itu aku juga mendapatkan beasiswa penuh memasuki Universitas ternama di Kota. Semakin hari tanpa sebuah kabar, ia pasti berusaha giat untuk menyaingiku. Itu yang ia janjikan, perasaan itu semakin hari terpendam, ketika rindu ku hanya membaca surat darinya dan menulis puisi:
Rey aku benar-benar rindu
Kau memang biang kerok
Kini kau masih membuat hatiku tak menentu
Padahal telah lama berjalannya waktu.
Saat itu aku pernah melihat derasnya hujan
Terlerai saat melihat matamu
Mata yang dapat menghentikan rintik-ku
Belum lagi ku membalas sajakmu kau pergi dariku
Kau mematahkan sukmaku dalam qalbu
Rinduku semakin candu

Beberapa organisasi mempercayaiku untuk mengambil peran penting disana. Bahkan aku di undang menjadi Motivator termuda, mengajak para Siswa & Mahasiswa untuk meningkatkan literasi baca di Indonesia. Hingga semester 5 kemaren aku diikut sertakan mendaftar menjadi Duta Baca Se-Asia. Dengan persyaratan yang cukup rumit, aku di dukung penuh oleh orang tua serta para sahabatku, ku bersyukur Bahasa Inggrisku cukup bagus. Karena kesempatan uang beasiswa, ku pergunakan setengahnya untuk mengikuti Less bahasa. Waktu itu saat aku di undang ke Jepang  Semester 7.
Pagi itu perasaanku sejernih embun, melihat indahnya bunga sakura bermekaran berwarna merah muda. Menggoda mataku yang tak ingin padam memandangnya. Aku baru teringat bahwa Rey telah lama berada di Jepang. Aku cukup tau diri negara ini cukup luas dan tak bisa ku telusuri tanpa informasi jelas, aku takan mungkin mengetahui keberadaanya.
Perasaan itu tidak beransur lama kalau di hitung perdetik pada jam dinding, aku tak tau apakah ia masih mengingatku. Jika ia berada di hadapanku, sungguh aku tidak menagih janji padanya, aku cukup bersyukur jika bertemunya. Aku berjalan menyelusuri danau, ada danau kecil di belakang Vila ini. Aku melangkah dalam keadaan hening, hatiku bicara.
......
Jalan ini terasa asing bagiku, tapi langkahku bagai magnet menujunya
Hanya gambaran ilusi penuh teka-teki yang tertuang dalam hatiku
Tak pernah dapat dipecahkan
Hatiku tak mendengar dimana dirinya
Seketika menyelusuri jalan bayanganmu menghalangi jalanku
Apa ini makna terobsesi
Yang terlalu baik dan percaya pada cinta lama
Atau ini semacam cinta buta
Dan aku terlalu baik padamu  yang tak memaksamu pergi dengan syarat
Pintu hati ini tak pernah tekunci, kau bisa datang kembali

Mereka tau aku wanita yang sangat rasional tapi dalam keadaan seperti ini, otakku di dominasi oleh segudang perasaan dan pertanyaan. Seakan aku selalu cepat menyimpulkannya sendiri, kini Elena teman akrabku semenjak di SMA, tidak mengikuti jejak langkahku, ia mengambil S1 Jurusan Komputer dan terakhir aku melihatnya menggunakan kacamata minus, sepertinya matanya terkena radiasi karena hobynya yang terus bermain gadjed. Apalagi jurusannya sangat mendukung.

Memang sebuah perasaan seperti magnetik yang cepat melekat mencari arah tanpa di dasari, ia yang lebih dulu mencari, tiba-tiba waktu itu tepat di depan pintu ada seorang lelaki melintas lewat. Aku membaca jelas di depan bajunya bertuliskan nama “Rey”. Ia menuju Aula acara besok hari, siapa dia, wajahnya tidak cukup jelas karena sepintas melihatnya, belum dapat tergambar jelas memastikan siapa dia.
Akhirnya ke esokan hari, acaranya segera dimulai, aku melupakan kejadian kemarem. Aku membuka sambutan dengan rasa percaya diri, dapat di Undang di Acara Literasi Jepang. Dimana acara yang penuh kemanfaatan ini membuat siapapun terpengaruh dengan kegiatan masyarakat Jepang yang sangat rajin membaca dan kedisiplinan yang sumgguh laur biasa.
Setelah acara selesai, aku mencari buku catatan kecilku. yang ku ingat tertinggal di samping meja tamu undangan, buku itu menghilang aku tak mendapatkannya. Aku bergegas pergi dan melupakan buku catatn kecil, kembali ke Apartemen utuk segera beristirahat. Sore hari menyambutku, aku keluar berjalan ke Taman bersama Maisarah. Ia adalah temanku dari Malaysia. Tiba-tiba dari bilik kaca Mobil menyapa menyebut namaku. Apakah  dia “Rey”, benar sekali, senyum yang tergambar dari raut wajahku beberapa tahun tidak dapat bertemu dengannya.

Setelah ku tau Rey Kuliah di sebuah Universitas ternama di Jepang. Universitas of Tokyo, ia mengambil Fakulty of Agriculture pada Jurusan Biological Chemisty and Biotechnology Kimia dan Biotegnology) aku bingung mengapa ia tidak memilih jurusan dengan bidang keahlainnya yakni Matematika, entahlah bagiku itu bukan urusanku asalkan ia menikmati perjalanan belajarnya. Di jurusan tersebut ia tdak mengikuti jenjang sarjana yang menguasai kemampuan dasar atau di sebut periode Junior Division. Karena kegemarannya belajar ia terlalu sibuk memperbaiki kerteringgalnya dari teman-temannya. Ia di arahkan kepada Jenjang Studi Sarjana yang mana Mahasiswa lebih mengarahkan ke spesialisasi yang di inginkan masing-masing.


Rey
Acap kali aku berfikir tentang apa yang ku rasakan saat ini
Raut wajahmu kerap kali terukir
Hias senyumu menusuk kalbuku
Aku merasa teramat bodoh sekali memiliki perasaan ini
Melihat gambar diri yang jauh dari kata serasi
Ku coba untuk menghilangkan perasaan ini, akan tetapi tak sedikitpun dapat bergeming.


Rey tak jauh dari kemaren sosok seseorang yang aktif dan ramah, tampaknya dia resah meliat keberadaanku yang tiba-tiba ada di Jepang
Ke-esokan harinya aku baru tau Rey telah menikah dengan Lisa 1 bulan yang lalu, mereka teramat muda melaksanakan pernikahan menurut mayoritas Jepang, yang menikah diusia 25 tahun keatas. Aku belum bisa langsung pulang ke Indonesia. Mungkin berat mendengar kabar mengenai Rey telah menikah, aku mengambil hikmah dari semuanya, cinta mungkin dapat memotivasi seseorang, hingga sekarang aku bisa sejauh ini.
 Aku dan Maisarah harus menyiapkan laporan kegiatan, kami memanfaatkan waktu ini untuk melakukan sedikit penelitian, mengenai kesuksesan orang Jepang. Sapa terakhirku dari Rey dia berserta Istrinya mengantarku ke Bandara, terluka memang saat ku melihatnya, tapi tidak terlalu sakit, setidanya aku mengetahui tentang dirinya sekarang, dari pada aku kehilangan jejak dan tidak tahu sama sekali. Tidak seorangpun dapat menjamin cinta dimasa sekolah akan bersinar di masa depan setelah sekian lama tidak bertemu.

Kita hanyalah dua orang yang pernah terikat pada zona pertemanan yang nyaman, tumbuhku berlumuran harapan palsu, untuk hari ini aku telah menerima kenyataannya.
















Riwayat Penulis :
Nama          : Wardah
TTL             : Sungai Lumbah, 1 Mei 2000.
Pendidikan : MI Nurussabah, MTS Nurussabah, MA At-Thohiriyah sedang melanjutkan Studi di Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin. Di Jurusan Aqidan dan Filsafat Islam angkatan 2017.
Hoby            : Membaca dan Menulis
Sosial Media
Email       : uw0105200@gmail.com
Wa            : +6285245103964
Instagram : @Wardahcreallynafis















 

Continue reading TAK SEORANGPUN DAPAT MENJAMN CINTA SEMASA SEKOLAH BERSINAR DI MASA DEPAN

Membangkitkan Semangat Literasi Indonesia dengan Menerapkan Budaya Literasi yang ada di Negara Finlandia.


Oleh: Wardah


      Berbicara mengenai literasi ialah sebuah kegiatan yang tidak jauh dari hal yang namanya membaca. Lebih jelasnya literasi adalah suatu kemampuan seseorang untuk menggunakan keterampilan dan potensi dalam mengelola dan mengolah informasi. Hubungan literasi tidak akan jauh dari aktivitas membaca dan menulis. Apabila di lihat secara etimologis, literasi berasal dari bahasa latin “literatus” yang bermakna orang yang sedang belajar.  Maka dalam proses belajar, membaca buku dan keterampilan menulis adalah sesuatu hal yang penting, terlebih pada diri seorang pelajar maupun mahasiswa, dalam kesempatan kali ini, penulis mencoba membawa pembaca untuk memahami mengapa pentingnya meningkatkan literasi untuk negara Indonesia, serta mengetahui bagaimana cara negara Finlandia mampu pengaktualisasikan semangat literasi yang cukup tinggi. Pada zaman dulu para tokoh besar Islam menjadikan kegiatan membaca menjadi sesuatu yang tak bisa ditinggalkan dari aktivitas keseharian.

      Para tokoh besar pada zaman dulu yang gemar dengan aktivitas membaca dan menulis, mereka memperoleh pengapresiasian besar dalam sejarah. Seperti Hasan al-Banna yang sangat suka membaca buku hampir kesehariannya diramaikan oleh bahan bacaan, walupun ditengah kesibukannya sebagai pemimpin Ikhwanul Muslimin, Hasan Al-Banna tetap giat untuk menyempatkan waktu membaca buku, yang tidak kurang dari 60 halaman sehari. Perhatian yang besar juga diperoleh dari para Sejarawan seperti yang di ungkapkan Barbara Tuchman seorang Sejarawah dan penulis kebangsaan Amerika, “Buku adalah pengusung peradaban. Tanpa buku, sejarah diam, sastra bungkam, sains lumpuh, pemikiranpun macet. Buku adalah mesin perubahan, jendela dunia, mencusuar yang di pancangkan samundera waktu ”.

      Bagaimana dengan Indonesia, negara dengan mayoritas muslim, apakah semangat literasi dalam pendidikan juga mampu berjalan dengan seiring arus globalisasi, yang sekarang dikenal dengan Industry 4.0. Jika boleh berkaca sebentar, setelah masa kemerdekaan Negara Indonesia mempunyai tujuan besar untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, janji yang kini harusnya akan senantiasa di realisasikan yang diawali dengan cara menanamkan nilai-nilai pergerakan literasi kepada masyarakat Indonesia, mengapa hal ini perlu dilaksankan, karena tingkat literasi kita begitu rendah. Sebagaimana termuat dalam lembaga survey United Nations Education Scientifik and Culturan Organization (UNESCO) yang mengatakan bahwa, minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen, artinya dari 1000 orang Indonesia, hanya satu orang yang rajin untuk membaca buku. Keadaan ini adalah sebuah PR bagi kita bersama, bagaimana menarik generasi sekarang untuk memahami pentingnya aktivitas membaca buku. Jika kenyataannya pada saat ini guyonan atau meme yang dibaca dari sosial media dapat dilahap selama beberapa jam, namun sangat di sayangkan saat ditawarkan sebuah buku  untuk memperkarya wawasan secara mendalam, tidak mendapat banyak respon dari para generasi muda.

       Padahal jika mereka mengetahui secara mendalam nilai baca seseorang juga mempengaruhi cara berpikirnya, jika yang dibaca hanyalah beberapa ilmu dari postingan sosial media, cenderung kedangkan informasi yang menjadi ilmu generasi sekarang. Bahayanya literasi yang seperti ini mampu membuat generasi menjadi mudah untuk di provokasi. 

        Gerakan demi gerakan dari pemerintah hingga para akademisi mulai turun tangan menanggapi persoalan ini, untuk memperkaya kualitas sumberdaya manusia, pergerakan literasi menjadi bagian utama yang sangat perlu diperhatikan. Sehingga ada beberapa komponen yang dapat mendukung pergerakan ini. Dikutip dari buku Panduan Gerakan Literasi Nasional. Ada lima komponen strategi yang dapat mendukung terlaksananya Gerakan Literasi Nasional, yang mungkin dapat kita jalankan secara optimal, yang pertama penguatan kapasitas fasilitator literasi yang merupakan sebuah pondasi utama untuk gerakan literasi pada ranah keluarga, sekolah dan penguatan ruang literasi dari pengelolaan ruang perpustakaan publik atau taman baca. Yang kedua peningkatan jumlah dan ragam sumber belajar bermutu. Yang ketiga perluasan akses untuk sumber belajar, seperti taman baca, kemudahan prasarana yang diberikan akan berdampak positif pada peminat baca. Yang ketiga Peningkatan pelibatan publik, dari lembaga masyarakat hingga tokoh masyarakat. Yang keempat penguatan tata kelola untuk memudahkan fungsi lembaga-lembaga yang berperan agar saling terkoneksi satu sama lain. Dari beberapa strategi ini, Negara Finlandia telah mencoba mengaplikasikannya ke dalam kehidupan masyarakat, kesadaran literasi ini sudah mulai ditanamkan sejak mereka kecil.

     Sikilas seputar Negara Finlandia, Negara Finlandia adalah sebuah Negara yang Nordik terletak di Eropa Utara, selain itu Finlandia juga merupakan bagian dari kawasan geografi Fennoscandia, yang juga termasuk didalamnya Skandinavia dan Rusia. Ada suatu hal yang menarik dan berkesan dari Negara Finlandia, mengenai sistem edukasi yang diterapkan dari negara tersebut yang sekarang telah menjadi sorotan para pendidik dunia.

     Menurut data Programme for International Student Assessment (PISA) Finlandia menduduki peringkat ke-4 mengenai literasi baca, sedangkan untuk Negara Indonesia tingkat literasi baca masih kurang memuaskan, dalam sebuah hasil penelitian dibawah naungan PISA mensurvei dari 70 negara dunia, Indonesia menempati posisi ke 62, yang hampir menduduki rangking terakhir. Yang menjadi perhatian besar bukan hanya tingkat literasi yang mereka peroleh namun juga berhubungan dengan pembinaan pendidikan, sehingga tak heran jika Finlandia mampu menjadi Negara dengan  pendidikan terbaik kelas dunia.

     Kunci pendidikan sebagaimana diketahui berada pada kualitas seorang guru, yang memberikan ilmu pengetahuan sebagai pemberi asupan untuk muridnya, sebagaimana sebuah tumbuhan bunga memerlukan proses fotesentesis untuk berkembang (guru-murid).

 Di Negara Finlandia menjadi seorang guru merupakan sebuah profesi yang sangat dihormati, untuk menjadi seorang guru SD disana mereka harus memperoleh gelar master dari jenjang pendidikan  S2. Selain itu pengaplikasian dalam proses pembelajaran di Finlandia cukup unik, mereka menyiapkan waktu untuk tidur siang pada murid mereka, antara jam 12:00 siang hingga  14:00, apabila ditengok dari pengaplikasian tidur siang ini, kebiasaan tidur siang tersebut merupakan sebuah sunnah yang telah dianjurkan oleh Rasulullah, agar umat Islam Qailulah atau tidur siang sebagaimana beliau bersabda: “Tidur sianglah karena sesungguhnya setan itu tidak pernah tidur siang”.
    Selain itu menurut penelitian dari Harvard menemukan bahwa seseorang yang terbiasa tidur siang sekitar 20-30 menit dalam sehari mampu meningkatkan kinerja otak dengan baik, dapat membuat tingkat konsentrasi lebih tinggi serta memperkuat daya ingat. Selain itu, pengenalan dunia literasi di Negara Finlandia sudah sejak dini yakni mulai bayi, pemerintahan Finlandia menetapkan setiap keluarga yang baru melahirkan seorang bayi mendapatkan sebuah hadiah paket berupa buku bacaan untuk ibu, ayah dan bayi itu sendiri. Selanjutnya untuk perpustakaan, Finlandia menganggap bahwa perpustakaan adalah sebuah tempat rekreasi yang wajib dikunjungi oleh setiap warga negara-nya, sehingga Finlandia membuat Perpustakaan indah yang dapat menyatu dengan pusat perbelanjaan di Mall. Dalam pendidkan formal pun seperti di bangku sekolah, seorang anak yang baru memasuki dunia pendidikannya, mereka disapa dengan memulai kebiasaan membaca buku, dalam satu minggu minimal satu buku. Kebiasaan yang ditawarkan sejak sekolah ini menjadi sebuah kebudayaan yang melekat pada Negara Finlandia, dari pendidikan keluarga, kegiatan berinteraksi pada saat ingin menidurkan anak mereka, memiliki kebiasaan untuk mendongeng , yang akan dibacakan oleh orang tua mereka kepada anaknya, melalui gerakan ini, gemar membaca dengan mengembangkan rasa ingin tau anak kepada ilmu pengetahuan, sudah di pupuk sejak dini dalam keluarga. Itulah kebiasan-kebiasan yang ditanamkan oleh Negara Finlandia kepada masyarakatnya.
      Apabila suatu Negara memiliki kemampuan literasi yang bagus maka kualitas sumber daya manusianya akan berdaya saing tinggi. Perlu kiranya gerakan literasi ini dimulai dari menumbuhkan kesadaran dalam diri pribadi dan menerapkannya pada lingkungan keluarga. Peran pemerintah dengan segenap kepeduliannya harus melibatkan lebih banyak lagi ruang-ruang pergerakan literasi, sehingga pembangunan yang kita laksanakan pun tidak hanya tertumpu pada pembangunan Insfrastruktur, namun juga tertuju pada pembangunan karakter yang cerdas, pembudayaan literasi yang luas, dan kompetensi masyarakat yang unggul. Semua itu dapat tumbuh dan berkembang melalui pendidikan yang menyenangkan, berkesinambungan, dan lingkungan sosial yang baik dari seluruh lapisan masyarakat.


Continue reading Membangkitkan Semangat Literasi Indonesia dengan Menerapkan Budaya Literasi yang ada di Negara Finlandia.

Mawar yang Mekar dari Bully'an


Mawar yang Mekar dari Bully’an
                

Ketika impian kita besar, dan mereka menganggap itu mustahil. Salah satu upaya yang harus kita lakukan adalah “BERHASIL”

Pernah gak kalian waktu sekolah dibully, dihina, di jelek-jelekin sama teman, bahkan terkadang sama sahabat sendiri, atau mungkin sampai sekarang masih seperti itu.
Waktu liburan ini mungkin kita bisa berbagi cerita, sekaligus mengisi amunisi semangat di tahun 2020 agar lebih giat mengejar impian... setuju.. ;). Senang bisa membuat tulisan di blog lagi, karena terhambat sama aktivitas yang lain.
Yang belum kenal, izinkan aku memperkenalkan diri ya. 
Namaku Wardah kalau diartikan dalam bahasa Indonesia adalah mawar, gadis kelahiran 2000, sekarang kuliah di Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam, alhamdulillah dari bantuan Bidikmisi bisa melanjutkan kuliah hingga sekarang.

Semenjak aku beranjak remaja, ada beberapa teman-teman yang tidak menyukai aku, dari penampilan, perilaku bahkan rangking kelasku pun dipermasalahkan, katanya “Wajar saja anak guru juara, toh ayahnya bisa aja...... aja bla..bla..bla”. Rasanya semangatku untuk belajar disekolah itu tiba-tiba luntur, padahal percapaian yang didapatkan murni dari hasilku, bukan dari bantuan siapapun. Kalau ayahku bisa securang itu, gak mungkin adik-ku sekarang  ranking 4 dari level terbawah hehe... iya adik ku memang pemalas tak pernah dapat juara, tapi dia pandai dalam beberapa hal
.
Kembali ke cerita....!

Tong Kosong Nyaring Bunyi-nya, itulah kata-kata yang membuat aku teringat dengan sosok perempuan pintar namun suka menghujat orang, bisa dikatakan teman yang suka menusuk dari belakang. Dia pernah menjadi teman akrabku, tapi kepercayaanku sudah musnah setelah beberapa kali aku mencoba menolongnya namun tak pernah dihargai, malah dia senang sekali melempar ghibah kepada temannya yang lain, hanya untuk menambah bahan obrolan untuk tertawa dan akupun pernah menjadi topik utamanya. Dia mengatakan bahwa aku tak pantas untuk mendapatkan semacam penghargaan, perempuan yang ini.. ini... ini, dia berkata kotor dihadapanku, bahkan pendengaranku diperjelas oleh suaranya yang lantang mengatakan tepat disebelah telingaku.
Aku bertemunya kembali saat masa SMA, disana aku merasa dideskriminasi, beberapa orang mau terbuka berteman yang sesuai isi dompet, keuangan dan penampilan. Sedangkan aku adalah perempuan yang sederhana, tidak suka boros terutama membeli sesuatu yang kurang berguna, berbeda dengan beberapa temanku yang ingin menyetarakan selera mereka dalam berteman, tak mempunyai sesuatu rasanya menelan rasa gengsi teramat sakit.
Aku merasa sangat sedikit mempunyai teman, terutama saat aku mempunyai catatan kesalahan pertama, kesalahan kecil yang dibesar-besarkan.  Pada saat itu aku memanggil sosok wanita yang bekerja di sekolahku, dengan sebutan nenek, raut wajahnya keriput dan mukanya tidak suka tersenyum, ditambah lagi giginya ada beberapa ompong mempunyai kemiripan persis dengan sosok wanita yang sudah lansia. Pada saat itulah terjadi perang mulut besar, dia tidak terima atas ucapanku, aku segera meminta maaf atas ketidaktahuanku, karena saat itu adalah hari pertamaku sekolah. Dia tak mampu memaafkanku, padahal pada saat itu aku memanggilnya di dengar oleh ayah, ibu, adik dan nenek ku, tak satupun ada siswa yang mendengarnya, alhasil setiap jam makan dia selalu memproklamasikan ucapanku yang memanggilnya nenek, ada beberapa siswa yang empati terhadapnya namun ada juga beberapa yang merasa bodoh amat.

Beberapa siswa yang empati tersebut, menganggapku siswi baru yang sangat lancang. Apa boleh buat, ini semua kesalahpahaman dan akupun sudah meminta maaf. Karena setiap hari wanita tersebut menyebutkesalahanku, berulang kali kepada siswa lainnya, rasanya gendang telingaku hampir copot dibuatnya, selera makanku hilang setiap kali jam makan dan bertemu dengannya. Aku berusaha menyadarkan diriku sendiri untuk bersabar, karena aku “siswi baru”. Hampir semua kaka kelas yang bertemu denganku melihatku sinis, aku menjadi terkenal di sekolah dengan humor permasalahan dengan wanita yang ku sebut nenek tersebut.

Beberapa kali aku melanggar peraturan seperti kurang disiplin, telat dan semacamnya. Untuk siswi yang lain melanggar peraturan tersebut terlihat biasa saja, beda denganku yang telah terkenal dengan kecerobohanku tersebut, aku menjadi bahan tertawaan, hinaan, ghibah apapun itu yang tidak baik untuk di dengar.  Yang lebih parah, aku pernah di hina oleh Kaka kelas, ia merasa Jijik ketika mendengar namaku, dan berlaga ingin muntah. Ya Allah sikap yang diperlihatkannya semacam tidak menganggapku manusia namun bangkai atau binatang yang menjijikan lainnya.

Ada suatu hal yang membuatku tetap bertahan semasa SMA disana, yakni orang tua, aku yakin sekali, do’a orang tua semacam mukjizat menurutku yang bisa mengubah apa saja. Aku tetap belajar, entah ada yang tidak menyukaiku, tidak ingin berteman denganku, aku abaikan saja, aku tetap fokus dengan tujuanku menuntut ilmu. Beberapa kali aku mengikuti perlombaan dari tingkat sekolah, kabupaten dan lain-lain. Aku pernah berpidato dihadapan puluhan para siswa, saat pengambilan video untuk mengirim lomba ke sebuah Universitas di Banjarmasin, walaupun pada kali itu aku belum menang. Setiap kali ada waktu duka dan suka ku abadikan melalui catatan harianku, impianku waktu itu, setelah masa SMA berakhir aku akan menuliskan berbagi cerita hidup-ku disebuah blog dan hari ini telah tercapai.....;)


Setelah beberapa lomba ku ikuti, lomba yang dapat mengharumkan namaku, yang sebelumnya namaku tercemar dan terkenal sebagai sosok siswa nakal, sering telat, dan yang tidak akan terlupakan seorang siswa yang memanggil nenek  pada wanita dapur. Hal tersebutlah yang membuatku semakin rajin belajar, semakin suka menulis dan membaca buku. Maka dari pada itu sahabat, apapun itu masalahnya haruslah kita hadapi, jangan pernah lelah untuk berjuang membuktikan bahwa diri kita layak untuk menjadi lebih baik.

Perjuangan selanjutnya yakni kegigihanku untuk mendapatkan beasiswa, itu bukanlah sesuatu yang mudah.. mungkin lain kali aku akan cerita. Jangan lupa beri masukan dan komentarnya. :-)


“Rasa suka mampu menumbuhkan keberanian bahkan untuk hal yang dianggap mustahil”.
“Tidak ada sesuatu yang dapat menjamin masa depan seseorang, yang dapat menjaminnya adalah keyakinan dari dirinya sendiri”.

“Jangan pernah menghina seseorang ataupun meremehkan kemampuannya, bunga mawar yang indah sekalipun perlu waktu untuk tumbuh dan mekar”.

Continue reading Mawar yang Mekar dari Bully'an