Senin, 28 Februari 2022

Diskusi Santri Seputar Multimedia, Quarter Life Crisis & Digital Marketing.

Hari ini sekitar 4 Jam saya duduk berdiskusi dengan mereka. Sebagai sesama pembelajar yang pernah mengenyam pendidikan di Pesantren. Banyak sekali perubahan zaman yang membuat kami sadar arti pentingnya beradaptasi di Dunia Digital. 

Bisa dikatakan diskusi hari ini seputar Quarter Life Crisis, Kekuatan Konten di Era Digital & Bagaimana Membangun Karir dari Hobi. 

Hal yang baru sekali Wardah tau ada Pesantren, bidang jurusan Multimedia di dalamnya.

Menarik bukan!
Continue reading Diskusi Santri Seputar Multimedia, Quarter Life Crisis & Digital Marketing.

Kamis, 24 Februari 2022

Aku Takan Merusak Suasana Hatinya.


Rawon panas yang baru dihidangkan seketika dingin melihat sikapnya
 “Om kenapa”?, tanya Mawar sambil melirikan matanya ke kanan.
Mengangguk dan memberikan senyuman tipis, balasnya.
“Om Kok Membisu”?
“Tidak enak badan saja, hari ini aku lelah fisik dan mental”.
Tanpa mau merusak suasana Mawar jadi pendiam dadakan.
“Baiklah aku takan merusak suasana hatinya hari ini”, kata Mawar dalam hati.

Cuacanya berubah dingin akibat angin malam, Mawar menggenggam tangannya tanpa berkata apa-apa.
“Kok makanannya gak habis” ? tanyanya pada Mawar.
Mawar malu tak mampu menjawabnya “Sebenarnya aku lapar tapi jadi kenyang karena sikap dinginnya, terus dia makannya cepat kayak orang lomba Meraton”.
“Yuk Pulang”, pintanya setelah selesai makan 3 menit.

Langit malam berwarna hitam saja  tahu bahwa kita baru saja duduk ditempat ini, ya Tuhan apakah dia Pangeran Kodok yang akan berubah waktu jam 20:00 Malam, jadi ingin pergi secepat kilat.

Ingin sekali keluhan itu Mawar utarkan di depan Jaket Hitam yang dikenakannya, tapi dia tak kuasa melihat matanya yang sandu tanda bahwa betapa melelahkannya hari-hari yang dilewatinya belakangan.



Continue reading Aku Takan Merusak Suasana Hatinya.

Selasa, 01 Februari 2022

Sudut Pandangku Tentang Pernikahan

Pria Bukanlah sumber ATM utama, dia adalah partner kita & Perempuan bukanlah pelayanan paksa sesuka pria.

Pernikahan adalah sesuatu yang sakral. Berpikiran berbeda dari kebanyakan orang tentang rumah tangga itu hal yang lumrah saja bukan. Sudut pandangku tentang pernikahan ini ku tuangkan saat aku melihat sisi yang berbeda tentang pernikahan dari orang tuaku.

Pernikahan bagi seseorang yang menganut dogma patriarki, perempuan adalah membantu segala keperluan rumah tangga, tentu itu sah-sah saja namun banyak yang menyamaratakan seperti babu, harus di paksa melayani segala hal, hingga pria tak mau berbagi peran dalam rumah tangga, bagi mereka itu adalah pekerjaan seorang istri.

Padahal bagiku laki-laki harus melihat sisi berbeda ketika perempuan menjadi istrinya, pandanglah dia aset berharga dalam hidupmu. Dia akan melayanimu tapi bukan layaknya seperti pelayan harus mau walupun dipaksa.

Jika perempuan dititik beratkan sebagai pelayan segala keperluanmu maka tak heran mereka juga menganggapmu sebagai ATM, saldo utama pemasukan rumah tangga.

Nah peran seorang istri dalam rumah tangga dia mampu membagi hal yang mampu dia kerjakan dan yang tidak, maka dia harus membicarakan baik-baik pada suaminya apa saja hal yang perlu dibagi perannya.

Istri yang menganggapmu sebagai partner dia akan membantumu segala hal dan tidak melulu ketergantungan pada suami, toh dia akan sadar kemandirian penting untuk survive bertahan hidup suatu saat.

Perempuan seperti ini tidak melihat dari harta atau jabatanmu tapi dia akan mencari yang mana pria yang pantas menjadi partner hidupnya.

Dia akan menilai bagaimana kamu memuliakan perempuan?
Bagaimana sudut pandangmu yang tak sempit tentang perempuan.
Pemberi solusi terbaik untuk jangka panjang.

Tanpa ada rasa saling menghormati & menghargai mungkin kerjasama rumah tangga kurang maksimal.

Bagaimana pernikahan ideal menurutmu?
DM aku di Instagram @Wardahgingsul
Continue reading Sudut Pandangku Tentang Pernikahan