Aku akan sedikit menuliskan pesanku kepada dirimu kelak yang bergandengan tangan tanpa mendapat catatan dosa dari Tuhan, sebagaimana keinginanmu untuk satu kali dalam seumur hidup bersama dua insan. Kita harus menurunkan ego masing-masing agar satu kepala dan tak saling mengklaim paling benar atau saling melempar kesalahan.
Begini mungkin sikapmu yang membuatku tak berhenti jatuh cinta
Kita akan membacakan lembaran harapan dan komitmen saling mentanda tangani janji setulus hati.
Dirimu begitu dingin pada perempuan lain dan akhlakmu begitu ramah, kamu ringan tangan menolong orang lain, kamu rajin bersedekah agar menghindari sifat serakah. Bagaimana aku bisa menolak laki-laki yang memiliki prinsip dan akhlak serupa ayahku. Karena berkat didikan ayah, ku berhasil menjadi anak bahagia, tertawa ria bahkan cinta ayah selalu memupuk didadaku mengalir, tenang karena didikannya dirinya yang tak pernah marah.
Di badanku mengalir darahnya, dijiwaku mengalir akhlaknya, ayahlah panutanku, begitu juga anak ku nanti dia tak bisa memikirkan memiliki ayah seperti apa, akulah yang berhak mempersiapkan yang terbaik untuknya.
Saat ini dirimu mempersiapkan diri banyak hal demikian pula yang ku lakukan, tuhan membuat dinding sehingga caraku bercengkram denganmu melalui suara yang akan di dengarkan melalui tulisan ini yang akan melangit juga akan diamini oleh puluhan malaikat. Bukan sekarang waktunya benar-benar bukan, bukan hanya aku yang akan kamu pikirkan namun tentang persiapan rumah yang setiap kamarnya memiliki ruangan berbeda fungsi dari tempat beribadah, perpustakaan kecil untuk membaca buku, setiap sudutnya kita akan meletakan foto semasa muda kita untuk memotivasi anak-anak kita kelak, memahami makna kehidupan dan kebermanfaatan. Jika kamu ingin aku bisa memasak, tenang sebelum kau meminta aku akan lebih rajin belajar demikian. Setiap kamar yang berbeda fungsi, aku akan memiliki satu kamar untuk bekerja dari rumah aku akan merawat anak-anakku, aku tak ingin berpisah dari mereka, didikan ibu begitu penting untuk masa keemasan mereka. Maka semuda mungkin aku harus bisa menabung pengetahuan dan keuangan agar anakku nanti bisa memecahkan celengannya.
Untuk dirimu lebih giat lagi mempelajari banyak hal, karena tanggung jawab seorang ayah bukan cuman sekedar pintar tapi benar-benar mampu dijadikan teladan. Kamu ingat bukan, seorang anak adalah peniru ulung, aku akan tutup matanya jika kau perlihatkan perilaku yang tak berkenan, begitu juga dengan jejak digitalmu hati-hatilah dari sekarang.
Ustadz pernah berpesan dengan kami, sewaktu kami duduk menuntut ilmu dirumah beliau. Pilihlah jodoh yang sama mengenyam pendidikan di Pesantrean, agar duka laramu bisa berbagi, visi misimu tak jauh berbeda. Ku pikir itu benar-benar bagus bagaimana tidak jika suatu saat anak kita juga ingin kita sekolahkan ke Pesantrean, jika diantara kita tak satu payung teduh, dirinya akan menginterupsi. Kita juga akan saling berbagi cerita, asinnya ikan yang jadi santapan sewaktu usia kita belasan tahun, pagi-pagi mendapatkan hidangan demikian, namun berita bahagianya berat badan kita tak pernah turun.
Jika kau lihat aku sekarang begitu aktif, sebenar-benarnya bukan ingin menyaingi siapapun namun karena tidak ada keinginan penyesalan sedikitpun di masa muda. Kita sama-sama belum mendapatkan tanggung jawab berat untuk dibagi memikul.
Kamu tau kenapa aku begitu jatuh cinta padamu karena memiliki beberapa kesamaan dan perbedaan yang meleburkan kita. Aku sama sepertimu memiliki keterbukaan pemikiran juga memiliki dinding batasan. Itulah yang membuat kita magnet yang saling berdekatan. Aku suka cara pandangmu yang luas tak sempit, aku menyukai caramu menundukan pandangan, apa adanya dirimu membuatku makin cinta sehingga aku tau dirimu seutuhnya tanpa topeng. Aku dan kamu mungkin sama sangat ingin mendapatkan jodoh sholeh/ah. Mari kita buat peta berbenah.
Dan yang paling ku ingat dimasa depan jodohku bukanlah seorang peroko.
Doamu hebat
Mari berdoa terus seperti itu
Agar ku selalu dalam dekapan aman

0 komentar:
Posting Komentar