Kirana : “Liburan ya sepertinya aku butuh liburan gumam temanku bernama Kirana yang lelah mengerjakan Skripsi”.
Dirinya sepanjang malam telah melakukan pergelutan mengerjakan tugas akhir sendirian di kosnya.
Wardah : “ya aku juga mau, nanti setelah jadwal rapatku”.
Pagi hari itu aku menelpon Kirana, memberitahukan secara dadakan bahwa hari ini kita jalan-jalan ke Banjarbaru. Singkat balasan responnya tanpa basa basi, sebab dirinya tau bahwa liburan adalah asupan yang dirinya inginkan.
Waktu menunjukan jam 10:00 pagi, aku telah siap begipun dirinya, tiba-tiba kolam depan kos ku seketika memanggil, ada satu ikan super besar mengapung di permukaan air kolam yang menggodaku, tanganku mencoba mengambilnya hingga seluruh warga kos kayapu (semua perempuan), ikut berbaris seperti ikut lomba menangkap ikan bersamaku. Ikannya masih hidup, besarnya seukuran beskom air.
Akhirnya penangkapan ikan berhasil dimenangkan oleh Imah, kami menaruhnya di bak ukuran besar. Seluruh penghuni ikut bersorak, melihat ikan besar dapat ditangkap dengan mudah.
Akibat kejadian itu, memakan waktu yang cukup lama, karena jadwal hari ini liburan, ku putuskan biar ikan tersebut, kawan-kawan mau memasak, memanggang atau menyantapnya biar mereka memutuskan, toh aku ambil andil sebagai seorang pertama yang melihat ikan saja.
Hari ini cuacanya sedang, tidak terlalu panas seperti hari biasa yang panasnya bisa membuat air yang bertengger dibawah cahaya matahari tatkala disentuh beberapa jam panasnya seperti air mendidih. Diperjalanan tak afdol kalau kami tidak mengandalkan aplikasi Maps, peta elektronik ini penunjuk jalan, pengganti peta milik Dora yang masih tradisonal, selain menunjukan jalan menggunakan gambar, juga dibantu pengisi suara google yang ramah. Tujuan liburan kami Kebun Raya Banua Banjarbaru, si kirana didepan mengendari dia lebih tau jalan dan lebih handak berkendara.
Terakhir satu tahun lalu aku ke Kebun Raya Banua, saat masih belum ditemukannya vaksin, aku harus menelan kecewa dengan pulang tanpa menyentuh tempat tujuan, karena tempatnya masih ditutup, akibat lonjakan virus covid-19 semakin menjadi ditambah berita duka salah satu kepala pemerintah daerah di Banjarbaru, dikabarkan meninggal dunia dan positif Covid-19.
Kabar baiknya seminggu lalu tempat wisata disana dibuka. Senang sekali mendengar kabar itu. Kirana diperjalanan mengemudikan kendaraan sembari bercerita kisahnya disana, aku telah tidak sabar, didukung cuaca yang mendukung walaupun diperjalanan sudah menunjukan jam 11:00, namun tidak ada rasa panas yang menyengat menyentuh kulit kami. Diperjalanan, ada jalan bundaran telah dilewati bukan hanya satu, lebih dari itu, kadang kala aku bingung, sesekali memastikan membuka Maps, agar tidak salah. Ya kirana lebih jago dari ku, aku yakin hal itu, bicaraku dalam hati.
Setelah melewati bundaran kami belok kanan, belum kiri, seterusnya dan akhirnya sampailah dijalan tol yang sangat lapang, dihiasai pohon-pohon hijau yang rindang, jeretan rumah dinas dan beberapa bangunan Pemerintah Daerah Banjarbaru lainnya.
Suara Maps mengatakan “anda telah sampai ditujuan”, tepatnya dimuka gerbang Kebun Raya Banua. Di depan gerbang tak jauh sekitar 5 meter dari hadapan kami, pintu gerbang menempelkan satu tulisan bertinta hitam dan berkertas putih Hvs, gerbang masih dalam keadaan tertutup, langkahku mendekat semakin dekat, penjaga pintu depan gerbang tidak ada menampakan diri. Kirana memintaku kita lewat jalan belakang gerbang saja, aku mengikut. Perhentian terakhir belakang gerbang Kebun Raya Banua, aku melihat ada seorang Satpam berada ditengah gerbang. Langkah mendekat sembari memanggil dari luar kaca secara perlahan agar terkesan tak mengganggu istirahat siangnya
Lagi lagi kami dipertemukan dengan kertas Hvs berwarna putih, setelah kami baca Pak Satpam langsung menjelaskan.
“De, mohon maaf”. Nadanya membuatku menelan kecewa lagi.
“Sekarang tempat wisata hanya buka Senin-Jum’at, pemberlakuan ini untuk seluruh pengunjung dan mereka hanya diperbolehkan datang sekitar 50% dari biasanya”.
Hmmmmmmm.......satu tahun telah ku menunggu, lebih dari 90 menit perjalanan kami haruskah pulang tanpa melihat pemandangan indah disana, bukankah kami kesini untuk membuang beban pikiran yang akan dibayar oleh pemandangan cantik disana. Gumamku di dalam hati.
“Pak ada tempat rekomendasi lagi” pertanyaan dari perempuan polos yang jarang pergi liburan.
“Ada Danau”.
“Ku melempar pandang ke arah sahabatku”.
Tidak kami tidak bersahabat dengan matahari di danau, danau belum bisa jadi penawar setress mahasiswa tingkat akhir seperti kami.
“Apakah tidak ada tempat sejuk seperti pohon yang teduh” tanyaku lagi.
“Ada Pohon Pinus” jawab Pak Satpam.
“Terimakasih Pak”. Tuturku, sambil memundurkan langkah untuk melanjutkan perjalanan lagi bersama Kirana.
Aku mengandalkan aplikasi Maps dari gawai, yang berada di dalam tas kecil berkombinasi kain sasirangan. Inilah pertolongan pertama disaat kita bingung menanyakan jalan pada siapa. Sebelum ketujuan kami harus keluar dari sini, barulah menuju jalan penuh keramain. Pengemudi andalan masih kirana, aku pembaca maps penentu arah jalan, seluruh perjalanan kali ini disapa oleh pemandangan pohon-pohon nan rindang, teramat mensejukan disepanjang jalan raya, sangat sejuk, udaranya segar tak ada bau polusi yang menyengat padahal kendaraan terus berlalu lalang.
Pohon-pohon menjulang tinggi ke atas langit dihadapan kami, kami berhenti sesuai intruksi maps, tujuan telah sampai, yaitu Pohon Pinus. Kami tidak melihat gerbang tetutup seperti Kebun Raya, tempatnya terbuka perhentian awal tepat sekali kami melihat tukang parkir. Menanyakan berapa biaya masuk, katanya gratis hanya bayar parkir saja nanti. Memasuki area pohon pinus, sunyi awalnya seperti suasana kuburan, suara senyap, terdengar hanyalah suara burung bersahutan, setelah menengok ke arah kanan dan kiri, kami melihat beberapa pengunjung dari sepasang suami istri, sepasang pasangan muda yang baru menikah (mungkin ini hanya predeksiku) dan dua pasangan remaja, badan mereka kecil seperti pemain sinetron Jendela Smp.
Tempatnya lumayan luas, ada beberapa gazebo untuk merehatkan badan, ada penyewaan hammock yang bisa kita gantungkan antar pohon dijadikan sebagai ayunan. Kami menjelajahi diatas jalan hamparan batu bata, memperhatikan sekeliling, hingga berhenti di dekat warung kecil, kami beristirahat sejenak, aku menyukai suasanya seperti di dalam hutan namun sinyal 4G masih bisa dijangkau.
Dua pasangan remaja beralih tempat, setelah kami mendekati warung, mereka membiarkan ayunan dari pohon tinggi itu menganggur. Dari kejauhan mereka saling bercengkrama, bertukar pandangan dan berbagi keuwuan lainnya yang tak bisa disebutkan satu persatu. Mereka saling berpapasan mengerjakan tugas memegang kertas hvs lagi, tentu bukan kertas hvs yang membuat patah hatiku di depan gerbang Kebun Raya tadi.
Ayunan menganggur tadi sejenak kami mainkan, kirana memotretku, tidak lupa seni memotret blur andalannya akan selalu ada terisi di galeri ponsel ku. Sebagian hasil jepretannya bagus, cuman mukaku saja terlihat polos seperti remaja Smp. Kami saling berpapasan dan tertawa, menertawakan penderitaan mahasiswa tingkat akhir, teramat keras, bukan hanya merasa ketertinggalan, namun selalu bertanya apa saja sesuatu yang sudah kami dapatkan semasa kuliah, apa saja keterampilan aplikatif kami miliki, apakah semua pergulatan teori saja, sekarang masanya telah selesai, sudah berada digaris finis tinggal skripsi saja sebagai tiket terakhir untuk membuka pintu kehidupan yang sesungguhnya. Benar kata orang, kita di dewasakan oleh keadaan, keadaan sekarang menuntun kita untuk segera dewasa dan mandiri.
Kami main ayunan saling bersebrangan arah, ayunan membawa kami melepaskan kecemasan-kecemasan mengenai masa depan atau fase quarter life crisis. Jam menunjukan pukul 14:00 WITA, kami harus segera sholat, meninggalkan tempat teduh ini. Karena minimnya pengetahuanku tentang tempat wisata daerah ini, aku bermaksud mengajak kirana ke Bandara Internasional, hanya ingin melihat pesawat dari kejauhan. Seperti anak kecil memang permintaanku, kirana mengabulkan dia mempercayaiku sebagai pemandu arah di belakang. Tiba-tiba cuaca cerah menjadi mendung, berubah warna awan menghitam dan hujan, kami diguyur hujan deras, mencari tempat berteduh, tidak jauh dari tempat beberapa orang juga ikut berteduh di sebuah lahan parkir yang beratap, beberapa menit kemudian rintik hujan berhenti kami meneruskan perjalanan lengkap dengan jas hujan couple berwarna biru. Sesampainya di Bandara, aku sangat senang sekali, tentu tidak ada yang bisa membaca ekspresiku karena tertutup oleh masker medis. Walaupun wisata liburan tak sesuai ekspetasi, tapi banyak hal yang membuat mentalku lebih sehat dari pada berkutat sendirian di kamar memikirkan yang tidak-tidak tentang masa depan, aku lebih mengharagai jurih payah diriku sendiri dibandingkan pada hari biasanya memaki-maki akibat kecemasanku yang berlebihan. Untuk kamu mahasiswa tingkat akhir, liburan penting, rehat untuk menyegarkan pikirkan setelah pulih teruskan perjuangan.
“Perenungan Jiwa”
“Penderitaan mahasiswa tingkat akhir, teramat keras, bukan hanya merasa ketertinggalan, namun selalu bertanya apa saja sesuatu yang sudah kami dapatkan semasa kuliah, apa saja keterampilan aplikatif kami miliki, apakah semua pergulatan teori saja, sekarang masanya telah selesai.”