Terlahir kaya dari keluarga berada dan kamu memperoleh kekayaan dari hasil kerja kerasmu merupakan sebuah anugerah yang patut disyukuri. Kamu sekarang telah bisa menikmati hasilnya, namun bagaimana jika kita selalu berupaya mempublikasikan kekayaan yang kita miliki secara berlebihan di media sosial untuk sekedar bersenang-senang maupun membuat konten, apakah hal itu berbahaya?
Salah satu efek buruk dari media sosial seperti kisah ada seorang anak orang kaya yang menjadi korban Dopamin efek yang disebabkan oleh sosial media (candu perhatian, pujian di media sosial), tanpa disadari algoritma Instagram maupun Youtube akan mempengaruhinya untuk membikin konten lagi yang disukai banyak orang, yakni konten hedonisme.
Dirinya bermain sosial media, bikin konten untuk memperlihatkan kehidupannya yang eksklusif, serba ada dan tak pernah memiliki sedikitpun kekurangan uang.
Ketika ia mendapatkan like setelah mempublikasikan kontennya di media sosial, ia akan ketagihan membuat konten serupa (konten hedonisme) untuk mendapatkan lebih banyak like.
Dalam psikologi pada hakikatnya manusia memang menginginkan perhatian dan pengakuan, namun dengan membuat &
memperlihatkan konten kekayaan memiliki beberapa potensi buruk, yang perlu kita ketahui sebagai bahan pertimbangan.
1. Mengganggu kesehatan mental
Karena akan dituntut banyak hal, sesuai kebiasaan yang dipublikasikan.
2. Mengundang rasa insecure banyak orang.
Menonton konten-konten kekayaan mereka tidak membuat termotivasi melainkan malah membuat kita menjadi Anxiety (gelisah dengan nasib) dan kurang bersyukur.
3. Berpotensi sebagai target kriminal & tindakan kejahatan.
Kesenjangan sosial perekonomian di negara ini membuat tindakan kriminal masih tinggi, mereka mencari target orang kaya untuk dicuri hartanya.
4. Mengundang pertemanan palsu
Kedok pertemanan yang hanya di dasari mencintai harta saja & hanya berteman karena perlu. Inilah yang sangat sulit ketika orang kaya ingin memperoleh pertemanan yang tulus.
5. Tidak Produktif
Karena konten tersebut hanya hiburan yang belum bisa membawa dampak positif, konten tidak untuk ditiru penonton, karena apa yang dia mampu beli, di atas kenormalan belanja khalayak pada umumnya, tentu konten-konten ini tidak mendatangkan banyak manfaat.
6. Kehilangan Privasi.
Kekayaan merupakan bagian dari privasi, ketika privasi dipublikasikan akan mengundang rasa penasaran dan kekagumaman namun lebih jauh orang yang terlihat kaya, kehilangan sedikit privasinya.
Contoh : Artis kaya raya, selalu dijadikan tiruan mereka dituntut tampil menghibur dan terlihat sempurna, bentuk tubuh, harta, kisah percintaan dan perubahan fisik yang terlihat yang mereka ceritakan di ruang sosial media, menjadi perbincangan khalayak, sehingga mereka seakan di atur oleh penggemar karena kehilangan privasinya.
Mengenai kekayaan yang dipublikasikan di media sosial Presiden Xi Jin Ping pernah mencekal video yang beredar, di China karena baginya dapat mengurangi kebahagiaan rakyatnya.
Bagaimana sekarang apakah kamu sedang mikir-mikir buat konten, untuk meminimalisir dampak buruk yang terjadi atau mengabaikan saja, tentu hal itu keputusan mu. Ini hanya berupa opini dan penulispun sedang mempelajarinya.
Pertanyaan lain?
Bagaimana jika orang tersebut sebenarnya bukan kaya raya, tapi dirinya dituntut terlihat berkelas sesuai yang dirinya tampilkan pada hari-hari biasa di Media Sosial. Jika gengsi yang kita utamakan tentulah kita sendiri yang akan terbebani, karena hal demikian.
Terimakasih telah menjadi pembaca setia.
Silahkan berikan komentar anda untuk perbaikan penulis.
Penulis. : Wardah
Referensi: Quora
0 komentar:
Posting Komentar