Jumat, 11 September 2020

Potret Kehidupan Petani Kebun di Tamban, yang Tidak Banyak Orang Ketahui

 




Pada kali ini Wardah melakukan kegiatan KKN dengan para Mahasiswa UIN Antasari Banjaramasin yang berdomisi di Tamban, Fadhli, Zainal, Muthaharah dan Syifa, pada saat ini kami melakukan KKN ditengah Wabah Covid-19 sehingga pelaksanaan kegiatan yang boleh kami lakukan, hanya seputar kunjungan yang tidak boleh jauh dengan tempat tinggal. Kami pun berinisiatif melakukan kegiatan bersama, di  kecamatan Mekarsari Tamban Km 15. Salah satu dari sahabat kami, mengusulkan program kerja, mengunjungi warga di pendalaman, untuk mengetahui rutinitas penduduk sekitar disana. Bisa dikatakan daerah ini jauh dari keramaian, bahkan kami berlima harus menelusuri jalan yang sempit, untuk bisa sampai kesana, daerah ini berada ditengah hutan yang sangat lebat pepohonan yang dapat kami lihat disepanjang jalan.

 

 

Kami melakukan perjalanan yang memakan waktu cukup lama, jalannya  begitu sempit dalam keadaan jalan yang licin, berpasir putih yang membuat motor kami tidak leluasa untuk bergerak lebih cepat. Menuju kesana memakan waktu sekitar 30 menit lebih,mulai melewati jalan bebatuan besar, jalan yang begitu sempit hingga yang agak mendingan seperti di Foto, jalan berpasir putih walaupun terlihat sedikit genangan air.

Kehati-hatian dan kesabaran menghantarkan kami kepada pemandangan yang seumur hidup belum pernah kami lihat, kebun mereka sangat indah walaupun bisa dikatakan daerah mereka, tidak memiliki banyak penghuni, mereka yang menetap lama disini sebagian besar karena profesi mereka sebagai Petani Kebun, yang sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka yang tidak dapat dipisahkan.



Seorang Petani Kebun bernama Bapak Abdu Somad sudah lama bertempat tinggal di Desa ini, beliau dikaruni’i dua orang Putra dan satu orang Putri. Keluarga mereka terlihat sederhana namun bisa dikatakan memiliki fasilitas yang cukup lengkap walaupun jauh dari kerumunan manusia. Kehidupan sehari-hari mereka tidak jauh dari Perkebunan, bisa dilihat disamping rumah Pak Abdu Shomad, memiliki berbagai macam tanaman dari Nanas, Terong Pipit, Daun Sop, Jeruk dan Bawang Merah itu baru yang berada disamping rumah. Kata Bapak, beliau juga menanam banyak buah-buahan seperti Semangka,  Sirsak, Pepaya, Jambu dan lain-lain. Kami sangat terkejud karena seumur hidup, kami baru saja mengetahui ada Petani di Tamban yang menanam berbagai macam buah-buahan dan sayur-sayuran, karena setahu kami kebanyakan dari penduduk Tamban menanam buah Nanas. Selanjutnya, kami melakukan perjalanan kesalah satu Petani Muda bernama Syaifullah berusi 23 tahun, kami bertanya mengenai pendidikan dan pekerjaannya sekarang sebagai Pekebun.

Syaifullah merupakan seorang alumni dari sekolah Madrasah Aliyah atau setara dengan SMA, untuk bersekolah dirinya perlu melakukan perjalanan yang lumayan jauh dari Rumahnya untuk sampai ke Sekolah tentunya harus melewati jalan yang sempit dan terjal, dirinya telah lulus sekitar 3 tahun silam. Syaifullah sekarang bekerja membantu kedua orang tua berkebun Nanas dan beberapa sayur-sayuran lain, tidak jauh berbeda dengan Bapak Abdu Shomat disamping halaman rumah banyak tanaman hias, buah-buahan dan sayur-sayuran yang masih segar, walaupun berada jauh dari keramaian, syukurnya disini sudah ada listrik semenjak tahun 2007.



 Mata pencarian warga disini ialah bertani padi, yang menurut Syaifullah kalau di hitung-hitung lebih menguntungkan berkebun Nanas, karena panennya lebih sering dibanding Bertani Padi yang memakan waktu selama satu tahun sekali.

Syaifullah: Mata pencarian disini rata-rata bertani yang berkebun hanya sebagian, bagi kami yang berkebun Nanas, memiliki kelompok tani, Nanas juga seperti Padi harus ada pupuknya nah dengan kelompok tersebut, memudahkan kami untuk memperoleh pupuk.

Wardah    : Biasanya Nanasnya dijual kemana saja?

Syaifullah : Nanas ini dijual langsung, harganya perbiji 5000, yang menjual ada khusus orang yang kesini membeli buah Nanasnya untuk dijual kembali.

Fadli          : Biasanya Nanas ini, bisa dibuat apa saja, pengelolaanya?

Syaifullah  : Dulu sih pernah dibuat Dodol Nanas, yang membuatnya dari Ibu-ibu PKK setempat, namun belum sempat ramai di Pasarkan, bisa jadi karena kesibukan masing-masing, sekarang tidak dibuat apa-apa, kalau udah masak Nanas kami jual secara langsung, soalnya bisa membusuk jika ditahan tidak jual beberapa hari.

Wardah    : Memang tidak ada lagi nih niat untuk membuat varian makanan dari Nanas, kan Ikon yang menarik dari Tamban adalah Nanas, bahkan mungkin udah dua tahun ya kan, Tamban membuat Festival Nanas Raksasa di Kecamatan, Tamban Km 12. Kalau dikembangkan pembuatan makananya akan menjadi sesuatu yang lebih, terutama buat oleh-oleh kepada orang yang baru berkunjung ke Tamban.

Syaifullah  : nah ini mungkin permasalahnnya masih belum ada yang berniat mengembangkan pembuatan Nanas. Mungkin jika ada seperti kelompok Ibu PKK sebelumnya yang sempat membuat bisa saja ya begitulah karena kurang tertarik mereka lebih suka memperoleh uang secara langsung, dengan menjual nanasnya dari pada membuatnya jadi Selai ataupun Dodol.

Selanjutnya kami bertanya kepada Istri Pak Abdu Somad sebagai salah satu kelompok Ibu PKK mengatakan:  Kemarin kami membuat varian dodol dari Nanas, sayangnya belum terlalu bisa, jadi kami tidak menjualnya, untuk sekarang Ibu-ibu disini lagi bertani Padi jadi tidak membuatnya lagi.



Nah inilah hasil bincang-bincang kami dengan masyarakat jelapat 2, kecamatan Mekarsari Tamban. Bisa kita ketahui limpahan Nanas di Tamban namun pengelolaan nanas disini tidak melakukan perkembangan yang signifikan, para Petani Kebun hanya sekedar menanam, merawat yang selanjutnya mereka jual secara langsung melalui para pedagang. 2 Pekebun yang kami temui merupakan orang yang jarang dikenal, mereka bukan hanya berkebun Nanas tapi juga bermcam buah dan sayur. Hal ini membuktikan bahwa Tamban memiliki lahan yang subur untuk berbagai macam jenis tanaman.

Sesuatu yang sangat disayangkan para pekebun Nanas hanya sekedar menjual buahnya padahal jika dikembangkan makanan keberbagai varian dari Buah Nanas, akan menarik tentunya hal ini akan bernilai lebih dan akan memiliki nilai jual yang lebih tinggi dari pada menjual Buah Nanasnya saja.

Dukungan dan perhatian pemerintah daerah setempat sangat kita perlukan, agar sumber daya masyarakat Tamban dalam mengelola Nanas bisa mengalami perkembangan, tentunya akan berdampak positif untuk meningkatkan perekonomian masyarakat dan Kota kecil ini bisa dikenal oleh berbagai lapisan masyarakat. Sesuatu yang menakjubkan yang dimiliki ialah kekayaan alam dari Tamban tidak dapat diragukan terbukti dengan kehadiran para Pekebun yang memiliki lahan subur. Besar harapan kita semua, Kota Kecil ini makin maju dari secara pendidikan maupun perekonomian.





 

 

Lokasi: Tamban Raya, Mekarsari, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, Indonesia

0 komentar:

Posting Komentar