Bisa jalan-jalan dan makan enak dari hasil konten itu bonus. Tapi jujur, aku hampir saja memilih untuk berhenti Ngonten.
Bekerja di dunia pemasaran dan konten kreatif ternyata bukan cuma soal visual, tapi juga soal mental.
Aku pernah berada di satu titik terendah: dimaki di dalam ruangan, jari menunjuk tepat di depan muka, seolah semua kesalahan dunia ada di pundakku.
Sebagai freelancer, saat itu aku merasa benar-benar sendirian. Tidak ada yang membela.
Padahal, aku bukan pencuri, bukan pula pengemis. Aku hanya pekerja profesional yang menjalankan jobdesk—mengambil video, mengedit, dan berupaya menaikkan traffic pemasaran.
Saat kata-kata kasar itu menghujam hati, aku memilih membalasnya dengan senyuman. Namun, di atas sajadah, aku tumpahkan semuanya. Aku sebut namanya di hadapan Tuhan, mengadu bahwa hatiku tidak ikhlas diperlakukan melampaui batas.
Satu kalimat dari tahun 2025 yang takkan pernah hilang dari ingatan:
*Ikam ngomong apa, mengada-ada aku kadada meusir ikam".
Kalimat yang nyeletuk
"Kam tahulah anak aku yang menggaji ikam, kam bisa apa tanpa anak-ku, aku kada handak lagi melihat muha ikam"
Seketika aku sadar, benar kata orang: "Uang bisa mengubah cara bicara seseorang."
Rasanya ingin menyerah. Tapi profesionalitas menahan langkahku. Aku tetap menyelesaikan tugas sampai selesai karena aku berpikir:
"Mungkin aku yang dimaki, tapi jika konten ini berhasil, ada kesejahteraan karyawan lain yang terbantu."
Aku memilih bangkit. Rezeki datang dari pintu-pintu lain yang lebih menghargai manusia. Dari kejadian itu aku belajar satu hal besar: Jika suatu saat aku berada di posisi atas dan membuka lapangan kerja, aku harap aku tetap bisa menjaga lidah dan tidak merendahkan siapa pun.
Seperti pelajaran yang aku bawa dari pesantren:
بَلاَءُ الإِنْسَانِ مِنَ اللِّسَانِ
"Bencana manusia itu berasal dari lidahnya."
Semoga kita menjadi orang yang sukses secara materi, namun tetap rendah hati secara budi.