Selasa, 06 Juli 2021

Kisah Mawar Kuliah di Jurusan Tuhan di Kampus UDIN Universitas Dilematika Indie Nam.

         Perjalan Mawar berjalan mulus seperti Mahasiswa normal pada umumnya, namanya Mawar dia sering melempar tawa ceria hingga ide gila diluar nalar kepala ketika ikut nimrung bersama teman organisasinya, dia melaksankan kewajiban tugasnya sebagaimana layaknya Mahasiswa, tak pernah absen bolos karena pacaran, keluyuran atau malas karena kejenuhan dibangku perkuliahan. Sampai ketika dirinya menduduki semester akhir, atmosfer suasa seketika berubah apa yang dikatakan para seniornya, satu persatu menjadi pesan nyata. 

     Mawar kuliah di Jurusan Tuhan, Teknologi dan Hukum Alam di Kampus UDIN (Universitas Dilematikan Indie Nam).
Dia tak sempat mengira bahwa tugas akhir berbanding terbalik dengan teori penelitian ajaran pada semester sebelumnya, dengan Dosen Pembimbing yang berbeda semuanya dikatakan harus benar, terutama ketika mendapatkan Dosen Pembimbing yang ingin di Mahabenarkan, Mahasiswalah kena asapnya. Alih-alih jabatannya lebih tinggi dari Dosen Prodi, mati kutulah kita jadi Mahasiswa, sebelum jadi abu, teguh pendirian dan keberanian menyampaikan kebenaran bagi Mawar syarat mutlak yang tak boleh dilanggar, apapun gelarnya kita semua sama Manusia biasa yang tak luput dari salah. Jika ingin di dengar berkatalah tapi tak perlu arogansi, dengan berucap kalimat kasar, apalagi kalimat yang tak pantas didengarkan oleh perasaan, namun kalimat sarkas sering ditemukannya pada setiap hasil revisian bimbingan dengan Pak Saikoji, lebih tepatnya bukan dibimbing tapi dituntut kesempurnaan dengan metode keterpaksaan. 

   Definisi Dosen pembimbing tak sama seperti Mahasiswa lain yang dia rasakan Beberapa rekam jejak Mahasiswa bimbingan Pak Saikoji yang Mawar dapatkan banyak diantaranya memilih jalur berputus asa, putus asa adalah altenatif untuk mereka yang telah menemukan jalan ninja untuk menunda perasaan kecewa. Ini bukan solusi benar-benar bukan, ketika dia mendengar kumpulan cerita dari teman akrabnya. 

Kristina:“Tapi jadi sukses kalau dibimbingnya sampai selesai”. 
Mawar : “Bukankah definisi sukses setiap orang berbeda, sukses bukan berati semuanya punya jabatan tapi bagaimana jadi orang berguna di masyarakat bukan hanya berkutat di lembaran kertas apalagi berlumuran pada permasalahan teknisi”.
Kristina : “Iya benar juga, yang terpenting aku tak berada diposisi seperti kamu, tanyakan saja pada rumput yang bergoyang aku mana sanggup. Bukannya Angga juga satu bimbingan sama kamu Mawar”. Tanya Kristina. 
Mawar : “iya sama dia juga belum lulus dibawah satu tahun dari kita, benar-benar banyak yang gagal lulus tepat waktu. Kalau dilihat jalur koordinasi, tugas yang berfungsi mediasi atas permalahan mahasiswa seperti ini adalah Prodi atau Jurusan". Jawab Mawar.
Kristina: “Cuslah selesaikan, besok perkara ini, kamu emang mau menyembah kertas Skrispi karena urusannya seperti badai tak kunjung selesai, kalau boleh tau apa kata terakhir pesan pembimbingmu”
Mawar : “Seperti ini, kamu terlalu sering membuat kesalahan typo, teknisi penulisan bermasalah dan ini sangat menjengkelkan, kalau seperti ini terus, ganti Dosen Pembimbing sana”. Ini pesan pertama sudah dapat kartu kuning, selanjutnya yang kedua juga dibilang begitu dan dikatakan tulisanku ngeyel dan berkhayal. Habisalah sudah kalau main Bola udah dapat kartu merah dan harus keluar lapangan ini”. 
Kristina: “Kalimat yang bagus ganti Dosen Pembimbing saja.”
Mawar : “Kalimat yang di idamkan tapi gak bisa jamin jalannya mulusnya, lihat keesokan hari saja”.



   Mawar sudah tak dapat menghitung berapa banyak kesalahan ditambah setelah direvisi tidak menemukan progres memadai seperti tak ada perubahan, hingga Mawar berada diposisi terendah, tulisannya dihina kadang kala dianggap menjengkelkan, membosankan, menjenuhkan, tidak layak, tak pantas mendapatkan nilai bahkan nilai B sekalipun, entah berapa banyak kata sarkas yang dilontarkan, minim resolusi diberikan, sering terbesit dipikiran begitukah cara seorang akademisi memotivasi Mahasiswa bimbingan skripsinya, mengapa metode demikian tak pernah Mawar dapati pada Mahasiswa bimbingan Dosen lain. Mawar tak punya ambisi tulisannya diterbitkan di Jurnal Nasional, Internasional bahkan setingkat Jurnal Lokalpun. 

   Ambisinya sama seperti Mahasiswa normal kebanyakan, lulus untuk menuntaskan Kuliah, membanggakan orang tua dan menjadi orang berguna di masyarakat. Selama satu tahun, Mawar tak pernah mendapatkan motivasi yang mendorongnya mengerjakan tugas akhir selain kalimat sarkas, yang dilihatnya pada layar kolom chat. Kalimat sarkas itu seperti berisikan bawang, siapapun yang membacanya akan memedihkan mata. 
Jam terus berdetak waktu terus berlalu mengikis bukan hanya waktu tapi juga psikis, setelah dia dapati kabar dari Prodi, Mawar dimarahi habis-habisan, dirinya sangat menelan kecewa, Jurusan Tuhan (Teknologi dan Hukum Alam) yang dibanggakan dan perjuangkan malah menjatuhkan mental Mahasiswa secara gamplang, padahal Ibu Sarah Ketua Prodi dari latar belakang pendidikan Jurusan Psikologi, sudah mendalami hingga belasan tahun prihal kejiwaan manusia, namun malah menjatuhkan mental mahasiswanya sendiri. Mahasiswa memang masih pelajar suatu kewajaran jika belum benar, namun apakah salah jika mereka mengkisahkan kisah yang benar dialami malah diserang seolah tak ingin di dengar.

  Mawar berani mengatakan hal yang sebenarnya dirinya ratapi, bukan minta kasihani tapi ingin membuka mata kesadaran bahwa Mahasiswa tingkat akhir sekarang tidak baik-baik saja, selain mereka berada pada titik krisis karena serba keterbatasan konsultasi, ditambah orang tua bekerja dimasa pandemi yang sedang menuju proses pemulihan ekonomi, keadaan ini benar-benar ingin menyusahkan Mahasiswa yang sudah bersusah payah.

 Kali itu kesekian kalinya Mawar memperbaiki tulisannya, teknisi kepenulisan terdahulu, salah satu kesalahan subtansi yang harus diperbaiki. Hari itu dia bersama kawannya akan berkunjung ke Perpustakaan Kampus, sebab disana memiliki banyak referensi tepatnya di lantai dua. Ratusan Skripsi berjejer sebagai referensi. Biasanya di lantai dua dihuni oleh puluhan Mahasiswa tingkat akhir yang ingin melahap habis karya para Alumni agar bisa mengikuti rekam jejak mereka, konon katanya skripsi yang berada di Rak Perpustakaan Universitas merupakan kumpulan skripsi Mahasiswa berkualitas.  

  Diantara ratusan skrispi beberapa diantaranya tulisan para Dosen, sewaktu menjadi Mahasiswa di Kampus UDIN. Mawar menggenggam satu karya tulis Dosen Muda bernama Pak Ali, pada lembarannya bertanda tangan Mahasiswa bimbingan Pak Saikoji, sebagai Dosen Muda memiliki banyak prestasi dalam bidang akademisi, rupanya Mawar tak salah pilih, skripsi ini pantas dijadikam petunjuk untuk referensi tulisannya, Mawar pergi dan berpamitan dengan temannya, setelah dirinya mengambil beberapa jepretan pada bagian penting dari skripsi tersebut. Sesampainya dirumah dia perbaiki, dari koreksi dia sampaikan beberapa bagian diantara kesalahan tulisanya tidak ada tertera dalam petunjuk buku pedoman Fakultas.

    Mawar rasanya terombang-ambing siapa yang bisa dijadikan petunjuk setelah beberapa hari mendapatkan balasan, bahwa acuan penulisan teknisi menyerupai skripsi seperti Pak Ali yang ia ikuti tersebut, belum benar. Kalau belum benar, mengapa Pak Ali sewaktu Mahasiswa dapat diluluskan dan mendapatkan tanda tangan Pak Saikoji sewaktu menjadi pembimbingnya. 

 Jika referensi dari Mahasiswa bimbingannya saja yang sekarang menjadi Dosen Muda disalahkan, lalu pedoman acuan di Fakultas juga tidak digunakan, lalu yang mana pembenaran yang Pak Saikoji impikan. Jika acuan baku tidak ada, artinya tidak mengikuti aturan tata tertib Fakultas seharusnya bisa disepakati kedua belah pihak, namun kenapa Mawar disalahkan. Pak saikoji meminta Mawar membaca buku pedoman skripsi lagi, sudah bolak balik dirinya perhatikan, memang belum ada tertera di buku pedoman tentang penulisan penelitian terdahulu, bahkan Mawar meminjam kedua mata teman-temannya untuk ikut serta membantunya.

   Makin runyam seperti sayur asam tanpa garam, rasanya hambar dalam kebingungan selama satu tahun setelah menyelesaikan seminar proposal, mengerjakan pengabdian masyarakat Mawar belum mendapatkan progres, berbagai cara konsultasi yang variatif, Ibu Sarah memfasilitasi untuk mencetak skripsi, maka bentuk cetaklah yang akan di periksa Pak Saikoji. Selama dua minggu Mawar menunggu akhirnya mendapatkan balasan, pada bab I, bukan koreksi pengembalian dalam bentuk cetak tapi balasan dalam bentuk word, sama saja seperti konsultasi jarak jauh rupanya. Mawar sedih, tapi bagaimanapun Mahasiswa akan selalu disalahkan jadi percuma saja mengeluh.
Bukan hanya jalan yang buntu, begitu juga isi kepala, Mawar kembali lagi dipanggil tapi bukan tatap virtual, melainkan tatap muka untuk menemui Ibu Latifah ke Jurusan. Dirinya ditanya apa permasalahn Mawar, Mawar bercerita apa adanya tanpa mengada-ngada, Ibu Latifah seperti Dosen Konseling, dirinya berusaha memecahkan masalah, tapi tak semudah kawan-kawan seperti sim salabim, cukup lama menguras pikiran dan tenaga, permasalahan ini akan menumpuk menjadi pekerjaan barunya. Pak saikoji memasuki ruangan menyebutkan kebenaran menurut persepsinya, kesalahan fatal kepenulisan skripsi Mawar, memberikan gambaran serta bandingan etos belajar Mahasiswa luar Provinsi dan luar negeri, jauh sekali harapan Pak Saikoji, Mawar tak bisa menangkap imajinasi tersebut karena dia benar-benar berada di fase kehambaran, dia maju dan berani bicara karena ingat orang tua, ingin menyelesaikan perkara bahwa mentalnya benar-benar tak sanggup lagi dibimbing, memang Pak Saikoji bukan dari latar belakang psikologi atau komunikasi, kritis yang sarkas adalah bahasa adalan komunikasinya, siapaun mahasiswanya siap-siap perkataanya menusuk sukma.

  Bukankah mengganti pembimbing jalan keluar altenatif, mengapa Ibu Latifah merasa keberatan, padahal beberapa hari lalu Fiki Naki, dengan sekejap mendapatkan ganti pembimbing oleh Ibu Sarah, tanpa panjang betul prosedurnya seperti Mawar, yang harus ekstra konseling dahulu dengan Ibu Latifah, mungkinkah karena rasa hormatnya pada Pak Saikoji yang memiliki jabatan tinggi dan Mahasiswa seperti Mawar hanya bagian dari orang yang akan terlupakan. Maha benar atas segala kekuasaan, begitu rupanya yang membuat seseorang akan selalu mengiyakan sekalipun perkataan itu memiliki kesalahan. Mawar disalahkan jika menjadikan skripsi Pak Ali sebagai referensi atau panutan, karena skrpisi hanya pajangan.

   Ibu latifah mengiyakan bahwa kekayaan intelektual Mahasiswa berupa Skripsi hanyalah pajangan semata, lalu bagaimana dengan tradisi Mahasiswa dan pelayanan dari Perpustakaan Universitas yang memang memfungsikannya Skripsi sebagai acuan referensi Mahasiswa Jurusan, supaya tidak buta dan gelagapan, hanya karena Pak Saikoji yang mengucapkan, Ibu Latifah ikut mengangguk dan mengiyakan. Miris mendengar, Kristina yang mendengarkan disamping Mawar, ikut menelan kecewanya. “Lalu untuk apa Mahasiswa mengerjakan Skrpisi jika hanya jadi pajangan” gumam Kristina dalam hati.

  Alangkah bijaknya jika pengajar di Perguruan Tinggi yang mengidamkan Karya Tulis sempurna sembari mengevaluasi teknik terbaik dari metode bimbingannya. Jika dominan yang terdapat masih menunjukan Mahasiswa lebih banyak tak mengerti, barangkali ini suatu kemunduran belum efektifnya cara pengajaran, bukan malah menghina-hina tulisan Mahasiswa, karena Mahasiswa bukan robot yang memiliki kecerdasan buatan setelah disuntikan program, selain punya otak mereka juga punya mental, baik dan buruknya akan berefek jera dimasa mendatang, mulianya seorang pengajar untuk mencerdaskan Mahasiswanya bukan meneror menuntut sempurna hingga Mahasiswa menelan kecewa.





 














Continue reading Kisah Mawar Kuliah di Jurusan Tuhan di Kampus UDIN Universitas Dilematika Indie Nam.