Minggu, 05 April 2020

5 Cara Mengajarkan Sikap Anti Korupsi pada Anak melalui Pendidikan Aqidah Akhlak


Pendidikan merupakan garda terdepan untuk mencegah perbuatan anti korupsi, karena seorang anak pertama kali menjadikan taudalan pada orang yang berada di lingkungan sekitar mereka, namun pendidikan jangan hanya dipersempitkan pada bangku sekolah saja. Karena pendidikan juga merupakan bagian dari tugas keluarga; Ayah dan Ibu  memiliki peranan penting dalam mengajarkan sikap anti Korupsi pada anak sejak dini.
Perilaku anti korupsi di dalam Aqidah Akhlak dapat dicegah dengan menanamkan nilai-nilai kejujuran, sebab buah dari kejujuran adalah sebuah kemulian. Jika seseorang selalu menerapkan sikap jujur di dalam kehidupannya maka akan banyak orang yang mempercayai dirinya. Untuk memberikan pemahaman yang mudah dicerna kepada seorang anak, maka diperlukan penanaman nilai-nilai sikap anti korupsi dengan memberikan pemahan sikap kejujuran dengan prakteknya,  sehingga sikap ini nantinya dapat  tertanam pada jiwa  seorang anak. Diharapkan pembiasaan-pembiasaan yang ditanamkan bukan hanya pembiasaan yang dapat berubah seketika saat usianya beranjak dewasa namun sikap ini nantinya mampu diamalkan seorang anak selama hidupnya.

5 Cara Pengajarkan Sikap Anti Korupsi pada Anak antara lain:


1. Menanamkan Sikap Siddiq atau jujur dalam perkataan maupun perbuatan dengan selalu mengevaluasi apa yang telah dilakukannya.

2. Memperhatikan teman bermainnya. Jika teman bermainnya suka berbohong maka sebisa mungkin agar seorang anak jarang atau mungkin tidak berteman akrab lagi dengan teman bermainnya tersebut.

3. Berikan dia tanggung jawab yang kecil seperti membeli sesuatu ke Warung tanpa mengizinkan membelanjakan uang sisanya.

4. Tidak menyontek saat diberikan tugas di Sekolah, hal ini dapat ditanyakan pada gurunya maupun langsung pada seorang anak. Kebiasaan menyontek ini umumnya dilakukan seorang anak karena dia lupa mengerjakan PR di Rumah, selain itu juga bisa dikarenakan seorang anak sulit memahami tugas yang diberikan oleh Guru dan dia enggan bertanya pada orang tuanya. Maka hal yang paling wajib orang tua perhatikan adalah membuka ruang keterbukaan pada anak dengan menjalin komunikasi yang baik.

5. Tanamkan pada diri seorang anak bahwa kejujuran bukan hanya nilai etika yang diajarkan oleh manusia namun juga merupakan perilaku terpuji yang diajarkan oleh agama dan mendapatkan balasan dari Tuhan. Seorang yang jujur akan diberikan pahala dengan balasan mendapatkan surga sedangkan perilaku tidak jujur mendapatkan dosa yang dapat mengantarkan umar manusia masuk kedalam negara. Dua tempat tersebutlah sebaik-baik balasan atas perbuatan yang telah dilakukan.

Mengajarkan 5 sikap kejujuran diatas merupakan pencegahan untuk menghindari sikap anti korupsi sejak dini, pendiikan ini teramat penting guna mencetak generasi emas yang berkualitas dan nantinya mampu menjadi tokoh-tokoh masyarakat yang bermanfaat bagi bangsa, agama dan negara.






Continue reading 5 Cara Mengajarkan Sikap Anti Korupsi pada Anak melalui Pendidikan Aqidah Akhlak

Hubungan Perilaku Konsumtif Manusia Modern dengan Covid-19, Perspektif Filsafat




Munculnya perilaku hedonisme pada generasi millenial memiliki dampak negatif, salah satunya seseorang cenderung kurang memiliki rasa empati terhadap lingkungan sosial dan berperilaku egois dengan berusaha mencari kesenangan dunia.  Perilaku hedonisme muncul sejak awal kedatangan filsafat, menurut pandangan filsuf Yunani Socrates, lahirnya hedonisme hanya untuk mendeskripsikan esensi dari eksistensial manusia di bumi ini, namun pada masa kini perilaku hedonisme diidentikan dengan perilaku manusia yang haus akan  mencari kesenangan sehingga menghasilkan perilaku konsumtif. Konsumtif merupakan salah satu perilaku konsumsi manusia dengan tingkat ketidaknormalan, terutama dalam berbelanja makanan. Biasanya jenis makanan yang lahir dari pasar bebas membentuk gaya masyarakat yang konsumtif pada semua jenis kuliner yang disajikan. Dengan menyantap hidangan yang tidak biasa, seseorang biasanya baru bisa disebut memiliki gaya hidup. Seperti yang telah diketahui bahwa Wuhan salah satu Kota di China,  memiliki kebiasaan konsumsi tinggi  pada jenis hidangan daging hewan hidup yang tidak mereka masak. Sebagaian besar alasannya ialah “Orang berpikir, makanan lebih bernutrisi apabila menyantapnya saat masih hidup dan fresh”, kata Spesialis Policy China di Humane Society International Peter li” (liputan6).  Kebiasaan mengkonsumi kuliner sebenarnya tidak langsung dikatakan konsumtif, namun ketika seseorang membeli makanan berlebihan serta berulang-ulang barulah bisa dikatakan konsumtif, terutama jika makanan tersebut sebenanrnya tidak terlalu diperlukan. Sejauh ini diketahui bahwa perilaku konsumsi tersebut sangat membawa dampak negatif, salah satunya medatangkan penyakit baru.

Seperti yang diketahui Pasar Kuliner di Wuhan kota Provinsi Hubei yaitu China telah mengabarkan bahwa dari Kota mereka mendatangkan sebuah virus menular bernama Covid-19 atau Virus Corona. Virus ini merupakan penyakit yang dapat menginfeksi burung, mamalia dan manusia. Data yang diketahui bahwa Virus ini tumbuh  akibat dari selera kuliner mereka yang tinggi dengan menyukai santapan daging yang tidak di masak. Pastinya dari wabah penyakit ini dapat memberikan kita sebuah pelajaran, bahwa perilaku konsumtif manusia dapat membawa kepada sisi gelapnya yang penuh kerasukan. Bukan hanya itu, perilaku konsumtif mampu menurunkan derajat manusia dan menjadikannya sebagai makhluk egois yang rakus dan agresif pada sesama, hal ini diungkapkan oleh Herbert Marcuse, Filsuf Jerman.


Pada akhirnya semua orang memang ingin mendapatkan kebahagian namun perilaku konsumtif tidak akan memberikan kebahagian yang sempurna, bahkan kebiasaan dari perilaku tersebut dapat mendatangkan kerugian yang besar. Bagaimana jika perilaku konsumtif dilakukan secara besar-besaran, maka semakin banyak pula mendatangkan efek negatifnya, jangan sampai kita mengambil tindakan yang dapat mendatangkan kerugian.
Maka sudah sepatutnya manusia modern dapat mengendalikan diri serta mampu bijaksana dalam mengambil keputusan terutama dalam berbelaja makanan.

Continue reading Hubungan Perilaku Konsumtif Manusia Modern dengan Covid-19, Perspektif Filsafat